News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

OJK Catat Literasi Keuangan NTT 67,71 Persen, Gubernur Melki Dorong Edukasi Masyarakat

OJK Catat Literasi Keuangan NTT 67,71 Persen, Gubernur Melki Dorong Edukasi Masyarakat

Arahan Gubernur NTT saat membuka Grand Final Pemilihan Duta Literasi Keuangan Provinsi NTT Tahun 2026 di Hotel Aston Kupang, Sabtu, 31 Oktober 2026. Foto: Ocep Purek 
Kupang, Nttpride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menegaskan, keberhasilan perluasan akses keuangan tidak cukup diukur dari banyaknya rekening yang dimiliki masyarakat. Hal yang jauh lebih penting adalah kemampuan masyarakat memahami, mengelola, dan memanfaatkan layanan keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga serta mengembangkan usaha produktif.

Penegasan itu disampaikan Melki saat membuka Grand Final Pemilihan Duta Literasi Keuangan Provinsi NTT Tahun 2026 di Hotel Aston Kupang, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Menurut Melki, masyarakat tidak cukup hanya memiliki rekening perbankan. Mereka juga harus memahami manfaat menabung, mampu merencanakan keuangan, serta mengetahui cara menggunakan berbagai produk keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.

"Perluasan akses keuangan tidak cukup dilihat dari banyaknya rekening yang dibuka, tetapi yang penting adalah bagaimana memberikan akses dan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat," ujar Melki.

Ia mencontohkan, pelaku usaha tidak cukup hanya memperoleh akses pembiayaan dari lembaga keuangan. Pembiayaan tersebut harus dikelola secara tepat agar mampu meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usaha.

Begitu pula setiap keluarga perlu memiliki kemampuan mengatur pendapatan, mempersiapkan biaya pendidikan anak, serta membangun ketahanan finansial untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga.

Melki menilai, literasi keuangan merupakan keterampilan hidup yang harus dimiliki masyarakat karena berkaitan langsung dengan kemampuan membangun masa depan yang lebih baik.

Gubernur Melki mengatakan, peningkatan literasi keuangan di NTT membutuhkan pendekatan khusus karena kondisi geografis daerah yang merupakan provinsi kepulauan serta karakteristik masyarakat dengan mata pencaharian yang beragam.

Ia menyebut sekitar 60 persen penduduk NTT bekerja di sektor pertanian. Selain petani, terdapat nelayan, peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perempuan pengusaha, serta generasi muda yang membutuhkan pemahaman keuangan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Seorang petani, misalnya, perlu memahami cara mengelola pendapatan hasil panen, menyisihkan penghasilan, dan memanfaatkan pembiayaan produktif secara bertanggung jawab.

Hal serupa berlaku bagi nelayan, peternak, dan pelaku UMKM agar dana yang diperoleh dari lembaga keuangan benar-benar digunakan untuk mendukung keberlanjutan serta pengembangan usaha.

Karena itu, Melki berharap masyarakat semakin mengenal dan memahami berbagai produk keuangan, mulai dari perbankan, asuransi, investasi hingga pembiayaan.

Ia juga mengaitkan peningkatan literasi keuangan dengan agenda pembangunan NTT digital yang menjadi bagian dari cita-cita kepemimpinan Melki-Joni.

Menurut dia, masyarakat NTT ke depan harus semakin cakap memanfaatkan teknologi digital, cerdas secara finansial, terlindungi dalam bertransaksi, serta mampu menciptakan peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi.

Tantangan yang disampaikan Gubernur Melki tersebut sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, tingkat literasi keuangan masyarakat NTT baru mencapai 67,71 persen. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan telah mencapai 92,78 persen.

Artinya, akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan sudah relatif luas, tetapi pemahaman mereka mengenai manfaat, risiko, serta cara menggunakan layanan tersebut belum sepenuhnya mengikuti perkembangan akses yang tersedia.

