KUR Bangkit dari Masalah, Bank NTT Siapkan Rp350 Miliar untuk UMKM dan Pekerja Migran
![]() |
| Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), Charlie Paolus. Foto: Ocep Purek |
Hal itu disampaikan Charlie saat menjadi narasumber sekaligus membuka Diskusi Publik Hari Pers Nasional bertema “Peran Perbankan dalam Mendukung dan Mendorong Pertumbuhan UMKM di NTT melalui KUR” yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia NTT di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Sabtu (21/2/2026).
Charlie mengakui, penyaluran KUR Bank NTT sempat dihentikan akibat tingginya kredit bermasalah pada periode sebelumnya. Namun pada 2026, Bank NTT kembali mendapat kepercayaan untuk menyalurkan KUR dengan total alokasi Rp350 miliar.
Dari jumlah tersebut, Rp50 miliar secara khusus dialokasikan bagi pekerja migran asal NTT.
“KUR itu bukan bantuan gratis, tetapi kredit yang harus dikembalikan. Namun bunganya sangat ringan, hanya 6 persen dengan plafon maksimal Rp100 juta,” jelasnya.
Ia menilai skema ini menjadi peluang besar bagi masyarakat NTT, mengingat tingginya jumlah pekerja migran dari daerah tersebut. Menurutnya, pembiayaan murah sangat dibutuhkan dalam tahap persiapan keberangkatan, mulai dari biaya pelatihan, pengurusan visa, tiket pesawat, hingga biaya hidup sementara di negara tujuan.
“Pemerintah hadir membantu dengan pembiayaan bunga rendah agar para pekerja migran bisa berangkat secara lebih siap dan terencana,” ujarnya.
Charlie juga menyoroti arah kebijakan KUR 2026 yang difokuskan pada sektor ketahanan pangan. Menurutnya, kebijakan ini sangat relevan dengan kebutuhan daerah.
Ia mengungkapkan, NTT saat ini masih mengalami defisit produksi bahan pangan sehingga harus mendatangkan pasokan dari luar daerah. Padahal, potensi lahan dan sumber daya manusia di NTT dinilai cukup besar untuk memproduksi berbagai komoditas seperti buah-buahan, ternak sapi, ayam, dan babi.
“Ini momentum yang tidak boleh dilewatkan. Saat kebutuhan pasokan pangan meningkat, khususnya untuk mendukung berbagai program pemerintah, Bank NTT siap membantu petani dan pelaku usaha dengan pembiayaan murah,” tegasnya.
Dalam paparannya, Charlie menjelaskan KUR terbagi dalam dua kategori, yakni KUR Mikro dan KUR Kecil. Berdasarkan penggunaannya, kredit tersebut dapat dimanfaatkan untuk modal kerja maupun investasi.
Ia mencontohkan perbedaan antara kredit investasi dan modal kerja. Kredit investasi digunakan untuk membangun sarana usaha seperti pembelian tanah, bangunan, dan peralatan. Sementara modal kerja dibutuhkan untuk mendukung proses produksi yang terus berputar, seperti pembelian bahan baku dan menutup piutang yang belum jatuh tempo.
Menurutnya, meskipun desain KUR saat ini sudah ditetapkan pemerintah, perbankan tetap berupaya mengoptimalkan pemanfaatannya agar benar-benar mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, jelasnya, pelaku usaha tidak diwajibkan memberikan agunan tambahan. Sementara untuk pinjaman Rp100 juta hingga Rp500 juta, tetap diperlukan jaminan sesuai ketentuan.
Charlie menegaskan, Bank NTT siap memaksimalkan jaringan layanan yang kini tersebar di 222 kantor, terdiri atas 23 kantor cabang, puluhan kantor cabang pembantu, serta 117 kantor fungsional.
Pada 2026, ia menginstruksikan seluruh jajaran cabang agar proaktif berkoordinasi dengan para camat untuk memetakan sentra produksi dan pelaku usaha kecil yang membutuhkan pembiayaan.
“Kami ingin tahu persis di kecamatan mana ada sentra ekonomi lemah yang butuh dorongan. Itu yang akan kami akomodasi,” katanya.
Selain memperluas akses pembiayaan, Charlie juga menekankan pentingnya pembenahan budaya pelayanan di internal Bank NTT. Ia mengakui, meskipun sistem teknologi sudah memadai, kualitas layanan masih perlu ditingkatkan.
“Kami hidup dari nasabah. Tanpa nasabah, kami tidak bisa apa-apa. Karena itu pelayanan harus baik dan profesional,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Bank NTT telah membentuk unit Customer Response Center di kantor pusat untuk menampung pengaduan dan memastikan nasabah mendapat pelayanan optimal.
Melalui penguatan penyaluran KUR, khususnya di sektor ketahanan pangan dan pekerja migran, Bank NTT berharap dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah serta memperluas akses pembiayaan murah bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Editor: Ocep Purek
