Ratu Wula: Empat Bupati Satukan Arah, Sumba Disiapkan Jadi “Masa Depan” Pariwisata NTT
![]() |
| Sambutan Bupati Sumba Barat Daya Ratu Wula dalam Perayaan Syukur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 Ikatan Keluarga Asal Sumba (IKAS) Kupang. Foto: Ocep Purek |
Pernyataan tersebut disampaikan Ratu Wula saat menghadiri Perayaan Syukur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 Ikatan Keluarga Asal Sumba (IKAS) Kupang yang digelar di Gedung Gereja GMIT Paulus Kupang, Sabtu (10/1/2026).
Ratu Wula menyampaikan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen menjaga persatuan dan solidaritas masyarakat Sumba, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan.
Ia juga menjelaskan keterlambatannya menghadiri acara karena baru tiba dari Kota Malang, Jawa Timur, setelah mengikuti kegiatan pelayanan Natal bersama Forum Pemuda Nusa Tenggara Timur.
Menurut Ratu Wula, kunjungannya ke Malang juga berkaitan dengan kepedulian pemerintah daerah terhadap mahasiswa asal Sumba, menyusul adanya insiden yang melibatkan anak-anak Sumba dari Sumba Barat dan Sumba Barat Daya beberapa waktu lalu.
“Saya datang ke Malang sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab untuk memberikan motivasi kepada anak-anak dan saudara-saudara kita yang sedang menempuh pendidikan di sana,” ujar Ratu Wula.
Dalam kesempatan tersebut, Ratu Wula menekankan pentingnya perayaan Natal sebagai momentum memperkokoh persatuan, persaudaraan, dan solidaritas masyarakat Sumba yang berdomisili di Kota Kupang.
“Semoga melalui perayaan Natal ini, persatuan, kekerabatan, dan solidaritas kita sebagai masyarakat Sumba di Kupang semakin kuat,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar keberadaan masyarakat Sumba di Kota Kupang tidak bersifat pasif, melainkan mampu memberikan dampak positif bagi daerah tempat tinggal mereka.
“Kehadiran kita tidak sekadar ada, tetapi harus berdampak. Ada pepatah yang mengatakan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Orang Sumba di Kupang harus memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Kota Kupang dan Provinsi NTT,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ratu Wula memaparkan arah kebijakan pembangunan di daratan Sumba. Ia menyebut, para bupati di empat kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya telah membangun komitmen bersama untuk mengembangkan Sumba secara utuh, tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
“Kami empat bupati sudah beberapa kali bertemu, termasuk pertemuan yang diinisiasi oleh Gubernur NTT. Kami sepakat membangun Sumba secara bersama, dengan visi dan komitmen yang sama,” jelasnya.
Khusus di Kabupaten Sumba Barat Daya, Ratu Wula menyatakan pemerintah daerah tengah fokus melakukan percepatan dan akselerasi pembangunan. Ia menyebutkan bahwa potensi utama daerah terletak pada sektor pariwisata, pertanian, dan perkebunan.
“Dua sektor utama yang kami kelola secara serius adalah pariwisata serta pertanian dan perkebunan. Potensi ini harus dikelola dengan baik agar berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ratu Wula menegaskan, sektor pariwisata menjadi perhatian khusus karena memiliki daya ungkit besar bagi pembangunan daerah. Ia menilai Sumba memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi unggulan nasional maupun internasional.
“Saya selalu mengatakan, Bali adalah masa lalu, Labuan Bajo adalah masa kini, dan Sumba adalah masa depan. Tetapi masa depan itu harus kita siapkan sejak dini,” kata Ratu Wula.
Ia mengungkapkan, meskipun masa kepemimpinannya baru berjalan sekitar 10 bulan, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya telah menyiapkan master plan pembangunan pariwisata sebagai dasar perencanaan jangka panjang. Master plan tersebut menjadi pedoman dalam pengembangan kawasan pariwisata agar terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
“Kami sudah menyiapkan master plan pengembangan pariwisata. Ini penting agar pembangunan tidak sporadis, tetapi terencana dan berdampak,” jelasnya.
Acara Perayaan Syukur Natal dan Tahun Baru IKAS Kupang tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi NTT Fraksi Golkar Anto Mahemba, Anggota DPRD NTT Fraksi PSI Debora, Bupati Kupang Yoseph Lede, Anggota DPR RI Kristin Samiyati, Ketua Umum IKAS Eduard Gana, serta para tokoh adat se-daratan Sumba.
Editor: Ocep Purek
