Tanpa Makan Tukar Dulang, Tutup Tahun Desa Todanara Berubah Jadi Forum Refleksi dan Transparansi Anggaran
![]() |
| Kepala Desa Todanara, Fransiskus Boli. Foto: Ocep Purek |
Malam pergantian Tahun Baru 2025 di Desa Todanara menjadi ruang refleksi kolektif warga dan pemerintah desa untuk mengevaluasi perjalanan sosial, tradisi, serta pengelolaan pemerintahan desa, sekaligus menata arah pembangunan 2026 di tengah keterbatasan anggaran dan dinamika kebersamaan.
Kegiatan malam Tahun Baru dipusatkan di halaman Balai Desa Todanara, Jumat (31/12/2025) dengan mengusung tema “Merayakan Waktu, Menggugat Arah: Tutup Tahun Bukan Pesta, tetapi Jeda untuk Bertanya; Kita Sedang Menuju ke Mana?”.
Acara diawali ritual adat Bau Lolo, dilanjutkan makan malam bersama sebagai simbol kebersamaan lintas generasi.
Desa Todanara yang merupakan desa pertama di Kecamatan Ile Ape Timur itu menyambut pergantian tahun dalam suasana sederhana namun sarat makna.
Momentum akhir tahun dimanfaatkan sebagai ruang rekonsiliasi sosial dan evaluasi perjalanan desa sepanjang 2025.
Kepala Desa Todanara, Fransiskus Boli, dalam sambutannya menegaskan bahwa makna tutup tahun bukan terletak pada pesta, melainkan pada kemampuan masyarakat untuk bersyukur sekaligus mengoreksi arah hidup bersama.
“Merayakan waktu berarti bersyukur atas 365 hari yang telah kita lewati. Tahun 2025 ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk memberi diri bagi desa, keluarga, dan gereja. Itu patut kita syukuri,” ujar Fransiskus.
Ia menambahkan bahwa “menggugat arah” adalah ajakan untuk bertanya secara jujur ke mana Desa Todanara akan dibawa ke depan.
“Arah desa ini bukan ditentukan oleh kepala desa, tetapi oleh kita semua. Todanara bukan milik Fransiskus Boli, tetapi milik seluruh masyarakat dari usia nol bulan sampai yang tertua,” tegasnya.
Fransiskus juga menyinggung polemik yang muncul akibat tidak dilaksanakannya tradisi makan tukar dulang pada malam tutup tahun. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi pelajaran penting tentang identitas dan makna kebersamaan.
“Makan tukar dulang itu bukan soal makan, tetapi soal kebersamaan. Kalau hari ini ada yang kecewa dan memilih tidak hadir, mudah-mudahan itu menjadi refleksi bersama, bukan sumber perpecahan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kepala Desa secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga atas berbagai kekurangan, kesalahan tutur kata, kebijakan, dan tindakan pemerintah desa selama 2025.
“Kalau ada yang menyakiti perasaan, saya mohon maaf. Jangan bawa beban 2025 ke 2026. Mari kita mulai tahun baru dengan hati yang bersih,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah desa adalah hal yang wajar dan justru dibutuhkan.
“Kalau tidak mau dikritik, jangan jadi pemerintah. Kritik itu tanda sayang. Kalau tidak dikritik, berarti kita dibiarkan jatuh dalam kesalahan,” tegas Fransiskus.
Terkait pengelolaan pemerintahan desa, Fransiskus membeberkan kondisi anggaran secara terbuka. Ia menyebutkan bahwa dana desa ke depan mengalami keterbatasan, sehingga tidak semua usulan masyarakat dapat direalisasikan.
“Kurang lebih satu desa hanya sekitar Rp200 juta. Artinya, tidak semua usulan Musrenbang bisa dilaksanakan. Kita harus mulai belajar hidup mandiri dan bekerja secara ikhlas, tidak bergantung penuh pada dana desa,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa satu-satunya kegiatan tahun 2025 yang belum terealisasi adalah pengadaan satu unit traktor 50 HP senilai sekitar Rp330 juta.
“Traktornya masih di Kupang karena terkendala bongkar muat pelabuhan. Uangnya juga belum dibayarkan dan masih aman di rekening. Ini saya sampaikan supaya tidak ada kecurigaan di masyarakat,” katanya.
Ketua BPD Desa Todanara, Nikodemus Boleng, dalam sambutannya menyampaikan bahwa BPD merupakan representasi aspirasi masyarakat, namun mengakui belum semua harapan warga dapat diperjuangkan secara maksimal.
“Atas nama BPD, kami menyampaikan permohonan maaf jika selama setahun ini ada aspirasi masyarakat yang belum bisa kami teruskan atau perjuangkan secara maksimal,” ujarnya.
Nikodemus mengajak masyarakat untuk tetap aktif menyampaikan masukan secara langsung dan konstruktif demi kemajuan desa.
“Kita masih punya waktu bersama untuk membangun desa ini. Jangan simpan unek-unek terlalu lama, sampaikan supaya bisa kita benahi bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Tutup Tahun, Lukas Laga Purek Lolon, menjelaskan bahwa perubahan pola perayaan tanpa makan tukar dulang merupakan hasil kesepakatan bersama setelah melalui diskusi panjang, evaluasi adat, dan pertimbangan situasi desa.
“Keputusan ini tidak diambil sepihak. Ada pro dan kontra, tetapi akhirnya disepakati demi memusatkan kebersamaan dan refleksi di satu tempat,” jelas Lukas.
Ia menegaskan bahwa kebersamaan warga menjadi inti dari perayaan akhir tahun, bukan semata tradisi seremonial.
“Kalau kita benar-benar peduli desa ini, mari kita berdiskusi, menerima kritik, dan memberi kontribusi nyata tanpa kepentingan pribadi,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan malam Tahun Baru diakhiri dengan renungan bersama, pembakaran petasan secara simbolis, serta dolo bersama sebagai penanda masuknya Tahun 2026 dengan harapan baru bagi Desa Todanara yang lebih bersatu, terbuka, dan mandiri.
Editor: Ocep Purek
