Gubernur NTT Jalan Kaki ke Kantor: Sinyal Efisiensi dan Lepas Ketergantungan Mobil Dinas | NTT Pride
![]() |
| Momen Gubernur NTT Melki Laka Lena berjalan kaki ke kantor gubernur. Foto: Ocep Purek |
Dengan jarak sekitar 1 hingga 1,5 kilometer, Melki berjalan di bawah terik matahari siang tanpa pengawalan kendaraan dinas. Ia tampak santai, sesekali memperhatikan arus kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas, sekaligus menikmati suasana kota.
Di sela perjalanan, Melki menegaskan bahwa aktivitas sederhana tersebut bukan sekadar pilihan spontan, tetapi bagian dari upaya menjaga kesehatan di tengah padatnya agenda sebagai kepala daerah.
“Bagus juga ini kita jalan kaki begini untuk olahraga kesehatan. Kalau bisa 2 atau 3 kali dalam seminggu, bagus itu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa menjaga kebugaran tidak harus menunggu waktu khusus.
“Olahraga penting untuk kesehatan walaupun di siang hari,” lanjutnya.
Langkah ini sekaligus menjadi pesan bahwa mobilitas pejabat tidak harus selalu bergantung pada kendaraan dinas. Dalam konteks yang lebih luas, aksi tersebut mencerminkan upaya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM), yang belakangan ikut terdampak dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik internasional.
Secara kebijakan, Pemerintah Provinsi NTT sendiri telah mengambil langkah konkret penghematan energi melalui penerapan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap hari Jumat, yang mulai diberlakukan sejak 10 April 2026. Kebijakan ini mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri sebagai bagian dari strategi pengendalian konsumsi BBM di daerah.
Di luar aspek kebijakan, aksi berjalan kaki tersebut juga mengandung pesan kepemimpinan yang lebih humanis. Melki memperlihatkan bahwa menjadi pemimpin tidak selalu harus terikat pada simbol formal dan fasilitas, tetapi juga bisa hadir melalui tindakan sederhana yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Ia menyadari bahwa langkah tersebut bisa saja dipersepsikan beragam oleh publik. Namun, baginya, yang terpenting adalah memberi contoh nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil.
Aksi ini juga menjadi isyarat kepada jajaran birokrasi bahwa bekerja tidak selalu identik dengan penggunaan fasilitas negara secara maksimal, melainkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi.
Meski tidak dilakukan setiap hari, kebiasaan seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi, tidak hanya bagi pejabat, tetapi juga masyarakat luas, bahwa menjaga kesehatan, berhemat energi, dan menjalani hidup secara sederhana adalah bagian dari tanggung jawab bersama.
Di tengah rutinitas pemerintahan yang padat dan tuntutan kerja yang tinggi, langkah kaki Gubernur Melki di siang hari itu menjadi simbol kecil, namun bermakna bahwa kepemimpinan bisa hadir lebih dekat, lebih sederhana, dan tetap berdampak.
Editor: Ocep Purek
