News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

3 Guru Besar Dikukuhkan, Gubernur Melki Minta Kampus Turun Selesaikan Masalah Nyata NTT

3 Guru Besar Dikukuhkan, Gubernur Melki Minta Kampus Turun Selesaikan Masalah Nyata NTT

 

Gubernur NTT Melki Laka Lena pengukuhan tiga guru besar Universitas Nusa Cendana (Undana). Foto: Idin
Kupang, NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pentingnya peran kampus sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjawab persoalan riil daerah, mulai dari penataan ruang, reformasi kebijakan kesehatan, hingga pengembangan energi terbarukan, saat menghadiri pengukuhan tiga guru besar Universitas Nusa Cendana (Undana) di Graha Cendana, Rabu (8/4/2026).

Menurut Gubernur Melki, tantangan pembangunan NTT yang kompleks sebagai provinsi kepulauan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis, tetapi harus berbasis sains yang berpihak pada manusia. Karena itu, kehadiran para guru besar dinilai menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.

NTT membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga humanis dan berbasis ilmu pengetahuan. Kampus harus hadir memberi legitimasi ilmiah terhadap setiap kebijakan pemerintah,” tegas Melki.

Ia menyoroti tiga bidang keilmuan yang dikukuhkan arsitektur dan perilaku, reformasi kebijakan kesehatan, serta fisika material sebagai pilar penting dalam mendorong transformasi pembangunan di NTT.

Dalam sektor tata ruang, Melki mengkritik praktik pembangunan yang selama ini lebih menitikberatkan pada aspek fisik semata, tanpa mempertimbangkan perilaku dan kebutuhan masyarakat. Ia menilai pendekatan tersebut sering kali membuat ruang publik tidak optimal.

Pembangunan kita sering hanya fokus pada kekuatan struktur dan estetika, tetapi lupa bagaimana manusia berinteraksi di dalamnya. Padahal ruang yang baik harus responsif terhadap iklim, budaya, dan psikologi masyarakat,” ujarnya.

Ia mencontohkan pentingnya desain hunian dan fasilitas publik yang adaptif terhadap kondisi geografis NTT yang panas dan rentan terhadap perubahan iklim, termasuk potensi El Nino yang telah diperingatkan BMKG.

Di sektor kesehatan, Melki menekankan bahwa persoalan di NTT tidak cukup diselesaikan dengan menambah tenaga medis, tetapi memerlukan reformasi kebijakan berbasis data lokal. Ia menyoroti pentingnya pendekatan preventif dan promotif agar anggaran kesehatan berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Kesehatan tidak bisa hanya urusan kuratif. Kita harus memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar meningkatkan indeks pembangunan manusia. Di sinilah peran akademisi membedah kebijakan agar lebih tepat dan efektif,” katanya.

Sementara itu, dalam pengembangan energi, Melki menilai potensi besar NTT seperti energi surya, angin, dan panas bumi belum dimanfaatkan optimal karena keterbatasan penguasaan teknologi material.

Ia mendorong riset kampus untuk menghasilkan inovasi yang mampu mengurangi ketergantungan pada material impor sekaligus memperkuat industri lokal.

Kita punya matahari, angin, laut, tapi kalau tidak didukung riset material, kita hanya jadi penonton. Kampus harus bantu menciptakan teknologi yang bisa diproduksi sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Melki menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan keterlibatan aktif akademisi, bukan sekadar diskursus di ruang kelas. Ia meminta para guru besar tidak terjebak dalam “menara gading”, tetapi turun langsung memberikan solusi berbasis riset.

Pemerintah butuh data, butuh model kebijakan, butuh desain yang bisa langsung diterapkan. Kolaborasi ini yang akan menentukan masa depan NTT,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung tantangan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi menggeser nilai-nilai kemanusiaan jika tidak diatur dengan bijak. Menurutnya, kemajuan teknologi harus tetap ditempatkan dalam kerangka etika dan kemanusiaan.

AI penting, tapi jangan sampai membuat kita kehilangan nalar dan kemanusiaan. Pendidikan harus tetap melahirkan kecerdasan yang organik,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale mengungkapkan bahwa dengan pengukuhan tiga guru besar tersebut, total guru besar di Undana kini mencapai 79 orang, dengan 55 di antaranya masih aktif.

Ia juga mengingatkan tantangan dunia pendidikan di era kecerdasan buatan, di mana ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis manusia.

Fenomena AI offloading membuat manusia cenderung menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Di sinilah peran guru besar menjadi penting untuk membangun nalar, empati, dan pengalaman nyata yang tidak bisa digantikan AI,” jelasnya.

Menurutnya, esensi pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan memiliki kepekaan sosial.

Mahasiswa boleh mencari data dari AI, tetapi mereka harus belajar nilai, kebijaksanaan, dan keteladanan dari para guru besar,” tegasnya.

Untuk diketahui, tiga guru besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. (kepakaran Arsitektur dan Perilaku, Fakultas Sains dan Teknik), Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si. (kepakaran Reformasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), serta Prof. Zakarias Seba Ngara, S.Si., M.Si., Ph.D. (kepakaran Fisika Material, Fakultas Sains dan Teknik).

Pengukuhan tiga guru besar ini dinilai menjadi momentum penguatan peran akademisi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di NTT, sekaligus memastikan ilmu pengetahuan benar-benar berdampak bagi masyarakat.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.