News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Perjuangan Melki Laka Lena Berbuah Hasil, Jalan Lintas Utara Flores Ditargetkan Tuntas 2028

Perjuangan Melki Laka Lena Berbuah Hasil, Jalan Lintas Utara Flores Ditargetkan Tuntas 2028

Presiden Prabowo Subianto saat mengunjungi Kabupaten Nagekeo, NTT, pada 26 Agustus 2026.
Kupang,NTTPride.com - Usulan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena untuk memperbaiki pembangunan Jalan Lintas Utara Flores mendapat tindak lanjut dari pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto menyetujui usulan tersebut dan menginstruksikan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penyelesaian jalur yang menghubungkan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, hingga Maumere, Kabupaten Sikka.

Menteri PU Dody Hanggodo pun turun langsung meninjau jalur tersebut pada Jumat (23/10/2026) untuk memastikan kondisi jalan sekaligus memetakan pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kementerian PU menargetkan Jalan Lintas Utara Flores sepanjang 472,48 kilometer (km) itu tuntas paling lambat akhir 2028, dengan kondisi fungsional sesuai standar jalan nasional.

Usulan tersebut disampaikan Melki kepada Prabowo saat Presiden mengunjungi Kabupaten Nagekeo, NTT, pada 26 Agustus 2026 untuk meninjau penanganan dampak gempa bumi di wilayah Flores.

Dalam kesempatan itu, Melki menekankan pentingnya jalur utara Flores sebagai penghubung antardaerah, terutama ketika terjadi bencana yang menghambat mobilitas dan penyaluran bantuan.

“Ini selalu kejadian dari 1992 ke sini, jalur utara kami ini jadi penentu pergerakan bantuan. Kalau tidak bisa digerakkan, berarti udara ataupun laut,” kata Melki saat menyampaikan usulannya kepada Presiden.

Ia berharap pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap penuntasan jalur tersebut agar konektivitas wilayah utara Flores semakin baik dan potensi ekonomi masyarakat dapat berkembang.

Melki juga menyebut pembukaan jalur utara sebagai cita-cita yang telah lama diperjuangkan, termasuk sejak masa kepemimpinan Gubernur NTT Ben Mboi.

“Kalau utara dibuka, sektor produksi, pariwisata, ekonomi kita di utara terbuka relatif. Flores bisa lebih berkembang lagi,” ujarnya.

Menindaklanjuti arahan Presiden, Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan dirinya meninjau jalur dari Labuan Bajo hingga Maumere untuk melihat langsung kondisi infrastruktur yang akan dituntaskan.

“Dari pagi sampai sore ini, saya ke Labuan Bajo, kemudian berkeliling dari Bajo sampai ke Maumere untuk menindaklanjuti arahan Bapak Presiden terkait penuntasan Jalan Lintas Utara Flores,” ujar Dody dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan data Kementerian PU, dari total panjang 472,48 km Jalan Lintas Utara Flores, sepanjang 385,07 km telah beraspal. Sementara itu, 87,41 km sisanya belum beraspal.

Ruas yang belum beraspal tersebut terdiri atas 33,12 km yang berada di kawasan hutan, 43,51 km berupa jalan tanah, dan 10,78 km berupa jalan beragregat.

Selain menyelesaikan ruas yang belum beraspal, pemerintah juga akan memperlebar jalan yang sudah beraspal tetapi belum memenuhi standar jalan nasional.

Dody menjelaskan, sebagian ruas yang telah beraspal masih memiliki lebar sekitar 4-6 meter dan belum dilengkapi bahu jalan yang diperkeras. Kondisi ini berpotensi mengurangi keselamatan pengguna jalan, terutama ketika kendaraan besar berpapasan.

“Targetnya tetap agar 2028 selesai dan fungsional sesuai dengan standar jalan nasional kita, lebar 6-7 meter,” kata Dody.

Meski demikian, lebar jalan yang dapat diwujudkan akan menyesuaikan kondisi geografis. Pada ruas tertentu yang diapit tebing atau memiliki keterbatasan ruang, pelebaran akan disesuaikan dengan kondisi lapangan tanpa mengabaikan keselamatan pengguna jalan.

Kementerian PU membagi penanganan Jalan Lintas Utara Flores ke dalam tiga segmen utama.

Segmen pertama adalah ruas Labuan Bajo-Pelabuhan Bari sepanjang 83,52 km. Dari panjang tersebut, 22,88 km telah beraspal, sedangkan 60,64 km lainnya belum beraspal.

Segmen kedua merupakan ruas Pelabuhan Bari-Kedindi sepanjang 57,77 km. Ruas yang telah beraspal mencapai 31 km, sementara 26,77 km lainnya belum beraspal.

Adapun segmen ketiga, yakni ruas Wae Gongger-Maumere sepanjang 331,19 km, telah beraspal. Namun, ruas tersebut masih memerlukan peningkatan kualitas dan pelebaran agar memenuhi standar jalan nasional.

Untuk mempercepat pekerjaan, Kementerian PU telah memprogramkan penanganan 60,64 km jalan yang belum beraspal pada segmen Labuan Bajo-Pelabuhan Bari.

Sementara itu, penanganan sisa 26,77 km pada segmen Pelabuhan Bari-Kedindi akan disiapkan melalui program lanjutan secara bertahap hingga 2028. Pemerintah juga merencanakan pelebaran terhadap ruas yang telah beraspal sepanjang 385,07 km.

Tantangan lainnya adalah penyelesaian 33,12 km ruas yang masih berada di kawasan hutan. Untuk itu, Kementerian PU akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan guna mempercepat persetujuan penggunaan kawasan tersebut.

Penuntasan Jalan Lintas Utara Flores diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas infrastruktur, tetapi juga memperkuat konektivitas wilayah pesisir utara Flores dari Manggarai Barat hingga Maumere, serta tersambung dengan jaringan jalan menuju Larantuka.

Selama ini, keterbatasan kondisi jalan menjadi salah satu tantangan mobilitas masyarakat dan distribusi barang di sejumlah wilayah Flores. Setelah jalur tersebut ditingkatkan, waktu tempuh perjalanan diharapkan dapat dipangkas secara signifikan.

Sebagai gambaran, perjalanan Labuan Bajo-Reo/Kedindi yang sebelumnya dapat memakan waktu sekitar 6-7 jam berpotensi dipersingkat menjadi 3-4 jam, bergantung pada kondisi ruas dan perjalanan.

Konektivitas yang lebih baik juga diharapkan memperlancar distribusi hasil pertanian dan komoditas lokal, menekan hambatan transportasi, serta membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat menuju pusat-pusat ekonomi.

Di sektor pariwisata, jalur tersebut berpotensi memperkuat hubungan antara Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas dengan berbagai wilayah lain di Pulau Flores.

Bagi Melki, penuntasan Jalan Lintas Utara Flores merupakan langkah strategis untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih merata sekaligus memperkuat kesiapsiagaan wilayah dalam menghadapi bencana.

Dengan target penyelesaian paling lambat akhir 2028, masyarakat kini menantikan realisasi pembangunan tersebut agar jalur utara Flores tidak hanya menjadi penghubung antardaerah, tetapi juga menjadi akses penting bagi distribusi bantuan, pergerakan masyarakat, dan pengembangan potensi ekonomi Pulau Flores.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.