Gubernur Melki Ubah Arah Pendidikan NTT: Akademik, Karakter, dan Kewirausahaan Jadi Prioritas Sekolah
![]() |
| Gubernur NTT meninjau stand UMKM SMA 4 Kupang. Foto: Ocep Purek |
Penegasan itu disampaikan Melki saat memberikan arahan dalam kegiatan bazar dan gelar karya produk kerajinan serta kewirausahaan siswa yang dirangkaikan dengan puncak HUT ke-35 SMA Negeri 4 Kupang di halaman sekolah tersebut, Jumat (29/5/2025).
Menurut Melki, arah pembangunan sumber daya manusia NTT harus disesuaikan dengan tantangan daerah yang masih menghadapi keterbatasan pertumbuhan ekonomi meski memiliki sumber daya alam melimpah.
“Sekolah-sekolah di NTT, SMA, SMK maupun SLB harus bisa menyiapkan anak didiknya untuk tiga hal sekaligus. Akademiknya harus baik, karakternya harus kuat, dan harus punya kemampuan kewirausahaan,” kata Melki.
Ia menjelaskan, capaian akademik tetap penting dan harus diukur secara objektif melalui hasil belajar siswa. Namun, menurutnya, kecerdasan tanpa fondasi karakter akan membuat generasi muda rentan menghadapi tekanan sosial maupun tantangan dunia kerja.
“Orang yang punya karakter kuat bisa ditempatkan di mana saja dan tetap bertahan. Tapi orang pintar yang karakternya buruk, ketika menghadapi tantangan bisa mudah ditekan, mudah diintimidasi, bahkan gampang dibeli. Jadi pintar saja tidak cukup,” ujarnya.
Karakter yang dimaksud, lanjutnya, mencakup kejujuran, daya juang, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan.
Selain akademik dan karakter, Melki memberi perhatian khusus pada pengembangan kewirausahaan siswa. Ia mengatakan kondisi ekonomi NTT saat ini membutuhkan generasi muda yang mampu menciptakan peluang baru, bukan hanya bergantung pada lapangan kerja formal.
Ia menilai potensi daerah sebenarnya besar, mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan hingga ekonomi kreatif. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu diterjemahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Dengan potensi sumber daya alam NTT yang besar dan kemampuan anak-anak yang sebenarnya bagus, maka kewirausahaan harus menjadi bagian penting dari pendidikan kita,” katanya.
Melki juga menyinggung fenomena unik sumber daya manusia NTT. Meski capaian tes potensi akademik nasional belum tinggi, ia menilai banyak indikator menunjukkan kapasitas generasi muda daerah ini sebenarnya kompetitif.
“Kita mungkin masih di posisi bawah untuk beberapa indikator akademik, tapi minat baca orang NTT tinggi. Banyak anak-anak NTT punya potensi besar, tinggal bagaimana kita dorong,” ujarnya.
Dalam arahannya, Melki meminta sekolah lebih aktif memberi ruang bagi siswa untuk menampilkan kemampuan dan karya nyata, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital yang membuka akses lebih luas bagi generasi muda.
Menurutnya, era digital membuat anak-anak dari daerah mana pun memiliki kesempatan yang sama untuk dikenal jika mampu menunjukkan kualitas dan kreativitasnya.
“Hari ini anak-anak bisa menjadi apa saja. Dunia digital membuat potensi dari kampung mana pun bisa muncul dan dikenal banyak orang,” katanya.
Ia juga mengingatkan penggunaan teknologi digital memiliki dua sisi. Selain membuka peluang, media sosial juga bisa membawa dampak negatif jika tidak diimbangi karakter yang kuat.
Karena itu, ia meminta siswa menggunakan ruang digital untuk menunjukkan hal-hal produktif seperti karya seni, olahraga, kuliner, inovasi produk, budaya, hingga keterampilan kewirausahaan.
“Kalau punya kemampuan akademik, tampilkan. Kalau punya karya seni, olahraga, kuliner, fashion, budaya, tampilkan. Dunia sekarang memberi ruang besar untuk itu,” ujarnya.
Melki mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong pengembangan potensi siswa melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perbankan, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dunia usaha, serta organisasi perangkat daerah.
Ia menyebut dukungan lintas sektor diperlukan agar produk dan kreativitas siswa tidak berhenti sebagai kegiatan sekolah semata, tetapi berkembang menjadi peluang ekonomi baru.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo mengatakan gagasan besar gubernur terkait penguatan karakter, akademik, dan kewirausahaan mulai diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Menurut Ambrosius, kegiatan bazar dan gelar karya siswa di SMA Negeri 4 Kupang menjadi salah satu contoh implementasi arah kebijakan pendidikan yang sedang didorong pemerintah provinsi.
“Semangat yang sama sedang tumbuh di sekolah-sekolah. Ide besar tentang karakter, kemampuan akademik dan kewirausahaan mulai dilaksanakan, dan SMA Negeri 4 menampilkan hasil-hasilnya melalui kegiatan ini,” kata Ambrosius.
Ia berharap sekolah-sekolah tidak lagi hanya berorientasi pada capaian nilai, tetapi juga mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, kreatif, dan memiliki keterampilan menghadapi perubahan sosial maupun ekonomi.
Editor: Ocep Purek
