Gubernur Melki: ASN NTT Harus Jadi Penggerak Ekonomi, Bukan Sekadar Pelaksana Rutinitas
![]() |
| Gubernur NTT Melki Laka Lena menutup Retret Kepemimpinan Strategis Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, dan Pengawas Pemerintah Provinsi NTT Gelombang I dan II. Foto: Ocep Purek |
Hal ini disampaikan Gubernur Melki saat menutup Retret Kepemimpinan Strategis Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, dan Pengawas Pemerintah Provinsi NTT Gelombang I dan II, di Aula El Tari, Senin (13/10/2025).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Plh. Sekda NTT, Staf Ahli Gubernur, para Asisten Setda NTT, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Dalam arahannya, Gubernur Melki Laka Lena mengatakan bahwa retret kepemimpinan ini menjadi waktu untuk menepi sejenak dari rutinitas birokrasi dan merenungkan kembali arah kerja bersama demi kemajuan NTT.
“Kita menepi sejenak bukan untuk berhenti, tetapi untuk menata kembali langkah kita. Retret ini menjadi ruang refleksi, agar kita memiliki perspektif bersama dalam mengurus NTT dari sudut pandang yang lebih luas, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi rakyat,” ujar Gubernur Melki.
Ia menekankan bahwa perubahan besar di NTT hanya bisa dimulai dari dalam diri setiap pejabat dan ASN.
“Transformasi NTT dimulai dari perubahan pribadi dari Gubernur, Wakil Gubernur, Sekda, hingga staf. Semua harus berubah cara berpikir dan cara bekerja. Tidak ada lagi tempat bagi ego sektoral, karena NTT hanya bisa maju jika kita bergerak bersama,” tegasnya.
Melki Laka Lena menyoroti bahwa kegiatan retret yang digelar bekerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) tidak hanya menghasilkan pemikiran strategis, tetapi juga memberi dampak langsung terhadap ekonomi daerah.
“Seluruh konsumsi selama kegiatan dibeli dari masyarakat di sekitar lokasi mulai dari sayur, ikan, hingga daging semuanya dari Belu dan sekitarnya. Kita ingin memastikan bahwa setiap kegiatan Pemprov juga memutar ekonomi lokal,” jelasnya.
Menurut Gubernur, pola seperti ini akan terus diterapkan agar setiap kegiatan pemerintahan memiliki dampak ekonomi bagi rakyat.
Gubernur Melki mengingatkan seluruh pejabat agar tidak terjebak pada pola birokrasi lama yang lamban dan pasif.
“Hari ini tidak ada lagi ruang longgar dalam birokrasi. Kita semua dituntut untuk cepat, cerdas, dan berani mengambil keputusan. Setiap hari harus ada langkah konkret yang dilakukan untuk masyarakat,” katanya.
Ia bahkan mencontohkan kedisiplinan pribadi yang ia jalani sejak masa sekolah asrama.
“Saya terbiasa hidup dengan agenda yang jelas dari bangun pagi sampai malam. Saya ingin setiap pejabat eselon dua, tiga, dan empat juga punya agenda harian dan mingguan yang terukur. Dengan begitu, kita tahu apa yang dikerjakan, dan bisa saling mengontrol satu sama lain,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki menegaskan bahwa birokrasi NTT ke depan tidak boleh hanya menjalankan rutinitas administratif. Ia mendorong lahirnya “entrepreneurship birokrasi” aparatur yang mampu berpikir kreatif dan menghasilkan solusi ekonomi bagi masyarakat.
“Kita harus melahirkan birokrasi yang berjiwa wirausaha. ASN perlu mendorong tumbuhnya pengusaha lokal agar uang yang berputar di NTT tidak kembali ke luar daerah. Kalau kita tidak melahirkan entrepreneurship, potensi ekonomi kita hanya akan dinikmati orang lain,” ujar Melki.
Ia memberi contoh, NTT mengeluarkan sekitar Rp1 triliun setiap tahun untuk membeli pinang dari luar daerah. Padahal, potensi untuk kita tanam di NTT sangat besar.
“Kalau saja kita bisa produksi sendiri sebagian dari itu, kita bisa menekan defisit hingga ratusan miliar rupiah. Maka ASN harus ikut berpikir strategis dan mendorong tumbuhnya usaha-usaha lokal di berbagai bidang,” ungkapnya.
Gubernur Melki juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pemerintahan yang saling menopang, bukan berjalan sendiri-sendiri. Setiap OPD, bidang, dan unit kerja harus saling terhubung dan saling mendukung dalam mencapai target bersama.
“Tidak boleh lagi ada yang bekerja sendiri-sendiri. Lupakan ego sektoral. Kita akan bangun sistem kerja yang kolaboratif, di mana setiap program punya penanggung jawab, dukungan lintas bidang, dan hasil yang bisa diukur. Semua harus terbuka, akuntabel, dan berdampak,” katanya.
Menurut Gubernur, keterbatasan fiskal dan berkurangnya dana transfer dari pusat justru harus dijadikan momentum untuk berinovasi dan memperkuat sinergi.
Sebagai penutup, Gubernur Melki Laka Lena mengingatkan bahwa seluruh hasil retret harus diwujudkan dalam pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan dirasakan langsung oleh rakyat NTT.
“Setiap rupiah yang kita belanjakan harus bermakna bagi kehidupan publik. Itulah ukuran keberhasilan birokrasi. ASN tidak boleh berhenti di niat baik, tapi harus membuktikannya lewat kinerja dan pelayanan nyata,” pungkasnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Unhan RI, BKD Provinsi NTT, dan seluruh tim penyelenggara yang telah memastikan kegiatan retret berlangsung sukses.
“Acara ini bukan akhir, tetapi awal dari perubahan besar. ASN NTT harus tampil sebagai pelayan publik yang bekerja dengan hati, dengan nurani, dan dengan semangat kolaborasi untuk NTT yang maju,” tutup Gubernur Melki penuh keyakinan.
Editor: Ocep Purek
