NTT Gelar Doa Bersama untuk Bangsa: Melki Serukan Solidaritas Nasional di Tengah Krisis Bencana Sumatera
![]() |
| Lima pemuka agama memimpin doa bersama untuk Bangsa. Foto: Ocep Purek |
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Rabu (10/12/2025), dan dihadiri unsur pimpinan daerah, tokoh lintas agama, serta institusi strategis.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa doa bersama ini merupakan ekspresi solidaritas nasional sekaligus ikhtiar menjaga ketahanan sosial di tengah situasi krisis kemanusiaan dan meningkatnya potensi gangguan keamanan di berbagai daerah.
“Kita berkumpul hari ini untuk menaikkan puji syukur kepada Tuhan sekaligus berdoa bagi keselamatan bangsa dan Nusa Tenggara Timur. Duka saudara-saudara kita di Sumatera adalah duka kita bersama sebagai satu bangsa,” kata Gubernur Melki Laka Lena.
Menurutnya, bencana alam yang terjadi di Sumatera menunjukkan bahwa ketangguhan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan teknologi atau infrastruktur, tetapi dari kebersamaan dan solidaritas antar sesama warga negara.
“Sepanjang sejarah Indonesia, gotong royong adalah darah daging bangsa ini. Saat bencana datang dan sistem formal tidak selalu bekerja optimal, di situlah modal sosial kita berjalan,” ujarnya.
Gubernur menekankan bahwa bencana tidak pernah memilih korban berdasarkan status sosial, agama, maupun latar belakang politik. Oleh karena itu, semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama untuk saling membantu.
“Di bawah runtuhan gempa dan di tengah banjir, semua manusia setara. Negara akan selamat jika negara menjaga rakyatnya, dan rakyat juga menjaga negara,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi NTT telah ikut memberikan bantuan sesuai kemampuan daerah serta berkoordinasi langsung dengan para gubernur di wilayah terdampak untuk meneruskan bantuan tersebut.
“Saya sudah berkomunikasi langsung dengan para gubernur di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemprov NTT, dengan segala keterbatasan, tetap mengambil bagian dalam upaya kemanusiaan ini,” katanya.
Gubernur juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur bangsa dalam penanganan bencana, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, lembaga perbankan, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, hingga relawan.
“Saya melihat dan mendiskusikan langsung bahwa semua unsur tanpa kecuali sudah bergerak. Relawan dari seluruh penjuru Tanah Air saat ini berada di wilayah terdampak untuk memperbaiki rumah warga, fasilitas umum, jalan raya, jaringan listrik, dan layanan dasar lainnya,” ujarnya.
Namun demikian, Gubernur mengingatkan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat semata, melainkan harus berlanjut pada pendampingan jangka panjang dalam proses pemulihan.
“Bantuan bisa melimpah di awal bencana, tetapi kebersamaan jangka panjang harus terus dipastikan,” katanya.
Selain sebagai bentuk empati nasional, doa bersama ini juga memiliki dimensi preventif untuk menjaga stabilitas daerah. Gubernur menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari masukan Kapolda NTT untuk mengantisipasi potensi provokasi dan konflik sosial di daerah.
“Kita tidak ingin NTT mengalami keributan seperti yang sempat terjadi di beberapa wilayah lain. Karena itu, doa bersama ini kita lakukan untuk menjaga NTT dari upaya-upaya provokatif yang bisa memecah persatuan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa NTT, sebagai wilayah yang juga rawan bencana, harus memperkuat kesiapsiagaan melalui sinergi BNPB, BPBD, serta partisipasi aktif masyarakat.
“Kita hidup di laboratorium bencana alam. Karena itu, solidaritas bukan pilihan, melainkan keharusan. Kita juga harus menjaga lingkungan dan kebersihan sebagai bagian dari mitigasi,” ujarnya.
Gubernur menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak diukur dari besarnya sumber daya materi, melainkan dari kepedulian sosial.
“Kekuatan kita terletak pada seberapa peduli kita terhadap keselamatan orang di sebelah kita. Dengan merawat api solidaritas, kita bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga kelangsungan hidup bangsa dan Provinsi NTT,” katanya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum bencana sebagai penguat persatuan nasional.
“Mari kita jadikan bencana ini sebagai momentum untuk memperkokoh fondasi kebersamaan demi Indonesia yang lebih tangguh dan NTT yang lebih maju, lestari, dan aman,” pungkas Gubernur.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Forkopimda Provinsi NTT, Ketua DPRD Provinsi NTT Emi Nomleni, Ketua TP PKK NTT Asti Laka Lena, Plh Sekda Provinsi NTT, para staf ahli dan asisten Sekda, pimpinan perangkat daerah, pimpinan instansi vertikal, pimpinan perbankan, serta tokoh lintas agama.
Doa bersama dipimpin oleh lima pemuka agama, yakni Uskup Agung Kupang, Ketua Sinode GMIT, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) NTT, dan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTT, serta dihadiri Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi NTT.
Doa dipanjatkan bagi para korban bencana di Sumatera, keluarga yang ditinggalkan, para relawan dan aparat di lapangan, serta keselamatan dan ketenteraman bangsa Indonesia, termasuk Provinsi NTT.
Editor: Ocep Purek
