Gubernur Melki: Ramadan Momentum Perkuat Gotong Royong dan Kerukunan di NTT
![]() |
| Buka puasa bersama di rumah jabatan Gubernur. Foto: Idin |
Kegiatan yang mengusung tema “Rekatkan Spirit Solid dan Ukhuwah Islamiyah” itu dihadiri Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, unsur Forkopimda, perwakilan DPRD NTT, pimpinan perangkat daerah, tokoh agama lintas iman, organisasi masyarakat, organisasi pemuda Islam, serta para imam masjid se-Kota Kupang.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat Muslim di NTT. Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum memperkuat kesabaran, keteguhan, serta solidaritas sosial dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Provinsi NTT, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh umat Muslim di Nusa Tenggara Timur. Semoga Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat kesabaran, keteguhan, dan kebersamaan kita dalam menghadapi berbagai persoalan,” ujar Melki.
Menurutnya, tema ukhuwah Islamiyah yang diangkat dalam kegiatan tersebut sejalan dengan semangat membangun kehidupan harmonis di tengah keberagaman masyarakat NTT.
Ia mengajak umat Muslim di NTT terus memperkuat hubungan baik dengan seluruh umat beragama sehingga kerukunan yang selama ini terjaga dapat menjadi kekuatan bersama dalam pembangunan daerah.
“Saya mengajak seluruh umat Muslim di NTT untuk terus membangun hubungan yang baik dengan seluruh umat beragama. Kerukunan yang kita miliki ini harus kita rawat bersama untuk kemajuan Nusa Tenggara Timur,” katanya.
Melki juga menyinggung sejarah lahirnya nilai dasar negara yang tidak terlepas dari kontribusi masyarakat NTT. Ia mengingatkan bagaimana Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, merumuskan gagasan dasar negara saat diasingkan di Ende.
Menurutnya, kehidupan masyarakat Ende yang rukun antaragama saat itu turut memberi inspirasi bagi lahirnya gagasan Pancasila.
“Ketika Bung Karno dibuang ke Ende, beliau hidup bersama masyarakat lintas agama yang saling menghormati. Di situ beliau merumuskan nilai-nilai yang kemudian menjadi Pancasila. Itu menunjukkan bahwa NTT juga memiliki kontribusi besar bagi republik ini,” ujar Melki.
Ia menegaskan bahwa jika nilai Pancasila “diperas”, maka esensi utamanya adalah gotong royong. Semangat itulah yang menurutnya harus terus dijaga dalam kehidupan sosial masyarakat NTT.
“Kalau Pancasila diperas, nilainya adalah gotong royong. Kita urus semua persoalan bersama-sama. Semangat itulah yang harus terus kita hidupkan di NTT,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Melki juga menyinggung pentingnya kepekaan sosial terhadap persoalan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan sosial yang terjadi sering kali dipicu oleh melemahnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk umat Muslim di NTT, untuk memperkuat semangat kebersamaan dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial di daerah.
“Dengan semangat kebersamaan ini, kita harus hadir bersama untuk mengurus berbagai persoalan masyarakat. Jangan sampai kita kehilangan semangat gotong royong itu,” katanya.
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTT Muhammad S. Wongso mengatakan Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial.
Ia mengutip pesan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia berasal dari satu asal yang sama, yakni Nabi Adam dan Siti Hawa, sehingga seluruh umat manusia memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga.
“Kita semua berasal dari satu asal yang sama. Karena itu, kepedulian terhadap sesama adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Wongso juga mengingatkan pentingnya empati terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan. Ia mencontohkan kisah sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, yang tetap berbagi makanan dengan tetangga yang kelaparan meski hanya memiliki sedikit makanan untuk berbuka puasa.
“Kisah ini mengajarkan bahwa ketika ada orang yang kelaparan, kita tidak boleh menunggu mereka datang kepada kita. Justru kita yang harus mendatangi mereka,” katanya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif Pemerintah Provinsi NTT yang menggelar buka puasa bersama lintas elemen masyarakat sebagai bentuk nyata kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Ketika masyarakat mengalami kesulitan, pemerintah tidak boleh sendiri. Kita semua harus hadir bersama untuk membantu,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi NTT juga menyerahkan bantuan hibah secara simbolis kepada sejumlah lembaga keagamaan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kerukunan umat beragama di daerah.
Bantuan hibah tersebut diberikan kepada Forum Kerukunan Umat Beragama NTT, Majelis Ulama Indonesia NTT, Keuskupan Agung Kupang, Gereja Masehi Injili di Timor, Parisada Hindu Dharma Indonesia, serta Perwakilan Umat Buddha Indonesia NTT.
Kegiatan buka puasa bersama tersebut menjadi ruang pertemuan lintas iman yang memperkuat pesan bahwa kehidupan masyarakat NTT yang majemuk tetap bertumpu pada nilai kebersamaan, toleransi, dan gotong royong.
Editor: Ocep Purek
