News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Teater “Misteri di Balik Jubah Putih” Jadi Panggung Kritik Gubernur NTT soal Mutu Pendidikan

Teater “Misteri di Balik Jubah Putih” Jadi Panggung Kritik Gubernur NTT soal Mutu Pendidikan

Gubernur NTT Melki Laka Lena menghadiri pementasan Teater “Misteri di Balik Jubah Putih” yang diselenggarakan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko. Foto: Ocep Purek 
Kupang, NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa kualitas pendidikan, ketegasan pembinaan karakter, dan kesadaran akan panggilan hidup harus menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi muda NTT, baik sebagai calon imam maupun sebagai awam. 

Penegasan itu disampaikan saat menghadiri pementasan Teater “Misteri di Balik Jubah Putih” yang diselenggarakan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko di Auditorium Universitas Nusa Cendana (Undana), Sabtu (31/1/2026).

Gubernur Melki menyebut pementasan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi ruang refleksi mendalam tentang panggilan imamat yang sarat pergulatan batin, kesetiaan, dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Panggilan imamat lahir dari inisiatif kasih Allah. Jubah putih bukan simbol lahiriah semata, tetapi tanda kesiapsediaan untuk hidup dalam pengabdian, kesucian, dan pelayanan,” kata Melki, mengutip makna tema pementasan.

Ia menegaskan bahwa perjalanan menjadi imam bukanlah jalan yang mudah, melainkan jalan iman yang penuh misteri. Namun demikian, Gubernur menekankan bahwa keberhasilan pendidikan di seminari tidak hanya diukur dari jumlah imam yang lahir, tetapi juga dari kualitas alumni yang menjalani panggilan sebagai awam.

Kalau menjadi imam, jadilah imam yang hebat. Kalau keluar dan menjadi awam, jadilah awam yang hebat. Keduanya sama-sama panggilan dari Bapa di surga,” tegasnya.

Dalam konteks pendidikan, Melki secara terbuka mengkritik kecenderungan meluluskan siswa tanpa standar kualitas yang jelas. Menurutnya, praktik tersebut justru melemahkan mutu sumber daya manusia.

Sudah waktunya kita kembalikan ketegasan dalam pendidikan. Anak yang memang belum mampu, jangan dipaksakan naik kelas. Kalau semua lulus tapi tidak berisi, kita hanya melahirkan lulusan yang lemah robot-robot yang tidak punya daya saing,” ujarnya.

Ia menilai sekolah-sekolah Katolik, termasuk seminari, memiliki kekhasan dalam menjaga kualitas dan disiplin, terutama melalui sistem asrama yang dinilai lebih efektif dalam membentuk karakter, tanggung jawab, dan pengendalian diri.

Gubernur juga mengulas peran historis Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko yang telah berdiri sejak 1926. Sejak didirikan oleh Pater Fransiskus Cornelissen, SVD, dan diresmikan di Mataloko pada 1929, seminari ini telah melahirkan banyak imam dan alumni awam yang berkontribusi nyata bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.

Dalam proses pendidikannya, seminari ini berpegang pada spirit LIMA S, yakni Sanctitas, Sanitas, Scientia, Sapientia, dan Socialitas, yang menurut Melki merupakan fondasi pendidikan holistik.

Nilai-nilai ini membentuk pribadi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi matang secara rohani, emosional, dan sosial,” katanya.

Terkait pementasan seni, Gubernur menilai teater, musik, dan vokal yang ditampilkan para seminaris merupakan produk budaya berkualitas yang harus dihargai secara layak. Ia menegaskan bahwa karya seni tidak seharusnya selalu dinikmati secara gratis.

 “Kalau ini produk berkualitas dari lembaga seperti seminari, maka harus dihargai. Produk budaya harus dibayar agar produksi karya-karya berkualitas seperti ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Pementasan tersebut, lanjut Melki, sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi NTT melalui pendekatan One School One Product (OSOP), termasuk di bidang seni pertunjukan sebagai media pendidikan karakter dan pewartaan nilai kehidupan.

Sebagai bentuk apresiasi nyata, Gubernur bersama Wali Kota Kupang membeli sejumlah karya seni lukisan hasil pementasan. Langkah itu, menurutnya, adalah bentuk dukungan konkret terhadap kreativitas dan keberlanjutan karya budaya dari lembaga pendidikan.

Melki juga menyampaikan terima kasih kepada para imam, suster, guru, orang tua, serta jejaring alumni yang dinilainya memiliki peran besar dalam membentuk dan menopang panggilan hidup para seminaris.

Menjadi imam itu bukan hanya karena kemampuan pribadi. Ada penyelenggaraan ilahi dan banyak tangan yang terlibat orang tua, guru, imam, dan komunitas yang membentuk anak-anak kita,” katanya.

Di akhir sambutan, Gubernur berharap pementasan “Misteri di Balik Jubah Putih” menjadi pengingat bahwa panggilan hidup, baik sebagai imam maupun awam, harus dijalani dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial.

 “Kiranya Tuhan yang memanggil akan terus meneguhkan dan memampukan kalian menjadi pelayan-pelayan yang setia dan penuh kasih, di mana pun kalian berkarya,” tutupnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo, pimpinan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, perwakilan orang tua siswa, ketua alumni, para imam, biarawan dan biarawati, serta para seminaris.


Editor: Ocep Purek 



TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.