Resmi Jadi Anggota Kehormatan KKMP Manulai 2, Menkop Setor Rp50 Juta-Gubernur NTT Soroti Ketimpangan Ekonomi
![]() |
| Gubernur NTT dan Menteri Koperasi RI meninju KKMP Manulai 2 kita Kupang. Foto: Ibo |
Kunjungan itu dihadiri Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTT Linus Lusi, Rektor Universitas Nusa Cendana, Direktur KSP TLM Indonesia, serta pengurus dan anggota koperasi.
Gubernur Melki Laka Lena menegaskan koperasi harus menjadi instrumen utama mewujudkan keadilan sosial sebagaimana amanat konstitusi. Ia menilai praktik ekonomi selama ini belum sepenuhnya berjalan sesuai prinsip usaha bersama.
“Kita ini politiknya sudah satu orang satu suara, tetapi urusan ekonomi belum sepenuhnya sejalan dengan konstitusi. Ekonomi itu usaha bersama, bukan usaha segelintir orang. Untung harus dinikmati bersama,” tegas Melki.
Ia meminta anggota koperasi memprioritaskan transaksi di dalam koperasi serta memperkuat kolaborasi lintas pihak.
“Selama ada barang di koperasi, kita beli di koperasi. Kita tidak bisa jalan sendiri, harus saling dukung,” ujarnya.
Melki juga menekankan transformasi koperasi dari sekadar simpan pinjam menuju sektor produksi hingga hilirisasi. “Jangan hanya produksi, tapi sampai distribusi dan pemasaran. Kita harus masuk ke industri, kita bisa main di semua rantai itu,” katanya.
Menurut dia, kolaborasi dengan lembaga seperti KSP TLM Indonesia menjadi contoh konkret dalam membangun koperasi yang kuat. Ia juga mengajak seluruh pihak memanfaatkan momentum dukungan pemerintah pusat dalam menggerakkan Koperasi Merah Putih di daerah.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono menegaskan koperasi merupakan alat pemberdayaan bagi masyarakat kecil dan menengah. Ia optimistis KDMP Manulai 2 dapat berkembang dalam waktu singkat.
“Koperasi adalah alat bagi mereka yang lemah. Kalau yang lemah berkumpul, menjadi kekuatan. Saya yakin dalam satu tahun koperasi ini akan berubah,” kata Ferry.
Ia menjelaskan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan instrumen strategis nasional untuk mengubah masyarakat dari penerima manfaat menjadi pelaku usaha. Pemerintah, kata dia, mengalokasikan anggaran hingga Rp3 miliar untuk setiap koperasi.
“Anggaran itu digunakan untuk pembangunan gudang, sarana pendukung, kendaraan operasional seperti truk, pick up, dan motor, serta penyediaan barang dagangan,” jelasnya.
Selain itu, dukungan pembiayaan juga akan diperkuat melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dan kemitraan dengan koperasi besar seperti KSP TLM.
Ferry menegaskan koperasi harus berperan sebagai pusat distribusi sekaligus offtaker hasil produksi masyarakat.
“Koperasi harus menjual kebutuhan pokok dan sekaligus menyerap hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM. Produk lokal harus jadi prioritas,” ujarnya.
Ia juga menyebut koperasi akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti pergudangan, alat pengering hasil panen, penyimpanan berpendingin untuk hortikultura, serta layanan kesehatan sederhana dan lembaga keuangan mikro.
“Kita ingin koperasi tidak hanya simpan pinjam, tapi masuk ke produksi, distribusi, bahkan industri. Ini cara kita mengejar ketertinggalan koperasi dari swasta dan BUMN,” katanya.
Dalam dialog dengan masyarakat, Menteri Koperasi juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi pascapanen dan industri kecil di daerah. Ia menilai selama ini sektor pascapanen kurang mendapat perhatian, padahal berpengaruh besar terhadap nilai ekonomi produk.
Ketua KKMP Manulai 2, Robi Dami, melaporkan koperasi yang berdiri pada 31 Mei 2025 dengan 20 anggota kini mulai berkembang. Setelah mendapat bimbingan dari Dinas Koperasi dan KSP TLM Indonesia, koperasi mulai menjalankan usaha gerai sembako berbasis produk lokal NTT.
“Produk yang kami jual adalah produk asli NTT, seperti kopi, beras lokal, dan air minum produksi koperasi. Ini sejalan dengan program pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia menyebut nilai aset usaha saat ini sekitar Rp40 juta dengan potensi peningkatan omzet hingga lebih dari Rp100 juta dalam enam bulan ke depan.
Meski demikian, koperasi masih menghadapi keterbatasan sarana operasional, seperti kendaraan distribusi dan peralatan administrasi.
“Kami masih menggunakan sistem manual dan terkendala mobilisasi, terutama untuk distribusi barang seperti air galon,” kata Robi.
Ia juga mengakui pemahaman masyarakat tentang koperasi masih rendah, meski minat mulai meningkat. Saat ini jumlah anggota bertambah menjadi 26 orang, dengan sekitar 31 calon anggota yang siap bergabung.
“Kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat paham manfaat koperasi dan mau bergabung,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, pengurus koperasi juga berharap dukungan pemerintah untuk memperkuat permodalan, sarana usaha, serta pengembangan jaringan pemasaran.
Acara dilanjutkan dengan peninjauan gerai sembako KKMP Manulai 2 oleh Menteri Koperasi, Gubernur NTT, dan Wakil Gubernur NTT dan semua tamu undangan yang hadir.
Kunjungan tersebut menegaskan arah kebijakan pemerintah dalam menjadikan koperasi sebagai pilar utama ekonomi rakyat, dengan fokus pada penguatan produksi, distribusi, dan pemanfaatan potensi lokal di tingkat desa dan kelurahan.
Editor: Ocep Purek
