News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dikukuhkan Jadi Ibunda Guru NTT, Asti Laka Lena Soroti Kesejahteraan Guru dan Mutu Pendidikan

Dikukuhkan Jadi Ibunda Guru NTT, Asti Laka Lena Soroti Kesejahteraan Guru dan Mutu Pendidikan

Kupang, NTTPride.com - Istri Gubernur NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, langsung menyoroti rendahnya capaian pendidikan Nusa Tenggara Timur usai dikukuhkan sebagai Ibunda Guru NTT di Aula El Tari Kupang, Jumat (29/5/2026). Dalam pernyataan perdananya setelah menerima amanah tersebut, ia menegaskan bahwa posisi NTT yang berada di peringkat 36 dari 38 provinsi dalam hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD dan SMP nasional harus menjadi alarm bersama untuk mempercepat perbaikan mutu pendidikan.

Pengukuhan Mindriyati Astiningsih Laka Lena sebagai Ibunda Guru NTT dilakukan Ketua PGRI NTT Samuel Haning yang mewakili Ketua Umum PGRI, disaksikan Gubernur NTT, Bupati Kupang, Rektor UPG 1945, serta jajaran organisasi profesi guru.

Alih-alih menjadikan pengukuhan sebagai seremoni semata, Asti Laka Lena menegaskan amanah tersebut membawa tanggung jawab moral untuk memperjuangkan pendidikan yang lebih berkualitas, berkarakter, inklusif, dan mampu meningkatkan daya saing anak-anak NTT.

NTT berada di urutan ke-36 dari 38 provinsi berdasarkan hasil rata-rata nilai TKA SD dan SMP yang baru dirilis. Ini tentu menjadi keprihatinan bersama. Tetapi keprihatinan ini tidak bisa berhenti sebagai keprihatinan semata. Ini harus menjadi cambuk bagi kita semua untuk meningkatkan mutu pendidikan,” kata Asti.

Ia mengatakan tantangan pendidikan di NTT terlalu besar jika hanya dibebankan kepada pemerintah atau sekolah. Karena itu, ia mendorong kolaborasi seluruh pihak mulai dari akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, hingga media.

Kalau bicara pendidikan, ini kerja bersama. Kita ingin memastikan pendidikan di NTT semakin maju dan semakin jaya,” ujarnya.

Menurut Asti Laka Lena, keterbatasan yang masih dihadapi NTT tidak boleh menjadi alasan stagnasi. Sebaliknya, kondisi tersebut perlu dijawab dengan kreativitas dan inovasi baru.

Banyak PR dan banyak keterbatasan. Tetapi saya yakin justru dalam keterbatasan itu sering muncul kreativitas dan inovasi. Ide-ide baru ini yang harus kita gali dan kolaborasikan,” katanya.

Dalam pidatonya, Asti Laka Lena memberi perhatian khusus pada kualitas guru yang disebutnya sebagai faktor paling menentukan dalam membangun pendidikan bermutu. Ia menilai peningkatan kompetensi dan kapasitas tenaga pendidik harus menjadi prioritas.

Bagaimana kita bisa menciptakan pendidikan yang bermutu tentu harus diawali dengan guru yang baik dan berkualitas. Karena itu peningkatan kapasitas dan kualifikasi guru harus kita dorong,” ujarnya.

Selain kompetensi, ia juga menyoroti kesejahteraan guru yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar. Menurut dia, tuntutan profesionalisme guru perlu diimbangi dengan jaminan kesejahteraan yang layak.

Guru memang mendidik bukan semata bicara materi, tetapi tentang hati yang mau mengajar dan mendidik. Namun realita sekarang harus dibarengi kesejahteraan yang layak supaya mereka bisa bekerja profesional, meningkatkan kapasitas diri, tanpa harus pontang-panting memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Asti Laka Lena menegaskan, perannya sebagai Ibunda Guru tidak akan berhenti pada fungsi simbolik. Ia bahkan berencana membentuk kelompok kerja (Pokja) khusus agar program dan intervensi yang dilakukan memiliki arah yang jelas.

Saya tidak ingin peran bunda guru hanya menjadi simbol atau figur yang hadir dalam acara-acara seremonial. Harus ada kerja nyata yang dilakukan. Karena itu saya berencana membentuk Pokja Bunda Guru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pola kerja berbasis ekosistem akan menjadi pendekatan yang digunakan, serupa dengan upaya peningkatan literasi yang melibatkan banyak pihak di luar pemerintah.

Kalau bicara pendidikan, pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Sekolah tidak bisa sendiri. Harus ada komunitas, organisasi, keluarga, media, dan seluruh stakeholder yang bergerak bersama,” katanya.

Asti Laka Lena juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan yang humanis dan inklusif di tengah perkembangan teknologi dan era digital. Menurut dia, anak-anak NTT harus mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang dan memiliki daya saing.

Anak-anak NTT harus memperoleh pendidikan yang layak dan memiliki daya saing di era digital. Kita ingin menghasilkan generasi yang siap menjadi penerus bangsa,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan peran perempuan pendidik melalui organisasi perempuan PGRI agar dapat bertumbuh menjadi individu yang mandiri, berdedikasi, bertanggung jawab, serta tetap mencintai budaya lokal.

Pada akhirnya, Asti Laka Lena berharap momentum pengukuhan tersebut menjadi titik awal penguatan kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi guru, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan untuk mengejar target pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Saya membuka diri untuk setiap kolaborasi, kreativitas, inovasi, dan kerja sama. Karena tujuan kita sama, meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas SDM anak-anak NTT,” tutupnya.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.