News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Gubernur NTT Melki Buka Pelatihan OVOP: “Ini Bukan Soal Bisa atau Tidak, Tetapi Mau atau Tidak”

Gubernur NTT Melki Buka Pelatihan OVOP: “Ini Bukan Soal Bisa atau Tidak, Tetapi Mau atau Tidak”

Gubernur NTT, Melki Laka Lena membuka Pelatihan Peningkatan Kualitas Lembaga Ekonomi dan Kelompok Usaha Masyarakat di desa dan kelurahan lokasi Program One Village One Product (OVOP) Tahun Anggaran 2025. Foto: Ocep Purek 
Kupang,NTTPride.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt, resmi membuka Pelatihan Peningkatan Kualitas Lembaga Ekonomi dan Kelompok Usaha Masyarakat di desa dan kelurahan lokasi Program One Village One Product (OVOP) Tahun Anggaran 2025. Acara ini berlangsung di Sasando International Hotel, Kupang, Senin (8/9/2025).

Kegiatan pelatihan ini difokuskan pada praktik pengolahan produk, desain pengemasan, pemasaran digital, mekanisme transaksi online, serta pembuatan konten kreatif bagi kelompok usaha dampingan OVOP.

Turut hadir Pimpinan BPOM, Kepala Satker PVP Kemenaker Wilayah NTT, pimpinan OPD provinsi dan kabupaten/kota, pimpinan perguruan tinggi, BUMD, para kepala desa lokus OVOP, hingga UMK peserta pelatihan.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa NTT memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang sudah mendunia, mulai dari tenun ikat Sumba, kopi Flores, hingga olahan se’i.

NTT adalah provinsi dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang begitu kaya. Kita punya tenun ikat Sumba yang mendunia, kopi Flores yang khas, olahan se’i yang terkenal. Potensi ekonomi kreatif dan UMKM kita sangat besar,” ujarnya.

Namun, potensi besar ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis, keterbatasan akses pasar, rendahnya literasi digital, hingga tingginya biaya logistik.

Gubernur Melki menekankan pentingnya melindungi identitas produk lokal agar keuntungan tetap dinikmati oleh masyarakat NTT.

Kita akan buat hak cipta kain tenun NTT agar yang menghasilkan produk ini tetap mendapatkan keuntungan yang lebih. OVOP ini bukan soal bisa atau tidak, tetapi persoalan mau atau tidak,” tegasnya.

Program OVOP, lanjutnya, akan menjadi fondasi pemberi identitas ekonomi lokal. “OVOP dirancang sebagai ekosistem integral dari hulu ke hilir: mulai dari mengembangkan produk unggulan desa, pemberdayaan SDM, memperkuat sarana produksi, hingga promosi dan pemasaran. Semuanya untuk memastikan kemajuan ekonomi benar-benar berakar dari desa dan kembali ke desa,” jelas Gubernur.

Pemprov NTT saat ini telah memiliki database potensi 3.137 desa, lengkap dengan peta produk OVOP. Dari jumlah tersebut, 44 desa terpilih akan memperoleh pelatihan tahap awal dengan berbagai materi untuk memperkuat kapasitas UMKM.

Pelatihan ini adalah langkah konkret untuk mendorong pengembangan UMKM penggerak OVOP dari berbagai dimensi,” kata Melki.

Gubernur menegaskan bahwa penguasaan pemasaran digital adalah kunci untuk menembus pasar yang lebih luas.

Produk unggulan akan sia-sia jika tidak mampu menjangkau pasar. UMKM di pelosok Flores dan Sumba bisa memangkas jarak geografis dengan memanfaatkan Instagram, Facebook, atau platform e-commerce. Kami juga sudah meluncurkan NTT Mart dan Dapur Flobamorata sebagai pintu masuk ke pasar yang lebih luas,” paparnya.

Ia menambahkan, aplikasi seperti Canva dapat membantu pelaku usaha menghasilkan label produk, brosur digital, dan konten media sosial yang menarik secara visual. 

Dengan alat sederhana, produk desa bisa naik kelas di mata konsumen,” tambahnya.

Selain pemasaran, Gubernur juga menyoroti pentingnya literasi keuangan.

Banyak UMKM masih mencampur keuangan pribadi dan usaha. Padahal, dengan pembukuan sederhana lewat aplikasi di ponsel, mereka bisa mengukur kesehatan usaha dan mengakses pembiayaan formal,” jelasnya.

Menurutnya, keuangan yang sehat akan memudahkan UMKM mengambil keputusan strategis, membangun loyalitas pelanggan, dan menciptakan promotor dari mulut ke mulut.

Melki menekankan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi bisa berupa pengembangan produk lama.

Se’i bisa dijual dalam kemasan siap saji dengan varian sambal lu’at. Tenun ikat bisa menjadi tas, sepatu, dan aksesori modern. Label yang informatif dan menarik yang menceritakan filosofi motif akan memberi nilai emosional kuat bagi konsumen,” katanya.

Untuk memperluas pasar, legalitas produk juga sangat penting. 

Legalitas dan standar keamanan pangan adalah paspor produk lokal untuk bersaing di panggung nasional dan global. Di Labuan Bajo, kami sudah fasilitasi 45 izin edar bagi UMKM NTT, dan jumlah itu harus terus bertambah,” ungkap Gubernur.

Salah satu kendala terbesar UMKM NTT adalah biaya logistik antarpulau. Untuk itu, Gubernur menawarkan gagasan baru.

Model bisnis sosial di mana Koperasi Desa Merah Putih atau BUMDes mengelola armada motor listrik untuk distribusi produk UMKM adalah terobosan relevan. Inovasi untuk UMKM bukan hanya pada produk, tapi juga pada ekosistem pendukungnya,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Gubernur Melki menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun ekonomi lokal.

Upaya mengangkat UMKM melalui OVOP menuntut orkestrasi harmonis: kebijakan yang fokus, akselerasi digital, penguatan internal UMKM, inovasi produk, dan legalitas. Integrasi semacam inilah yang akan mendukung UMKM sebagai motor utama untuk menggerakkan NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Dengan restu Tuhan Yang Maha Kuasa, Gubernur Melki secara resmi membuka kegiatan pelatihan tersebut. 

Semoga Tuhan merestui kerja dan niat baik kita untuk memajukan NTT yang kita cintai. Ayo Bangun NTT,” serunya penuh semangat.

Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.