Tanggalkan Jabatan Sejenak, Melki Laka Lena Jalankan Perannya sebagai Ayah di Hari Pertama Sekolah Putrinya
![]() |
| Melki Laka Lena mengantar anak ke sekolah di hari pertama masuk sekolah. Foto: Ocep Purek |
Di hari pertama masuk sekolah, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memilih menanggalkan seluruh atribut kekuasaan. Tanpa pengawalan dan tanpa perlakuan khusus, ia datang sebagai seorang ayah yang menggandeng tangan putri semata wayangnya menuju ruang kelas. Dari halaman sekolah itu, pesan tentang pentingnya peran ayah dalam membangun masa depan anak disampaikan bukan lewat pidato, melainkan melalui keteladanan.
Bersama sang istri, Asti Laka Lena, Melki mengantar putri semata wayangnya, Michell Laka Lena, pada hari pertama masuk sekolah. Tidak ada iring-iringan kendaraan dinas, tidak ada pengawalan khusus, dan tidak ada perlakuan istimewa yang biasanya melekat pada seorang gubernur. Ia datang seperti ayah-ayah lainnya, berdiri di antara para orang tua, berbincang, mengantar anak hingga gerbang sekolah, lalu membiarkan momen sederhana itu berbicara dengan sendirinya.
Pilihan Melki untuk hadir sebagai ayah, bukan sebagai pejabat, menjadi simbol kuat bahwa kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan dari balik podium. Kadang, kepemimpinan justru lahir dari tindakan kecil yang mampu menginspirasi banyak orang.
Momen tersebut bukan sekadar aktivitas keluarga. Kehadiran Melki merupakan bentuk nyata implementasi Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), sebuah gerakan nasional yang bertujuan memperkuat keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak.
Sehari sebelumnya, Pemerintah Provinsi NTT telah mengajak seluruh ayah di daerah ini untuk meluangkan waktu mengantar anak mereka ke sekolah pada hari pertama masuk. Ajakan itu kemudian dibuktikan langsung oleh gubernurnya.
Langkah tersebut memperlihatkan konsistensi antara kebijakan dan tindakan. Alih-alih hanya mengeluarkan imbauan, Melki memilih menjadi orang pertama yang mempraktikkannya.
Gerakan GAMAS merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS).
Melalui surat edaran yang diterbitkan Pemerintah Provinsi NTT, seluruh perangkat daerah, instansi vertikal, BUMD, hingga perusahaan swasta diimbau memberikan dukungan kepada pegawai laki-laki yang memiliki anak usia sekolah agar dapat berpartisipasi aktif dalam kedua gerakan tersebut.
Pemerintah daerah juga mendorong pemberian fleksibilitas jam kerja sehingga para ayah dapat mengantar anak di hari pertama sekolah maupun mengambil rapor tanpa harus mengabaikan kewajiban pekerjaan. Selain itu, perangkat daerah yang menangani urusan pengendalian penduduk dan keluarga berencana diminta mengintensifkan sosialisasi mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sebagai fondasi membangun keluarga yang tangguh.
Satuan pendidikan di seluruh NTT pun didorong mengajak kehadiran ayah atau wali laki-laki dalam momentum-momentum penting pendidikan anak.
Kebijakan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa pengasuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Kehadiran ayah, bahkan dalam momen yang tampak sederhana seperti mengantar anak ke sekolah, memiliki dampak psikologis yang besar terhadap rasa aman, kepercayaan diri, serta perkembangan karakter anak.
Di halaman Stella Gracia School pagi itu, pesan tersebut tampak nyata. Melki tidak tampil sebagai gubernur yang sedang menjalankan agenda pemerintahan, melainkan sebagai seorang ayah yang ingin memastikan putrinya memulai tahun ajaran baru dengan senyum dan rasa percaya diri.
Di tengah budaya yang masih sering memandang pengasuhan sebagai tugas utama ibu, tindakan Melki menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari rumah. Seorang ayah yang hadir dalam kehidupan anak bukan hanya sedang mengantar ke sekolah, tetapi juga sedang menanamkan rasa aman, perhatian, dan kasih sayang yang akan menjadi bekal anak di masa depan.
Melalui teladan tersebut, Pemerintah Provinsi NTT ingin menunjukkan bahwa keberhasilan program pembangunan keluarga tidak cukup hanya dengan regulasi. Keteladanan pemimpin menjadi faktor penting untuk menggerakkan perubahan perilaku masyarakat.
Hari pertama sekolah akhirnya menjadi lebih dari sekadar awal tahun ajaran baru. Di halaman sebuah sekolah di Kota Kupang, momen sederhana antara seorang ayah dan putrinya menjelma menjadi pesan besar bahwa membangun generasi unggul dimulai dari keberanian seorang ayah untuk hadir, meluangkan waktu, dan mendampingi anak-anaknya sejak langkah pertama mereka memasuki gerbang sekolah.
Editor: Ocep Purek
