Kolaborasi Hasilkan Produksi Jagung Naibonat 3 Kali Lipat, Gubernur NTT Apresiasi | NTT Pride
![]() |
| Gubernur NTT simbolis jagung yang digelar Tani Optima Group di RT 050/RW 020, Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur. Foto: Idin |
Hal itu disampaikan Melki saat menghadiri panen simbolis jagung yang digelar Tani Optima Group di RT 050/RW 020, Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Rabu (1/4/2026).
Panen tersebut merupakan bagian dari program “Ekosistem Jagung Gotong Royong” yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian Tani Optima Group, perbankan, hingga kelompok tani.
“Dari yang sebelumnya hanya 1,5 sampai 2 ton per hektare, sekarang bisa mencapai 5 sampai 6 ton per hektare. Ini bukti kalau kita kerja bersama, hasilnya pasti berbeda,” kata Melki.
Ia menegaskan, peningkatan produksi tersebut tidak terlepas dari sinergi antara Polda NTT, Pemerintah Provinsi NTT, Tani Optima Group lembaga keuangan seperti Bank NTT, serta kelompok tani yang tergabung dalam program tersebut.
Menurutnya, pendekatan gotong royong menjadi kunci utama keberhasilan program, karena setiap pihak berkontribusi dalam ekosistem pertanian, mulai dari pendampingan, pembiayaan, hingga pengawasan di lapangan.
“Kalau semua jalan sendiri-sendiri, tidak akan seperti ini. Tapi kalau bergerak bersama, hasilnya bisa berlipat ganda,” ujarnya.
Melki juga mengaitkan model ini dengan kebijakan nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto, di mana penguatan sektor pertanian dilakukan melalui keterlibatan aparat, dengan TNI fokus pada padi dan Polri pada jagung.
Ia menilai, jika pola ini diterapkan secara konsisten di lahan-lahan potensial di NTT, maka produksi jagung dapat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat secara luas.
“Ini tinggal diduplikasi di wilayah lain yang punya karakter lahan yang sama,” katanya.
Selain itu, Melki menekankan pentingnya mengembalikan identitas NTT sebagai daerah penghasil dan konsumsi jagung. Ia bahkan menyinggung kebiasaan lama masyarakat yang mengonsumsi nasi jagung sebagai bagian dari pola pangan lokal.
“Kalau produksi meningkat, kita bisa kembali seimbangkan konsumsi. Jagung itu identitas kita,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, ia menyebut komoditas jagung kini semakin menjanjikan. Harga jagung yang berada di kisaran Rp6.400 per kilogram mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka Rp5.500 per kilogram.
Kondisi ini dinilai membuka peluang peningkatan pendapatan petani, bahkan lebih menarik dibanding beberapa komoditas lain yang belum mengalami kenaikan harga signifikan.
“Ini peluang ekonomi. Petani bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari jagung,” katanya.
Namun demikian, Melki mengingatkan bahwa peningkatan produksi harus diikuti dengan pengembangan hilirisasi agar nilai tambah tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
Ia mendorong pengolahan jagung menjadi berbagai produk turunan, seperti pangan olahan, guna meningkatkan nilai jual sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor UMKM.
“Jangan berhenti di panen. Harus ada pengolahan supaya nilai tambahnya dinikmati masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi NTT, lanjutnya, siap memberikan dukungan melalui pembiayaan, termasuk melalui Bank NTT, serta pendampingan bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk berbasis jagung.
Di sisi lain, ia juga meminta para penyuluh pertanian untuk terus aktif mendampingi petani, termasuk dalam mendorong percepatan masa tanam berikutnya (MT2) setelah panen.
“Kita jangan berhenti. Setelah panen, langsung siapkan tanam berikutnya supaya produksi tetap stabil,” ujarnya.
Direktur Tani Optima Group, Ferdi, menjelaskan bahwa program ini dibangun berdasarkan pendekatan berbasis masalah yang ditemukan langsung di lapangan selama 5-6 bulan pelaksanaan pilot project.
Ia menyebutkan, pihaknya telah menjalankan program di lima lokasi berbeda dengan total luasan sekitar 10 hektare, sementara khusus di Naibonat dilakukan penanaman sekitar 3 hektare, dengan panen simbolis di lahan 0,5 hektare.
Menurut Ferdi, sebelum intervensi program, rata-rata produksi jagung kering petani hanya berkisar 1 hingga 1,5 ton per hektare. Namun setelah penerapan sistem budidaya terintegrasi dan pendampingan, hasilnya meningkat signifikan.
“Hasil riil panen kami mencapai sekitar 6,3 ton per hektare, dengan rata-rata kering sekitar 5,12 ton per hektare,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut didukung oleh penerapan teknologi monitoring berbasis data real-time untuk mengontrol aktivitas pertanian di lapangan, serta adaptasi metode budidaya yang sebelumnya diterapkan di Pulau Jawa.
Selain itu, potensi lahan kering di NTT yang mencapai sekitar 3 hingga 3,5 juta hektare, ditambah kondisi agroklimat yang sesuai, menjadi peluang besar untuk pengembangan jagung secara masif.
Ke depan, Tani Optima berencana menerapkan pola tanam dua kali dalam setahun di lahan kering, sebagai upaya meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Namun, Ferdi menegaskan bahwa keberhasilan program tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah, aparat, lembaga keuangan, dan petani.
“Kami hanya inisiator. Program ini butuh kolaborasi semua pihak agar bisa berkembang,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Tani Optima Group dan Bank NTT sebagai bentuk dukungan pembiayaan terhadap pengembangan ekosistem jagung.
Selain itu, dilakukan pembayaran hasil panen kepada kelompok tani dengan produktivitas 5,12 ton per hektare, dengan nilai mencapai Rp18.304.700 per hektare.
Gubernur Melki berharap model kolaborasi ini dapat direplikasi di berbagai wilayah di NTT untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kalau ini kita jalankan bersama secara konsisten, jagung bisa menjadi kekuatan ekonomi baru bagi NTT,” katanya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolda NTT, pimpinan Bio Cycle Group dan Tani Optima Group, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, direksi Bank NTT, pimpinan wilayah Perum Bulog Kanwil NTT, pimpinan PT Jasindo Kanwil Kupang, Ketua Hipmi NTT, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Camat Kupang Timur, Lurah Naibonat, para penyuluh pertanian, serta koordinator BPP dan PPL.
Editor: Ocep Purek
