News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Jalan Kaki Lintas 6 Pulau 945 Km, Frans Ungkap Ketimpangan Akses Sekolah ke Gubernur NTT

Jalan Kaki Lintas 6 Pulau 945 Km, Frans Ungkap Ketimpangan Akses Sekolah ke Gubernur NTT

Frans Lumentut (Kiri) dan Gubenrur NTT Melki Laka Lena (Kanan). Foto: Ocep Purek 
Kupang, NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan perlunya intervensi bersama untuk mengatasi ketimpangan pendidikan, kesejahteraan guru, hingga persoalan lingkungan di wilayah pedalaman, setelah menerima laporan langsung dari aksi sosial jalan kaki lintas pulau yang dilakukan Frans Lumentut.

Dalam audiensi di ruang kerja Gubernur, Kamis (16/4/2026), Frans memaparkan temuan lapangan selama 46 hari berjalan kaki sejauh kurang lebih 945 kilometer di enam pulau di NTT, yakni Rote, Solor, Adonara, Lembata, Alor, dan Pantar.

Sebagai Gubernur NTT, saya mewakili pemerintah dan masyarakat menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas perjuangan ini. Ini aksi nyata yang sangat membantu membuka mata kita semua tentang kondisi riil di lapangan,” kata Melki.

Ia menilai pendekatan yang dilakukan Frans menyusuri langsung desa-desa dengan berjalan kaki memberikan gambaran utuh tentang tantangan yang dihadapi masyarakat, khususnya di sektor pendidikan.

Ini luar biasa. Saya salut karena bapa berjalan kaki menyusuri pulau-pulau di NTT untuk misi sosial pendidikan,” ujarnya.

Melki juga menegaskan pentingnya perubahan pola kerja pemerintah agar lebih membumi dan tidak terjebak pada pendekatan seremonial. Ia bahkan menginstruksikan jajaran untuk lebih banyak menyentuh realitas lapangan secara langsung.

Kalau kunjungan kerja, jangan langsung turun di lokasi acara. Turun lebih jauh, jalan kaki 500 meter sampai 1 kilometer supaya kita bisa lihat langsung kondisi masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, langkah sederhana seperti berjalan kaki juga sedang ia praktikkan dalam aktivitas sehari-hari sebagai bagian dari upaya membangun kedekatan dengan masyarakat.

Saya sendiri sudah empat hari berjalan kaki dari rumah jabatan ke kantor,” katanya.

Frans Lumentut menjelaskan, misi sosial yang dijalankannya bertujuan menggalang dana dan perhatian publik untuk pendidikan anak-anak di pedalaman NTT. Ia bekerja sama dengan Yayasan Aksinyata Foundation, organisasi non-pemerintah yang fokus pada pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah terpencil.

Yayasan tersebut tercatat telah membantu 2.342 anak asuh dan mendampingi 24 sekolah di NTT, sekaligus memberikan dukungan terhadap kesejahteraan guru melalui bantuan honor dan program pendampingan pendidikan.

Saya dan yayasan memiliki visi yang sama, yaitu membantu pendidikan anak-anak di pedalaman. Karena itu misi ini bisa terlaksana,” ujar Frans.

Ia menyebut, aksi serupa sebelumnya juga pernah dilakukan pada 2024 dengan berjalan kaki di Pulau Flores dari Larantuka hingga Labuan Bajo selama sekitar satu bulan.

NTT selalu punya panggilan khusus bagi saya. Alamnya indah dan masyarakatnya sangat baik. Itu yang membuat saya kembali lagi,” katanya.

Selama perjalanan di enam pulau, Frans menemukan berbagai persoalan krusial di sektor pendidikan. Salah satunya adalah keterbatasan akses pendidikan lanjutan.

Di satu desa kadang hanya ada SD. Kalau mau lanjut SMP atau SMA harus ke desa lain atau ke kota. Ini sangat rentan membuat anak-anak putus sekolah karena keterbatasan biaya, meskipun mereka punya semangat belajar yang tinggi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius pemerintah, terutama dalam pemerataan fasilitas pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah di desa dan kecamatan.

Selain itu, Frans juga menyoroti kesejahteraan guru yang dinilai masih perlu ditingkatkan, serta kondisi infrastruktur jalan yang mempengaruhi akses pendidikan.

Masalah lain yang saya lihat adalah infrastruktur jalan dan kesejahteraan guru. Ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di daerah,” katanya.

Di luar sektor pendidikan, Frans juga menyoroti persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah yang masih minim di sejumlah wilayah.

Saya melihat masih ada warga yang membuang sampah di lereng bukit dan laut. Di banyak tempat belum ada sistem pengelolaan sampah yang baik, terutama sampah plastik,” ujarnya.

Meski demikian, Frans mengaku sangat terkesan dengan kekuatan sosial masyarakat NTT yang ia temui selama perjalanan.

Saya sering tidak tahu harus menginap di mana, tapi warga, pastor, pendeta, kepala desa, selalu membuka pintu rumah mereka. Mereka memberi makan, tempat tinggal, bahkan semangat,” ungkapnya.

Ia menilai masyarakat di pedesaan tetap menunjukkan kebahagiaan meski hidup dalam keterbatasan.

Mereka hidup sederhana tapi bahagia. Namun keterbatasan ini tidak boleh dinormalisasi. Kita semua harus bekerja sama untuk memperbaikinya,” tegasnya.

Pengalaman paling membekas baginya adalah melihat semangat anak-anak pergi ke sekolah setiap pagi.

Ada yang pakai sepatu, sandal, bahkan tanpa alas kaki, tapi mereka tetap semangat belajar. Itu yang membuat saya terus berjalan kaki untuk mereka,” katanya.

Frans menegaskan, pendidikan merupakan kunci perubahan masa depan dan membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk para donatur.

Saya percaya pendidikan bisa mengubah nasib. Anak-anak di NTT harus punya kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi Gubernur Melki yang dinilai terbuka menerima masukan dari lapangan.

Saya merasa terhormat bisa bertemu dan menyampaikan langsung apa yang saya lihat. Saya yakin ada hal-hal yang bisa ditindaklanjuti, meskipun memang tidak instan,” katanya.

Menanggapi berbagai temuan tersebut, Gubernur Melki memastikan pemerintah akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan.

Masukan seperti ini sangat penting karena datang langsung dari lapangan. Kita butuh kerja bersama semua pihak untuk menjawab tantangan ini,” tegasnya.

Audiensi ini mempertegas bahwa persoalan pendidikan di NTT tidak hanya soal akses, tetapi juga menyangkut pemerataan layanan, dukungan terhadap tenaga pendidik, serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang lebih luas, yang membutuhkan respons terpadu dari pemerintah dan partisipasi masyarakat.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama