Menabur Senyum di Tengah Duka, Asti Laka Lena Bawa Bantuan dan Pulihkan Trauma Anak Pengungsi
![]() |
| Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena. Foto: Tim |
Bersama jajaran TP PKK Provinsi NTT, Inovasi, dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Mindriyati bergerak dari Kabupaten Sikka menuju Kabupaten Ende untuk menemui langsung warga yang bertahan di posko-posko pengungsian mandiri.
Di Kabupaten Sikka, kegiatan dilakukan pada Minggu, 23 Agustus 2026, dengan menyambangi warga terdampak di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, serta Kelurahan Wolomarang dan Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat.
Bantuan logistik disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana. Namun, perhatian tim tidak berhenti pada kebutuhan fisik. Kondisi psikologis warga, terutama anak-anak, juga menjadi perhatian.
Melalui pendampingan psikologis dan kegiatan trauma healing, anak-anak diajak bermain dan berinteraksi dalam suasana yang lebih ringan di tengah situasi pengungsian.
“Tak hanya bantuan fisik, keceriaan anak-anak di pengungsian menjadi fokus utama kami. Melalui sesi trauma healing, gelak tawa dan senyuman polos mereka kembali mengudara,” kata Asti.
Sehari kemudian, Senin, 24 Agustus 2026, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Ende. Mindriyati bersama tim TP PKK Provinsi NTT, Inovasi, dan HIMPSI menyambangi tiga desa di Kecamatan Nangapanda yang menjadi lokasi pengungsian mandiri warga terdampak gempa.
Di tempat itu, bantuan logistik kembali diserahkan secara langsung kepada masyarakat.
Pendampingan psikologis juga dilakukan bagi anak-anak. Mereka diajak mengikuti aktivitas bermain sebagai bagian dari trauma healing untuk membantu memulihkan rasa aman dan mengurangi tekanan psikologis setelah mengalami bencana.
“Melihat tawa bahagia dan binar mata mereka saat bermain adalah obat terbaik. Tawa riang mereka hari ini jadi pengingat bahwa selalu ada harapan di setiap pemulihan,” ujar Asti.
Menurut dia, anak-anak yang berada di tengah situasi bencana merupakan gambaran ketangguhan masyarakat Flores. Karena itu, pemulihan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kembali rumah atau pemenuhan kebutuhan logistik, tetapi juga memastikan anak-anak dapat kembali merasakan suasana aman dan bahagia.
“Mereka adalah bukti ketangguhan Flores yang sesungguhnya,” katanya.
Asti juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan donatur yang ikut membantu penanganan warga terdampak gempa.
Ia mengajak seluruh pihak untuk terus bergandengan tangan membantu masyarakat yang masih berada dalam masa pemulihan.
“Terima kasih kepada seluruh relawan dan donatur yang telah menjadi jembatan kebaikan ini. Mari terus bergandengan tangan, karena senyum mereka adalah harapan kita bersama,” ujarnya.
Kehadiran TP PKK NTT di Sikka dan Ende menunjukkan bahwa penanganan pascabencana tidak semata-mata berfokus pada bantuan material. Pemulihan mental dan psikologis masyarakat, terutama anak-anak, menjadi bagian penting agar warga dapat perlahan bangkit dari trauma akibat bencana.
“Semoga kondisi segera membaik dan saudara-saudara kita di Sikka diberikan kekuatan serta ketabahan,” kata Asti.
Editor: Ocep Purek
