Gubernur Melki Minta Lulusan UMK Kolaborasi dengan Pemerintah Atasi Kemiskinan dan Stunting di NTT
![]() |
| Gubernur NTT memberikan arahan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-36 dan Pascasarjana ke-2 Universitas Muhammadiyah Kupang. Foto: Ocep Purek |
Pesan itu disampaikan Melki saat memberikan arahan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-36 dan Pascasarjana ke-2 Universitas Muhammadiyah Kupang di Aula B Kampus UMK, Kamis (4/6/2026).
Menurut Melki, momentum wisuda bukan sekadar penanda keberhasilan akademik, tetapi menjadi titik awal memasuki tantangan kehidupan yang sesungguhnya di tengah perubahan global, persaingan kerja, dan tuntutan adaptasi yang semakin tinggi.
“Wisuda ini simbol capaian intelektual, tetapi juga simbol tanggung jawab moral bahwa ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh harus diabdikan bagi masyarakat, daerah, bangsa, dan negara,” kata Melki.
Ia menegaskan arah pembangunan NTT saat ini menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama. Karena itu, pemerintah provinsi terus mendorong transformasi pendidikan agar menghasilkan SDM yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Salah satu kebijakan yang telah diterapkan ialah Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat yang mengatur waktu belajar masyarakat pada pukul 18.00–19.30 WITA.
Menurut Melki, kebijakan tersebut lahir karena pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan kampus, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat.
“Melalui jam belajar masyarakat, kami ingin menciptakan ruang yang tenang dan kondusif agar anak-anak, mahasiswa, dan keluarga memberi perhatian lebih terhadap budaya belajar,” ujarnya.
Melki juga menilai pola pendidikan berbasis asrama memiliki dampak positif dalam pembentukan karakter dan disiplin peserta didik. Pengalaman hidup bersama, menurutnya, membuat proses pembentukan karakter lebih efektif dibanding pola pendidikan tanpa lingkungan pembinaan yang kuat.
Selain isu pendidikan, Melki menyoroti tantangan ekonomi NTT yang masih menghadapi ketimpangan perdagangan dengan daerah lain.
Ia menyebut data perdagangan daerah menunjukkan nilai barang yang masuk ke NTT masih jauh lebih besar dibanding produk yang keluar dari daerah.
“Data terakhir menunjukkan nilai perdagangan kita sekitar Rp51 triliun. Artinya barang yang kita beli dari luar lebih besar dibanding yang kita kirim keluar. Ini sebenarnya peluang besar bagi generasi muda untuk masuk ke sektor produksi,” katanya.
Melki mengungkapkan masih banyak kebutuhan dasar masyarakat NTT yang dipasok dari luar daerah, mulai dari telur ayam, daging ayam, hingga pangan dan komoditas pertanian lainnya.
Karena itu, ia mendorong lulusan perguruan tinggi melihat persoalan tersebut sebagai ruang usaha baru, baik di sektor peternakan, pertanian, pengolahan pangan, maupun industri kreatif.
“Kalau telur masih didatangkan dari luar, ayam masih masuk dari luar, ini peluang. Anak-anak muda harus mulai melihat sektor-sektor yang bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap daerah lain,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Melki, juga sedang memperkuat hilirisasi produk lokal agar komoditas daerah tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, dan pemasaran yang lebih baik.
Pemprov juga menyiapkan penguatan pemasaran produk UMKM melalui konsep ruang promosi dan penjualan produk lokal agar wisatawan maupun konsumen lebih mudah mengakses produk khas NTT.
“Kita ingin produk-produk NTT meningkat produktivitasnya, kemudian dihilirisasi, dikemas dengan baik, dipasarkan dengan baik, dan dibeli dengan baik,” katanya.
Pada sektor kesehatan dan sosial, Melki menyebut stunting, kemiskinan, dan kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan serius pembangunan daerah. Namun ia meminta generasi muda tidak melihat masalah itu semata sebagai beban pemerintah.
“Masalah masyarakat adalah masalah pemerintah, tetapi itu juga peluang bagi siapa saja yang mau bekerja dan menghadirkan solusi,” ujarnya.
Untuk mendorong lahirnya wirausaha muda, Pemprov NTT saat ini menyiapkan pendampingan bagi lulusan perguruan tinggi yang ingin membangun usaha, mulai dari akses pembiayaan, literasi keuangan, hingga koneksi pasar.
Melki mengatakan pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan perbankan, Bank Indonesia, OJK, dan lembaga keuangan lain untuk membuka akses pembiayaan bagi wirausaha muda.
“Kami sudah minta ada perhatian khusus bagi lulusan kampus yang ingin menjadi entrepreneur. Pemerintah provinsi akan membantu akses permodalan dan pendampingannya,” katanya.
Ia juga menyoroti peluang besar pada sektor pertanian yang saat ini menunjukkan tren peningkatan produksi. Produksi beras, menurutnya, mengalami kenaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya dan harus diikuti dengan pengembangan hilirisasi agar petani memperoleh nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kalau beras dijual biasa nilainya terbatas. Tapi kalau dikemas, diberi identitas daerah, kualitasnya dijaga, nilainya bisa meningkat dan pendapatan petani juga ikut naik,” ujarnya.
Di tengah situasi global yang masih dipengaruhi konflik internasional dan fluktuasi ekonomi dunia, Melki meminta lulusan perguruan tinggi lebih adaptif membaca perubahan dan mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif.
Ia juga membuka peluang lebih luas bagi lulusan NTT untuk masuk ke pasar kerja internasional melalui jaringan perguruan tinggi dan kerja sama luar negeri.
“Kesempatan ke luar negeri terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri, memenuhi syarat, dan membangun kompetensi,” katanya.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV Adrianus Amheka mengingatkan lulusan perguruan tinggi agar tidak hanya mengandalkan kompetensi akademik, tetapi juga memperkuat kemampuan sosial, empati, dan karakter.
“Kompetensi bidang penting, tetapi kompetensi sosial juga menentukan bagaimana kita hadir memberi manfaat di masyarakat,” katanya.
Ia juga menyebut perguruan tinggi di NTT akan terlibat dalam program KKN tematik inklusif yang melibatkan ribuan mahasiswa di berbagai desa untuk membantu penyelesaian persoalan masyarakat.
Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang Nazaruddin Malik mengatakan kampus terus memperkuat transformasi kelembagaan, peningkatan kualitas SDM, serta membangun budaya belajar yang adaptif dan berbasis teknologi agar lulusan lebih siap menghadapi perubahan.
“Kami ingin menghasilkan lulusan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga adaptif, kolaboratif, dan memiliki daya tahan menghadapi perubahan,” ujarnya.
Pada wisuda periode ini, Universitas Muhammadiyah Kupang mewisuda 167 lulusan sarjana dan pascasarjana.
Editor: Ocep Purek
