Turun Tengah Malam, Linus Lusi Datangi Rumah Balita Stunting di TTS, Jadi Orang Tua Asuh 12 Anak
![]() |
| Linus Lusi datangi rumah anak-anak stunting di Kabupaten TTS. Foto: Tim |
Linus yang juga menjabat Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) NTT mengatakan dirinya bersama relawan peduli stunting menjadi orang tua asuh bagi 12 anak stunting di Desa Bosen selama dua bulan ke depan.
“Kami bersama tim relawan peduli stunting menjadi bapak asuh bagi 12 anak stunting di Desa Bosen. Kami mendatangi rumah mereka satu per satu untuk melihat langsung kondisi yang dialami anak-anak dan keluarga mereka,” kata Linus kepada media, Kamis (12/3/2026) malam.
Kunjungan tersebut dilakukan hingga larut malam. Linus bersama rombongan didampingi Pelaksana Tugas Camat Mollo Utara Salle Nope, Kepala Desa Bosen Ale Topo, serta petugas gizi Puskesmas Melki Un dan Ade. Mereka menyambangi kediaman para balita stunting dari rumah ke rumah untuk melihat secara langsung kondisi kesehatan dan situasi keluarga.
Linus menjelaskan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam rapat bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) agar seluruh jajaran pemerintah daerah terlibat aktif dalam upaya penanganan stunting.
“Saya sebagai staf ahli gubernur dan Plt Kadispora bersama relawan mengambil bagian sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan stunting yang selama ini menjadi sorotan nasional,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebelum menuju Desa Bosen, dirinya baru tiba dari Larantuka setelah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menyelesaikan konflik antar desa di Adonara Timur. Dari Kupang, ia langsung menuju Soe dan melanjutkan peninjauan lapangan pada malam hari.
Dalam kunjungan tersebut, Linus dan rombongan terlebih dahulu mendatangi Puskesmas Rawat Inap Kapan untuk mengecek data stunting di Kecamatan Mollo Utara. Dari laporan petugas kesehatan setempat, jumlah balita stunting di kecamatan tersebut mencapai 653 anak.
Sebanyak 609 kasus tercatat di wilayah kerja Puskesmas Kapan, sedangkan Puskesmas Bati yang berjarak sekitar 12 kilometer dari puskesmas induk mencatat 45 balita stunting.
“Saya melihat kondisi riil di lapangan, dari rumah ke rumah. Ternyata kita memang membutuhkan gerakan peduli bersama untuk mengatasi stunting,” kata Linus.
Ia mengaku terharu melihat langsung kondisi balita yang mengalami stunting, yang sebagian besar berada dalam kategori gizi buruk.
“Saya sedih dan terharu melihat kondisi balita stunting di lapangan dengan status gizi rata-rata gizi buruk. Karena itu saya akan mengajak lebih banyak relawan untuk bergabung membantu mengatasi persoalan ini,” ujarnya.
Program orang tua asuh yang dijalankan Linus merupakan intervensi langsung terhadap balita stunting dari keluarga kurang mampu. Bantuan diberikan dalam bentuk bahan pangan bergizi dengan nilai Rp350 ribu per bulan untuk setiap anak dan minimal berlangsung selama dua bulan.
Dengan demikian, setiap anak akan menerima bantuan senilai Rp700 ribu selama masa intervensi. Bantuan tersebut diwujudkan dalam paket bahan pangan yang terdiri dari beras, telur, kacang hijau, serta abon ikan atau ikan segar sesuai rekomendasi ahli gizi dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT.
Selain memberikan bantuan pangan, orang tua asuh juga diharapkan memberikan pendampingan, motivasi, serta dukungan kepada keluarga anak asuh agar perbaikan gizi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Linus menegaskan, program ini merupakan bagian dari dukungan terhadap kebijakan nasional dalam percepatan penurunan stunting sekaligus upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di NTT.
Karena itu, keterlibatan seluruh perangkat daerah dinilai penting agar penanganan stunting dapat dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Ke depan, program orang tua asuh akan melibatkan seluruh pejabat di lingkup OPD Pemerintah Provinsi NTT. Setiap pejabat akan diminta menjadi orang tua asuh bagi anak stunting melalui sistem digital Dashboard Anting Berlian.
Melalui sistem tersebut, para pejabat dapat memilih anak asuh di wilayah kabupaten atau kota yang diinginkan. Program ini akan menjangkau 22 kabupaten/kota di NTT dengan fokus awal pada lima daerah prioritas, yakni Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Belu, Manggarai, dan Sumba Barat Daya.
Proses pemilihan anak asuh akan difasilitasi dan didampingi langsung oleh tim Dinas Kesehatan Provinsi NTT.
Dalam program perdana ini, Linus memilih 12 anak stunting di Desa Bosen sebagai anak asuhnya. Mereka adalah Joice Lette, Arjuna Sape, Ferani Sape, Paskalino Sape, Queensa Toto, Merion Oematan, Abdon Naben, Ogi Halla, Predela Rina Ludji, Nardi H Nenohai, Senimer Kaisuhene, dan Mardin Nenobais.
Kepala Desa Bosen Ale Topo menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah provinsi terhadap kondisi anak-anak di desanya. Ia mengatakan program tersebut menjadi harapan bagi keluarga yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi.
“Kami sangat bersyukur dengan program orang tua asuh ini karena ada 12 anak di Desa Bosen yang menjadi penerima. Ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami,” kata Ale Topo.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta kepada Linus Lusi yang telah memilih Desa Bosen sebagai lokasi pelaksanaan program.
Menurutnya, kehadiran program tersebut tidak hanya memberikan bantuan gizi, tetapi juga memotivasi masyarakat desa untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan anak-anak.
“Program ini mendorong kami di desa untuk kembali memperhatikan anak-anak kami agar bisa keluar dari persoalan stunting. Kami pernah mendengar program ini, tetapi baru hari ini kami benar-benar merasakannya,” ujarnya.
Ale Topo berharap program tersebut dapat berjalan berkelanjutan sehingga semakin banyak anak yang terbebas dari stunting di wilayahnya.
Editor: Ocep Purek
