Gubernur NTT Borong Produk Rp 10,8 Juta, Dukung Wirausaha Siswa SMKN 1 Kefamenanu | NTT Pride
![]() |
| Gubernur NTT memborong langsung berbagai produk unggulan siswa SMKN 1 Kefamenanu. Foto: Idin |
Produk yang dibeli mencakup mesin pencacah pakaian ternak senilai Rp 3,5 juta, alat jemur pakaian Rp 600.000, alat tenun Rp 1,250.000 juta, hingga kompor dari oli bekas Rp 500.000. Sedangkan produk makan, minum dan tenun Rp 5.000.000 total yang dibelanjakan Gubenrur NTT Rp 10.800.000.
“Tidak ada perubahan di suatu daerah atau bangsa kecuali dia sendiri yang mengubah nasibnya. Spirit gotong royong Bung Karno harus menjadi dasar pembangunan kita. Demokrasi politik sudah berjalan, kini saatnya demokrasi ekonomi agar rakyat menikmati hasil produksi daerahnya,” kata Gubernur Melki Lena.
Gubernur menekankan pentingnya wirausaha di kalangan generasi muda. Setiap sekolah diminta memiliki minimal satu produk unggulan untuk dipasarkan melalui NTT Mart dan platform online. Program ini bertujuan membuka lapangan kerja, memperluas ekonomi kerakyatan, dan mengurangi ketergantungan pada produk dari luar NTT.
“Ini momentum untuk menggeser paradigma NTT bukan hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen. Anak-anak muda harus belajar berwirausaha dan mempraktikkan langsung di sekolah,” ujarnya.
NTT Mart juga menjadi sarana edukasi kewirausahaan bagi siswa, guru, dan kepala sekolah. Melalui praktik nyata, siswa belajar mengelola bisnis mulai dari produksi, pengelolaan kualitas, hingga pemasaran. Program ini mendorong kerja sama antara sekolah, industri, dan perbankan untuk mendukung modal usaha siswa.
Peresmian NTT Mart di SMKN 1 Kefamenanu menandai langkah konkret pemerintah provinsi dalam membangun ekonomi kerakyatan, memperkuat demokrasi ekonomi, dan menyiapkan generasi muda NTT sebagai pengusaha, bukan sekadar PNS atau pekerja pasif.
“Dengan bersama-sama, kita bisa maju. Tidak ada daerah atau bangsa yang maju tanpa membuka dunia usaha secara luas. Anak-anak muda NTT harus siap menjadi pengusaha, bukan hanya PNS,” tutup Gubernur.
Wakil Bupati TTU Kamillus Elu menyatakan, SMK harus menghasilkan lulusan yang siap bekerja, bukan sekadar mencari pekerjaan.
“SMK dipersiapkan untuk kerja, bukan sekadar kuliah. Profesi utama siswa harus jelas, pekerjaan lain boleh sampingan. Kehadiran NTT Mart bukan sekadar toko, tapi laboratorium kewirausahaan yang nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah kejuruan harus menyiapkan siswa menjadi tenaga profesional. Dengan NTT Mart, siswa dapat belajar bisnis nyata, menghitung kas, memasarkan produk, dan memahami ekosistem bisnis. Pemerintah daerah siap mendukung penuh agar program ini berkelanjutan.
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo menekankan, keberhasilan NTT Mart bergantung pada kesinambungan program.
“Yang lebih penting daripada peresmian hari ini adalah memastikan NTT Mart terus berjalan. Setiap orang yang mencari produk SMA, SMK, atau SLB harus tahu ada tempatnya di SMK Negeri 1 Kefamenanu. Ini laboratorium nyata untuk melatih kewirausahaan siswa,” ujarnya.
Ambrosius menambahkan, NTT Mart bukan sekadar toko fisik, tetapi menjadi tempat belajar kewirausahaan yang melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah, industri, hingga perbankan.
“Kepercayaan masyarakat dan sekolah harus dijaga agar program ini memberikan dampak jangka panjang bagi ekonomi lokal,” katanya.
SMKN 1 Kefamenanu memiliki delapan konsentrasi keahlian teknik:
1. Teknik konstruksi dan perumahan
2. Desain pemodelan dan informasi bangunan
3. Teknik kendaraan ringan
4. Teknik sepeda motor
5. Teknik audio-video
6. Teknik instalasi tenaga listrik
7. Teknik komputer dan jaringan
8. Desain produksi busana
Sekolah ini memiliki 87 tenaga pendidik, 13 tenaga kependidikan, dan 1.187 siswa. Dengan adanya NTT Mart, sekolah menjadi sarana belajar kewirausahaan yang nyata, di mana siswa memahami ekosistem bisnis, menghitung kas masuk dan keluar, serta memasarkan produk unggulan.
Editor: Ocep Purek
