News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Di Forum FKIP Se-Indonesia, Gubernur NTT Minta Pendidikan Guru Siap Hadapi Disrupsi AI

Di Forum FKIP Se-Indonesia, Gubernur NTT Minta Pendidikan Guru Siap Hadapi Disrupsi AI

Gubernur NTT memberikan arahan pada Pertemuan Sela Forum Komunikasi (Forkom) Pimpinan FKIP Negeri se-Indonesia. Foto: Ibo
Kupang, NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, meminta fakultas keguruan dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) di Indonesia segera melakukan transformasi sistem pendidikan calon guru agar mampu menghadapi percepatan perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, dan perubahan pola belajar generasi baru.

Pesan tersebut disampaikan Melki saat memberikan arahan pada Pertemuan Sela Forum Komunikasi (Forkom) Pimpinan FKIP Negeri se-Indonesia yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) di Hotel Aston Kupang, Kamis (4/6/2026).

Dalam arahannya, Melki menegaskan dunia pendidikan sedang berada di titik perubahan besar akibat disrupsi teknologi yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk tata kelola pemerintahan, perguruan tinggi, hingga pola belajar mengajar di sekolah.

Menurutnya, jika pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu memaksa masyarakat masuk ke ruang digital, maka saat ini transformasi digital terjadi lebih cepat tanpa ada faktor pemaksa.

Dulu karena COVID kita dipaksa beradaptasi. Semua orang akhirnya belajar bekerja di ruang nyata dan ruang digital secara bersamaan. Sekarang tidak ada pemaksaan seperti itu, tetapi perubahan justru berjalan lebih cepat,” kata Melki.

Ia mengatakan tantangan utama pendidikan saat ini adalah bagaimana institusi pendidikan tetap mampu mempertahankan nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi yang semakin masif.

Melki mengingatkan bahwa AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, bekerja, hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang sebelumnya membutuhkan keterampilan khusus.

Teknologi jangan sampai membuat kita kehilangan sisi kemanusiaan. Hari ini banyak hal bisa dilakukan AI, tetapi pendidikan tetap harus menjaga manusia agar tetap menjadi manusia,” ujarnya.

Menurut Melki, perubahan teknologi sudah mulai menggeser berbagai jenis pekerjaan dan profesi. Ia mencontohkan bidang kesehatan yang kini mulai memanfaatkan robotik dan AI dalam layanan medis, farmasi, hingga analisis pengobatan.

Dokter umum, spesialis, subspesialis sekarang berhadapan dengan robotik dan AI. Di farmasi juga begitu. Tantangan seperti ini terjadi di semua bidang tanpa kecuali, termasuk pendidikan,” katanya.

Karena itu, ia meminta pendidikan calon guru mulai berorientasi pada kemampuan menyelesaikan masalah nyata, bukan hanya transfer teori.

Melki menilai pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah perlu diperkuat agar calon guru terbiasa menghadapi persoalan lapangan yang kompleks.

Kalau guru-guru nanti tidak terbiasa menghadapi masalah riil, akan sulit mengejar perubahan yang sangat cepat ini. Pembelajaran berbasis proyek dan problem solving harus lebih sering dilakukan,” katanya.

Gubernur juga menyoroti meningkatnya kemampuan generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital. Ia mengingatkan guru harus terus meningkatkan kapasitas agar tidak tertinggal dari peserta didik.

Saya melihat sendiri anak-anak SD sekarang presentasinya seperti mahasiswa. Kalau guru tidak terus belajar, bisa saja murid lebih cepat berkembang dibanding gurunya,” ujarnya.

Ia mengakui terdapat tantangan besar antara kecepatan perkembangan teknologi dengan kemampuan sistem pendidikan menghasilkan guru yang adaptif.

Yang saya khawatirkan adalah kecepatan teknologi informasi jauh lebih cepat dibanding kecepatan kita memproduksi guru-guru dengan kapasitas yang sesuai kebutuhan zaman sekarang,” katanya.

Melki juga menegaskan profesi guru tetap menjadi profesi strategis dalam pembangunan nasional karena kualitas pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sangat bergantung pada mutu tenaga pendidik yang dihasilkan lembaga pendidikan guru.

Transformasi pendidikan guru ini penting karena masa depan pendidikan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kampus-kampus FKIP yang menghasilkan guru untuk sekolah-sekolah kita,” ujarnya.

Selain substansi pendidikan, Melki juga menyinggung dampak ekonomi dari penyelenggaraan forum nasional tersebut terhadap daerah. Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai wilayah turut menggerakkan sektor jasa dan UMKM lokal.

Kalau ratusan orang datang ke Kupang selama beberapa hari tentu ada perputaran ekonomi yang terjadi bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forkom FKIP Negeri se-Indonesia, Imam Sujadi, mengatakan forum tersebut menjadi ruang konsolidasi nasional untuk merumuskan arah transformasi pendidikan guru di tengah era digital dan AI.

Ia mengatakan forum membahas sejumlah isu strategis mulai dari penguatan kelembagaan FKIP, tata kelola pendidikan profesi guru (PPG), peningkatan mutu pendidikan, hingga sistem akreditasi program studi.

FKIP harus memimpin transformasi pendidikan karena perubahan cara manusia belajar dan bekerja sedang berlangsung sangat cepat,” katanya.

Menurut Imam, forum juga akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada kementerian terkait, termasuk persoalan penguatan mutu pendidikan guru dan sistem akreditasi pendidikan tinggi kependidikan.

Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri S. Bale, mengatakan pertemuan tersebut penting untuk memperkuat jejaring antar-LPTK negeri di Indonesia sekaligus merumuskan kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Kita tidak boleh menjadi penonton pasif terhadap disrupsi teknologi. Perguruan tinggi pencetak guru harus menjadi penggerak transformasi pendidikan,” ujarnya.

Ia berharap forum menghasilkan rekomendasi strategis mengenai kebijakan akademik, pembiayaan, kemahasiswaan, dan tata kelola pendidikan kependidikan yang lebih responsif terhadap era digital.

Dekan FKIP Undana, Malkisedek Taneo, mengatakan pertemuan sela Forkom FKIP di Kupang diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, termasuk peserta dari kawasan timur Indonesia dan delegasi internasional dari Timor Leste.

"Forum tersebut berlangsung selama tiga hari dengan agenda pleno, diskusi komisi, dan penyusunan rekomendasi kebijakan pendidikan yang akan dibawa ke pertemuan puncak Forkom FKIP Negeri se-Indonesia di Ambon pada November 2026", ujarnya.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.