Gubernur Melki & Menko PM Muhaimin Satukan Langkah Percepat Pengentasan Kemiskinan di NTT
Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi pusat dan daerah dalam upaya menurunkan angka kemiskinan di NTT.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Kupang, Wali Kota Kupang, pimpinan OPD lingkup Kabupaten Kupang, Kota Kupang, dan Provinsi NTT, Kepala Sentra Efata, Kepala Sekolah Rakyat 19 beserta guru dan siswa.
Dari pihak Kementerian PM, turut hadir Deputi Bidang Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal, Deputi Pengembangan Usaha, serta Deputi II Perlindungan Sosial.
Acara diawali dengan peninjauan asrama putri dan ruang kelas Sekolah Rakyat 19 yang menjadi bagian dari program pemberdayaan pendidikan.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menko Muhaimin dan menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menurunkan angka kemiskinan di NTT.
“Kemiskinan di NTT terus mengalami penurunan dengan berbagai program sejak era Presiden Joko Widodo hingga Presiden Prabowo Subianto. Saat ini angka kemiskinan kita sudah di bawah 19 persen dan terus turun. Kabupaten Kupang dan Kota Kupang menjadi daerah yang progresif penurunannya,” ungkap Melki.
Gubernur juga melaporkan capaian pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan II 2025 yang mencapai 5,44 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Ia menegaskan bahwa kontribusi sektor pertanian, kemandirian pangan, energi, serta program-program sosial seperti sekolah rakyat, cek kesehatan gratis, dan rumah layak huni, menjadi faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melki menambahkan, mulai 2026, pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota akan melaksanakan program bedah rumah 35.000 unit dengan gotong royong dari APBD provinsi, kabupaten/kota, serta dana desa dan kelurahan.
“Dari delapan parameter kemiskinan, enam di antaranya berkaitan dengan rumah. Jika rumah bisa kita atasi, maka kemiskinan pasti akan turun. Karena itu, kita akan bedah 35 ribu rumah di seluruh NTT,” tegasnya.
Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar memberikan apresiasi atas upaya yang dilakukan Pemprov NTT dan menegaskan paradigma baru pemberdayaan masyarakat yang berbasis pendidikan, kemandirian, dan gotong royong.
Ia menyoroti pentingnya Sekolah Rakyat sebagai strategi memutus rantai kemiskinan sejak dini.
“Sekolah rakyat adalah cita-cita lama Presiden Prabowo Subianto, lahir dari pengalaman beliau melihat anak-anak yang tak bisa sekolah karena keterbatasan. Pendidikan sejak dini dengan pendekatan talenta dan potensi anak adalah kunci memutus mata rantai kemiskinan,” ujar Muhaimin.
Menko menegaskan, target nasional adalah 0 persen kemiskinan ekstrem pada akhir 2026. Untuk itu, pemerintah menerapkan tiga strategi utama:
Mengurangi pengeluaran rakyat melalui subsidi kesehatan, pendidikan, transportasi, dan infrastruktur. Meningkatkan pendapatan masyarakat dengan membuka lapangan kerja dan mendukung UMKM serta koperasi. Menghapus kantong-kantong kemiskinan melalui pembangunan perumahan, transportasi, dan infrastruktur dasar.
Muhaimin juga menekankan pentingnya gotong royong dalam program BPJS Kesehatan dan menegaskan bahwa paradigma bantuan sosial kini diarahkan menjadi bantuan pemberdayaan yang menumbuhkan keterampilan, produktivitas, dan kemandirian masyarakat.
“Paradigma baru pemberdayaan berarti setiap bantuan harus melahirkan kualitas, skill, produktivitas, dan peningkatan penghasilan. Kita ingin masyarakat berdaya, mandiri, dan naik kelas dari desil terbawah menuju kehidupan yang lebih sejahtera,” jelasnya.
Menutup arahannya, Menko Muhaimin mengajak seluruh pemangku kepentingan di NTT untuk bekerja lebih cepat, berinovasi, dan bersinergi dengan pusat.
“Saya siap menjembatani dan mengoordinasi agar program di NTT berjalan efektif. Kita harus mencari jalan-jalan cepat, tanpa mengulang kesalahan masa lalu. Mari kita bulatkan tekad bersama untuk mengatasi kemiskinan di seluruh tanah air, termasuk di NTT,” pungkasnya.
Editor: Ocep Purek
