NTT Mart By OSOP Resmi di SMKN 2 Kupang, Gubernur Melki: "Produk Sekolah Harus Kuasai Pasar"
![]() |
| Gubernur NTT Melki Laka Lena meninjau produk NTT Mart By OSOP SMKN 2 Kupang. Foto: Ibo |
Turut hadir mendampingi Gubernur dan Wakil Gubernur antara lain Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakos, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo, pimpinan OPD lingkup Pemerintah Provinsi NTT, kepala sekolah, para guru serta siswa.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menjelaskan bahwa NTT Mart merupakan bagian dari ekosistem penguatan ekonomi daerah yang dibangun melalui tiga pendekatan utama, yaitu OVOP (One Village One Product) berbasis desa dan kelurahan, OCOP (One Community One Product) berbasis komunitas, serta OSOP (One School One Product) yang berbasis sekolah.
Menurutnya, tiga pendekatan tersebut menjadi “tiga kaki” yang menopang gerakan ekonomi kerakyatan di NTT.
“Kalau di desa ada OVOP, di komunitas ada OCOP, maka di sekolah kita dorong OSOP. Dengan begitu produksi dari desa, komunitas, dan sekolah bisa saling terhubung dan memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Melki.
Ia menegaskan bahwa NTT Mart by OSOP di SMKN 2 Kupang harus menjadi ruang utama bagi produk-produk sekolah. Produk yang dijual di dalamnya diharapkan didominasi oleh hasil karya siswa dari SMKN 2 Kupang maupun sekolah lain, khususnya di Kota Kupang.
“NTT Mart ini harus menjadi etalase produk sekolah. Jangan sampai lebih banyak produk dari luar sekolah,” tegasnya.
Melki juga mengingatkan agar kehadiran NTT Mart tidak dibandingkan dengan jaringan ritel besar seperti Alfamart atau Indomaret yang telah berkembang puluhan tahun.
Menurutnya, NTT Mart masih dalam tahap awal dan akan terus berkembang seiring waktu. Karena itu, kritik dan masukan perlu diterima sebagai bagian dari proses membangun.
“Kita baru mulai. Jangan dibandingkan dengan yang sudah puluhan tahun berdiri dan punya jaringan besar. Yang penting kita mulai dulu agar masyarakat punya ruang untuk berproduksi dan menjual produknya,” katanya.
Ia menegaskan kebijakan ini dibuat untuk memastikan masyarakat memiliki ruang produksi sekaligus pasar bagi produk lokal sehingga ekonomi rakyat bisa bergerak.
Gubernur juga mengajak masyarakat NTT untuk mulai mengutamakan produk lokal dibanding produk dari luar daerah. Menurutnya, kebiasaan masyarakat yang lebih memilih produk luar menyebabkan uang daerah terus keluar.
Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat menjual bahan mentah seperti pisang atau ayam di pasar, tetapi kemudian membeli kembali produk olahan dari luar.
“Kita sering jual pisang, pulangnya beli molen. Jual ayam di pasar, pulangnya beli fried chicken. Ini yang harus kita ubah supaya uang bisa berputar di daerah,” ujarnya.
Melki menilai momentum penguatan produk lokal sangat penting, apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang bisa berdampak pada kenaikan harga barang.
Pemerintah Provinsi NTT juga berencana mengembangkan konsep NTT Mart sebagai pusat produk daerah di berbagai kota di Indonesia. Dalam konsep tersebut, NTT Mart tidak hanya menjadi pusat penjualan produk, tetapi juga dilengkapi dengan pusat kuliner daerah dan dukungan lembaga keuangan.
Beberapa kota yang direncanakan menjadi lokasi pengembangan antara lain Surabaya, Bali, Jakarta, dan Sorong.
“NTT Mart akan menjadi pusat produk orang NTT. Ada juga dapur kuliner NTT dan dukungan perbankan. Ini bagian dari strategi memperkuat ekonomi masyarakat NTT di berbagai daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo mengatakan sektor pendidikan menyambut baik gagasan besar pemerintah daerah melalui program NTT Mart dan OSOP.
Menurutnya, sekolah tidak hanya berperan mencerdaskan siswa secara akademik, tetapi juga harus menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.
“Sekolah tidak hanya menghabiskan, tetapi juga harus menghasilkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa NTT Mart dan dapur kuliner sekolah akan menjadi sarana konkret bagi siswa untuk memasarkan produk hasil praktik mereka sehingga tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran saja.
Melalui program ini, siswa juga akan belajar langsung tentang manajemen ritel, pemasaran digital, pelayanan pelanggan hingga pengelolaan keuangan.
“Kita ingin lulusan sekolah tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja,” katanya.
Ambrosius menambahkan, gedung NTT Mart di SMKN 2 Kupang merupakan hasil kerja praktik siswa dari berbagai program keahlian di sekolah tersebut.
Mulai dari pengukuran bangunan, konstruksi pondasi, pengelasan, pembangunan tembok dan plafon, instalasi listrik hingga desain bangunan dikerjakan oleh siswa sesuai bidang keahlian mereka.
Produk yang dipasarkan di NTT Mart berasal dari siswa SMK se-Kota Kupang, sementara dapur kuliner sekolah menyajikan berbagai makanan khas lokal seperti Se'i, jagung bose, serta minuman tradisional NTT.
Menurut Ambrosius, kehadiran NTT Mart menjadi langkah nyata membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan sekolah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda di NTT.
Editor: Ocep Purek
