News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Memaknai Semangat Sumpah Pemuda di Era Modern

Memaknai Semangat Sumpah Pemuda di Era Modern


Oleh: Muhamad Nasrulla M

Guru SMAN 1 Ile Ape


NTTPride.com - Setiap 28 Oktober kita mengenang para pemuda yang pernah membuat sebuah keputusan besar: berhenti melihat perbedaan sebagai alasan untuk terpecah, lalu memilih membayangkan sebuah bangsa yang sama.

Hampir satu abad kemudian, Indonesia telah berubah. Persoalan pemuda pun tidak lagi sama. Kita tidak sedang berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang mereka alami. Tantangan kita jauh lebih beragam: bagaimana pemuda bertahan di tengah derasnya informasi, tekanan sosial, perubahan teknologi, godaan narkoba, politik identitas, hingga berbagai persoalan yang perlahan dapat menjauhkan mereka dari masa depan yang semestinya.

Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah pemuda masih memiliki semangat persatuan. Kita perlu bertanya lebih jauh: 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗰𝘂𝗸𝘂𝗽 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮?

Pertanyaan ini penting karena masa depan pemuda tidak hanya ditentukan oleh cita-cita yang besar, tetapi juga oleh kemampuan mereka menjaga diri dan menentukan pilihan.

Narkoba, misalnya, bukan semata persoalan hukum atau kesehatan. Ia juga menyentuh persoalan yang lebih dalam: bagaimana seorang anak muda menemukan makna hidup, lingkungan pergaulan, ruang aktualisasi, dan harapan terhadap masa depan. Ketika narkoba masuk ke dalam kehidupan pemuda, yang rusak bukan hanya dirinya. Keluarga ikut menanggung, lingkungan sosial kehilangan potensi, dan bangsa kehilangan manusia yang seharusnya dapat tumbuh menjadi kekuatan perubahan.

Maka, membangun pemuda bebas narkoba tidak cukup hanya dengan mengatakan 𝘫𝘢𝘶𝘩𝘪 𝘯𝘢𝘳𝘬𝘰𝘣𝘢. Kita perlu menciptakan pemuda yang memiliki alasan kuat untuk mengatakan tidak.

Salah satu kekuatan itu adalah pengetahuan.

Di sinilah budaya membaca menjadi penting. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik atau cara mendapatkan nilai yang baik. Membaca adalah cara memperluas dunia. Dengan membaca, seorang pemuda belajar bahwa persoalan tidak selalu sesederhana apa yang terlihat. Ia belajar mempertanyakan informasi, mengenali kepentingan, memahami perbedaan, dan menyadari bahwa satu persoalan dapat memiliki banyak sudut pandang.

Dari kebiasaan membaca lahir kemampuan berpikir kritis. Dan pemuda yang berpikir kritis tidak mudah diseret oleh arus.

Ia tidak langsung percaya pada informasi yang viral. Tidak mudah membenci hanya karena berbeda pilihan. Tidak gampang menjadi pengikut karena takut dianggap berbeda. Ia belajar memeriksa, mempertimbangkan, lalu mengambil sikap.

Kemampuan semacam ini bukan hanya penting untuk melindungi pemuda dari informasi palsu atau pengaruh buruk pergaulan. Ia juga merupakan fondasi penting bagi kehidupan demokrasi.

 Sebab demokrasi tidak cukup membutuhkan orang yang memiliki hak suara. Demokrasi membutuhkan warga yang memiliki kesadaran.

Pemuda yang memahami demokrasi tahu bahwa berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan. Kritik bukan pengkhianatan. Kebebasan bukan kebebasan untuk menyakiti. Dan kekuasaan bukan sesuatu yang harus selalu dibenarkan hanya karena kita menyukai siapa yang sedang memegangnya.

Di sinilah hubungan antara membaca, berpikir kritis, menjauhi narkoba, dan berdemokrasi menemukan satu titik temu: 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗶𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿.

Pemuda yang memiliki wawasan luas akan memiliki lebih banyak kemungkinan untuk melihat hidup. Ia tidak mudah mencari jalan keluar melalui narkoba karena memiliki ruang lain untuk bertumbuh. Ia tidak mudah diperalat oleh propaganda karena terbiasa membaca dan berpikir. Ia tidak mudah memusuhi perbedaan karena memahami bahwa demokrasi memang dibangun dari keberagaman.

Mungkin inilah cara yang lebih relevan untuk memaknai Sumpah Pemuda hari ini. Para pemuda 1928 tidak mewariskan kepada kita sekadar sebuah ikrar. Mereka mewariskan keberanian untuk berpikir melampaui keadaan zamannya.

Kini giliran kita.

Bukan sekadar melahirkan pemuda yang hafal sejarah, tetapi pemuda yang mampu membaca zamannya. Pemuda yang sehat, bebas dari narkoba, luas wawasannya, kritis pikirannya, dewasa dalam berdemokrasi, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan di sekitarnya.

Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pemuda yang kita miliki.

𝗜𝗮 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗸𝘂𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘁𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻.

Dan mungkin, itulah bentuk Sumpah Pemuda yang paling nyata hari ini: bukan hanya mengucapkan 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢, tetapi memastikan bahwa putra-putri Indonesia memiliki pengetahuan, keberanian, dan kesadaran untuk menentukan masa depan bangsanya sendiri.**


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.