Kepala OJK Provinsi NTT Yan Jimmy Hendrik Simarmata mengatakan, capaian tersebut masih berada di bawah angka nasional. Secara nasional, indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan sebesar 93,61 persen.

"Data tersebut memberikan dua pesan penting. Pertama, akses masyarakat NTT terhadap layanan keuangan telah menjangkau sebagian besar penduduk. Kedua, masih terdapat kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan," kata Yan Jimmy.

Menurut dia, tingginya akses terhadap produk dan layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman masyarakat yang memadai.

Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan perlu dilakukan melalui edukasi yang lebih luas, baik dari sisi materi, metode penyampaian, maupun kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.

Sebagai salah satu upaya menjawab tantangan tersebut, OJK NTT menyiapkan 20 generasi muda sebagai calon penggerak edukasi keuangan melalui Pemilihan Duta Literasi Keuangan Provinsi NTT Tahun 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan 2026 ini tidak sekadar mencari figur yang mampu berbicara di depan publik. OJK ingin mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi, integritas, kreativitas, dan kepedulian terhadap persoalan keuangan masyarakat.

Yan Jimmy menjelaskan, sebelum memasuki babak grand final, seluruh finalis telah mengikuti pembekalan selama tiga hari melalui program Training of Trainers (ToT).

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi mengenai tugas dan fungsi OJK, pengaturan dan pengawasan sektor perbankan, pasar modal, industri keuangan nonbank, hingga perkembangan layanan keuangan digital.

Pada babak grand final, 20 finalis menjalani tiga tahapan penilaian.

Tahap pertama adalah penyampaian kampanye literasi keuangan secara singkat untuk menguji kemampuan peserta mengemas informasi keuangan agar mudah dipahami masyarakat.

Tahap kedua, peserta menghadapi studi kasus mengenai berbagai persoalan keuangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, tiga finalis terbaik akan melaju ke babak akhir melalui sesi tanya jawab yang menguji visi, komitmen, kepemimpinan, serta kesiapan mereka menjalankan tugas sebagai Duta Literasi Keuangan NTT.

Yan Jimmy menegaskan, gerakan literasi keuangan tidak boleh berhenti hanya pada peserta yang nantinya dinobatkan sebagai pemenang. Seluruh finalis diharapkan tetap berkontribusi dalam menyebarkan edukasi keuangan di tengah masyarakat.

Ia juga mengingatkan para calon duta agar menyampaikan informasi secara akurat dan tidak menyesatkan. Mereka juga tidak diperkenankan memberikan rekomendasi keuangan di luar kapasitas dan kewenangannya.

Dukungan terhadap keberlanjutan program tersebut juga disampaikan Gubernur Melki Laka Lena. Ia secara khusus meminta agar seluruh finalis tetap mendapatkan pembinaan, termasuk peserta yang tidak terpilih sebagai pemenang.

Menurut Melki, 20 finalis tersebut memiliki potensi untuk menjadi bagian dari gerakan edukasi keuangan yang menjangkau masyarakat di berbagai wilayah NTT.

"Siapa pun pemenangnya, yang kalah tetap harus kita bina. Biarlah 20 orang ini bisa menjadi bagian dari penggerak literasi keuangan di seluruh NTT," tegasnya.

Melki juga mengapresiasi OJK NTT bersama seluruh lembaga jasa keuangan yang telah berkolaborasi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di daerah itu.

Ia berharap, melalui kolaborasi tersebut, semakin banyak masyarakat yang tidak hanya mendapatkan akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara tepat demi meningkatkan kesejahteraan.

Melki kemudian secara resmi membuka Grand Final Pemilihan Duta Literasi Keuangan Provinsi NTT Tahun 2026 dengan mengetukkan palu sebanyak lima kali.

Ia berharap kegiatan tersebut melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami pengelolaan keuangan, tetapi juga mampu membagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat luas demi mewujudkan NTT yang lebih maju, sehat, cerdas, dan berkelanjutan.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.