News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Melki Laka Lena: Bruno Sukarto Sudah Bangun ‘Monumen Hidup’ Lewat Pendidikan Teknologi di NTT

Melki Laka Lena: Bruno Sukarto Sudah Bangun ‘Monumen Hidup’ Lewat Pendidikan Teknologi di NTT

 

Gubernur NTT Melki Laka Lena meresmikan Monumen Beruno Sukarto di Kampus STIKOM Uyelindo Kupang. Foto: Idin
Kupang,NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena meresmikan Monumen Bruno Sukarto di Kampus STIKOM Uyelindo Kupang, Jumat (13/3/2026). Monumen tersebut didirikan oleh Yayasan Uyelewun Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum Bruno Sukarto yang dikenal sebagai tokoh perintis pendidikan teknologi informasi di Nusa Tenggara Timur.

Dalam arahannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa keberadaan monumen tersebut bukan sekadar simbol mengenang seorang tokoh, melainkan pengingat akan gagasan besar yang telah mengubah arah perkembangan pendidikan teknologi informasi di daerah.

Suatu masyarakat hidup tidak hanya dari apa yang mereka lakukan hari ini dan cita-citakan untuk masa depan, tetapi juga dari apa yang mereka ingat bersama tentang masa lalu. Memori kolektif membentuk identitas sebuah komunitas,” kata Melki.

Ia menilai ingatan terhadap sejarah dan tokoh-tokoh penting perlu terus dirawat agar tidak hilang oleh waktu. Salah satu cara merawat memori itu, menurutnya, adalah dengan mendirikan monumen.

Monumen bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Monumen mengingatkan kita bahwa perjalanan sebuah masyarakat selalu dibangun oleh gagasan, keberanian, dan pengorbanan orang-orang yang datang lebih dahulu,” ujarnya.

Namun Melki menegaskan, sebelum monumen itu berdiri secara fisik, Bruno Sukarto sebenarnya telah lebih dahulu membangun “monumen hidup” melalui lembaga pendidikan yang dirintisnya.

Sesungguhnya jauh sebelum monumen ini berdiri, beliau telah lebih dahulu membangun monumen yang hidup, yakni STIKOM Uyelindo beserta seluruh karya pendidikan yang lahir dari visi besarnya,” kata Melki.

Menurut Gubernur, lembaga pendidikan tersebut telah melahirkan ribuan lulusan yang membawa pengetahuan teknologi informasi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat di NTT.

Dalam kesempatan itu, Melki juga mengisahkan salah satu cerita sederhana yang sering dikenang tentang kehidupan Bruno Sukarto saat masih menjadi mahasiswa. Ia dikenal lebih memilih membeli buku daripada membeli beras.

Kisah ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menggambarkan kecintaan yang luar biasa pada ilmu pengetahuan. Ia memilih membiarkan perutnya kosong, tetapi tidak pernah membiarkan pikirannya kosong akan pengetahuan,” ujarnya.

Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan itulah yang kemudian membentuk keyakinan Bruno Sukarto bahwa masa depan dunia akan sangat ditentukan oleh teknologi informasi. Ia pun meyakini NTT tidak boleh tertinggal dalam penguasaan teknologi tersebut.

Keyakinan itu mendorongnya datang ke Kupang pada 1997 untuk mendirikan Yayasan Uyelewun Indonesia. Dari yayasan tersebut kemudian lahir STIKOM Uyelindo Kupang, sebuah institusi pendidikan yang memfokuskan diri pada pengembangan teknologi informasi di NTT, bahkan pada masa ketika teknologi digital masih terasa jauh dari kehidupan masyarakat di daerah ini.

Gagasan besar ini lahir justru ketika teknologi digital masih terasa sangat jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat NTT,” kata Melki.

Melalui lembaga pendidikan itu, lanjutnya, lahir ribuan anak muda yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang teknologi informasi, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat NTT untuk terlibat dalam perkembangan dunia digital.

Atas kontribusi tersebut, Pemerintah Provinsi NTT menyampaikan penghargaan kepada keluarga besar Bruno Sukarto, serta kepada seluruh civitas akademika yang terus melanjutkan gagasan besar almarhum.

Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada keluarga besar Bruno Sukarto, Yayasan Uyelewun Indonesia, serta seluruh civitas akademika STIKOM Uyelindo yang terus menjaga dan mengembangkan warisan gagasan beliau,” kata Melki.

Gubernur juga menyinggung salah satu cita-cita besar Bruno Sukarto, yakni mengembangkan STIKOM Uyelindo menjadi sebuah universitas. Menurutnya, cita-cita tersebut kini semakin mendekati kenyataan.

Hal itu ditandai dengan pelaksanaan asesmen lapangan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2 Maret 2026 sebagai bagian dari proses perubahan bentuk kelembagaan.

Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan lembaga ini sekaligus menunjukkan bahwa visi besar yang pernah dirintis oleh Bruno Sukarto terus dilanjutkan dan dikembangkan,” ujarnya.

Melki menilai perkembangan tersebut memiliki arti penting bagi pembangunan sumber daya manusia di NTT, terutama di tengah perubahan global yang semakin dipengaruhi oleh ekonomi digital.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin ditandai oleh ekonomi digital, kemampuan menguasai teknologi menjadi salah satu kunci utama kemajuan daerah,” katanya.

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT, menurut Melki, sangat menghargai dan mendukung peran lembaga pendidikan seperti STIKOM Uyelindo yang terus berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa makna sebuah monumen hanya akan tetap hidup jika masyarakat terus memelihara nilai-nilai yang diwakilinya.

Tugas kita bukan hanya meresmikan monumen ini. Tugas kita adalah menjaga agar visi dan semangat Bruno Sukarto tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini dan masa depan,” ujarnya.

Melki mengatakan, monumen tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa seorang anak dari kampung sederhana dapat memberikan kontribusi besar bagi daerah.

Monumen ini hendaknya menjadi pengingat bahwa seorang anak dari sebuah kampung sederhana pernah melakukan hal-hal besar di tempat ini,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ini merupakan kunjungannya yang kedua ke kampus tersebut. Dalam kunjungan itu ia melihat langsung dampak pendidikan yang telah dirasakan banyak orang melalui lembaga yang dirintis Bruno Sukarto.

Ini sudah kedua kali saya datang ke sini. Banyak sekali orang yang sudah merasakan pendidikan di tempat ini dan lahir dari gagasan besar Bapak Bruno Sukarto,” ujarnya.

Melki berharap monumen tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap almarhum sekaligus pengingat bagi masyarakat NTT untuk terus melanjutkan cita-cita besar mencerdaskan generasi bangsa melalui pendidikan.

Semoga monumen ini menjadi simbol penghormatan kepada almarhum serta pengingat bagi kita semua akan cita-cita besar mencerdaskan anak bangsa di Indonesia, khususnya di NTT,” katanya.

Peresmian monumen itu turut dihadiri Wali Kota Kupang Christian Widodo, Bupati Kupang Yosef Lede, Uskup Agung Kupang, pimpinan dan pengawas Yayasan Uyelewun Indonesia, pimpinan STIKOM Uyelindo Kupang, keluarga almarhum Bruno Sukarto, para imam konselebran, serta dosen dan civitas akademika kampus tersebut.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.