487 Jemaah Haji NTT Tiba di Surabaya, Gubernur Melki Tekankan Makna Sosial Ibadah Haji
![]() |
| Gubernur NTT menyambut kepulangan 487 jemaah haji asal NTT dalam dua kelompok terbang (kloter) di Asrama Haji Debarkasi Surabaya, Senin (22/6/2026). Foto: Tim |
Gubernur NTT Melki Laka Lena yang menjemput langsung kepulangan haji asal NTT menyampaikan bahwa kepulangan jemaah merupakan momen penting yang tidak hanya berdimensi keagamaan, tetapi juga sosial bagi masyarakat NTT. Ia memastikan seluruh jemaah kembali dalam kondisi selamat dan dapat kembali ke keluarga masing-masing.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan seluruh masyarakat NTT, saya menyampaikan selamat datang kembali di tanah air kepada seluruh jemaah haji. Kita bersyukur karena Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari sekalian telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji dan kembali dalam keadaan penuh kebahagiaan,” kata Gubernur.
Kepulangan jemaah haji NTT ini disebut sebagai hasil kerja panjang penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan Kementerian Haji dan Umrah RI, Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi NTT, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Debarkasi Surabaya, serta para petugas lapangan, termasuk tenaga kesehatan yang mendampingi jemaah sejak keberangkatan hingga pemulangan.
Gubernur memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan haji, dengan menegaskan bahwa kualitas layanan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran dan kekhusyukan ibadah.
“Pelayanan yang baik merupakan bagian penting dalam mendukung kelancaran dan kekhusyukan ibadah para jemaah. Kerja keras seluruh petugas adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat dan pelayanan kepada tamu Allah,” ujarnya.
Selain menyoroti aspek pelayanan, Gubernur menekankan bahwa ibadah haji memiliki dimensi spiritual yang mendalam, bukan sekadar perjalanan fisik. Ia menyebut haji sebagai proses pembentukan karakter yang melatih kesabaran, keikhlasan, disiplin, kesetaraan, dan solidaritas.
“Ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan banyak nilai kehidupan, bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa gelar haji dan hajjah yang disandang para jemaah merupakan amanah moral yang harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, bukan sekadar status sosial.
Menurutnya, kemabruran haji tidak hanya diukur dari selesainya seluruh rangkaian ibadah, tetapi juga dari perubahan sikap setelah kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Indikator haji mabrur terlihat dari kejujuran, kerendahan hati, kepedulian sosial, semangat menolong sesama, dan kemampuan menjadi teladan di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Gubernur kemudian meminta para jemaah haji asal NTT untuk berperan aktif dalam menjaga harmoni sosial di daerah yang memiliki tingkat keberagaman tinggi, baik dari sisi agama, budaya, maupun suku. Ia menilai kepulangan jemaah haji juga membawa kekuatan moral baru di tengah masyarakat.
“Nusa Tenggara Timur adalah rumah besar yang dibangun di atas keberagaman. Para jemaah haji diharapkan menjadi bagian dari penguat kerukunan dan duta perdamaian di masyarakat,” katanya.
Dalam konteks pembangunan daerah, Gubernur menegaskan bahwa kemajuan NTT tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga oleh penguatan modal sosial, moral, dan spiritual masyarakat.
Ia menyebut nilai-nilai yang diperoleh selama ibadah haji seperti disiplin, kerja keras, kebersamaan, dan kejujuran harus menjadi bagian dari kontribusi nyata di lingkungan masing-masing.
“Pembangunan daerah juga membutuhkan modal sosial, moral, dan spiritual yang kuat. Nilai-nilai dari ibadah haji harus menjadi energi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga jemaah haji yang telah memberikan dukungan dan doa selama proses ibadah berlangsung. Ia menyebut keberangkatan hingga kepulangan jemaah tidak lepas dari peran keluarga di daerah asal.
“Kepulangan hari ini adalah buah dari doa dan kesabaran keluarga yang menunggu di rumah,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Gubernur kembali menegaskan harapan agar seluruh jemaah haji NTT dapat menjadi teladan di tengah masyarakat serta membawa dampak positif setelah kembali ke daerah masing-masing.
Ia mengajak para jemaah untuk menjadikan pengalaman spiritual di Tanah Suci sebagai penguat komitmen dalam menjaga persaudaraan dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Mari kita jadikan pengalaman spiritual dari Tanah Suci sebagai energi baru untuk menebarkan kebaikan, memperkuat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan membangun Nusa Tenggara Timur yang lebih maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan,” tutupnya.
Editor: Ocep Purek
