Pendidikan Karakter Bakal Diatur Ketat, Pergub Disiapkan Gubernur NTT
![]() |
| Gubernur NTT Melki Laka Lena menghadiri dan memberikan sambutan dalam Syukuran Pesta Pelindung SDK Don Bosco. Foto: Ocep Purek |
Hal tersebut ditegaskan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat menghadiri dan memberikan sambutan dalam Syukuran Pesta Pelindung SDK Don Bosco di Gereja St. Maria Assumpta, Kota Kupang, Sabtu (31/1/2026).
“Sebentar lagi kami akan menerbitkan Peraturan Gubernur yang menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah pondasi utama dalam membangun masa depan generasi muda NTT. Kepandaian dan kepintaran tanpa karakter itu rapuh,” ujar Melki Laka Lena.
Gubernur menegaskan bahwa pendidikan akan kehilangan arah apabila tidak dibangun di atas nilai karakter. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan di NTT ke depan tidak hanya menitikberatkan pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan kepribadian anak.
“Pendidikan itu harus membentuk akalnya supaya cerdas, hatinya supaya baik, dan karakternya supaya kuat. Ini yang menjadi arah kebijakan pendidikan kita,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Melki menjelaskan bahwa nilai-nilai pendidikan ala Santo Yohanes Bosco menjadi salah satu rujukan penting dalam penguatan pendidikan karakter. Ia mengisahkan latar belakang Santo Yohanes Bosco yang lahir di Italia, tumbuh dalam kesederhanaan setelah ditinggal wafat ayahnya sejak usia kecil, serta memiliki panggilan hidup untuk mendampingi anak-anak bermasalah dengan pendekatan kasih, kesabaran, dan kelembutan, bukan dengan kekerasan.
“Don Bosco mengajarkan bahwa anak-anak tidak dibentuk dengan marah atau kekerasan, tetapi dengan cinta, kesabaran, dan pendampingan. Pendidikan itu harus membuat anak merasa aman, dicintai, dan dihargai,” kata Melki.
Menurutnya, pendidikan ala Don Bosco menempatkan anak sebagai pribadi yang utuh. Anak tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga dibentuk hatinya dan dikuatkan karakternya agar menjadi pribadi yang baik, rajin belajar, mencintai Tuhan, dan memiliki kegembiraan dalam hidup.
Gubernur juga menyinggung konsep oratorium yang dikembangkan Don Bosco, yakni ruang bagi anak-anak untuk belajar, bermain, berdoa, dan merasa aman. Konsep ini dinilainya relevan untuk dikembangkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pendekatan pendidikan yang humanis.
“Anak-anak itu belajar bukan hanya di kelas, tetapi juga lewat bermain, berdoa, dan interaksi yang sehat. Pendidikan harus menciptakan ruang aman bagi anak,” ujarnya.
Selain pendidikan karakter, Melki menekankan pentingnya penguatan literasi dan numerasi dasar di sekolah-sekolah. Namun, ia menegaskan bahwa literasi dan numerasi tidak boleh dimaknai secara sempit.
“Literasi bukan hanya bisa membaca, dan numerasi bukan hanya bisa berhitung. Literasi dan numerasi itu harus membuat anak-anak mampu berpikir kritis, bertindak benar, mengambil kesimpulan dengan baik dan bijak,” jelasnya.
Gubernur menambahkan bahwa anak-anak juga harus dibekali kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang sangat cepat. Oleh karena itu, lembaga pendidikan, termasuk pendidikan Katolik, dituntut untuk terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai dasar pendidikan.
“Lembaga pendidikan Katolik harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tetap terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak meninggalkan nilai karakter,” tegas Melki.
Dalam konteks penguatan kemandirian dan kewirausahaan, Gubernur Melki juga mengaitkan kebijakan pendidikan dengan program One Community One Product. Program ini, menurutnya, dapat diterapkan hingga ke satuan pendidikan.
“Setiap sekolah, di tingkat dan jenjang apa pun, bisa memiliki produk unggulan sebagai kelebihan sekolah. Ini penting untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini,” katanya.
Ia mencontohkan pengalaman saat menghadiri kegiatan di SMAK Arnoldus Jansen, di mana siswa menghasilkan dua buku sebagai produk sekolah. Produk tersebut dinilai sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar hasil karya.
“Buku, kriya, dan produk kreatif lainnya dari sekolah itu harus kita dorong terus. Itu bagian dari pembentukan karakter, literasi, dan kemandirian anak,” ujar Melki.
Gubernur juga menegaskan bahwa lembaga pendidikan Katolik memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kejujuran, disiplin, kepedulian, kerja keras, serta semangat melayani sesama. Nilai-nilai ini dinilai sangat penting dalam membangun masa depan NTT.
“Lembaga pendidikan Katolik punya karakter yang kuat. Nilai kejujuran, disiplin, kepedulian, kerja keras, dan semangat melayani itu harus terus dijaga,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Melki memberikan apresiasi kepada Yayasan Swastisari, para kepala sekolah, para pendidik, serta orang tua yang dinilai berperan besar dalam mendidik dan mendampingi anak-anak.
“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Yayasan Swastisari, para kepala sekolah, para pendidik, dan orang tua yang setia mendidik anak-anak dengan baik,” ucapnya.
Kepada para siswa SDK Don Bosco, Gubernur Melki berpesan agar rajin belajar, mendengarkan guru, menghormati orang tua, serta memiliki cita-cita tinggi. Ia menyampaikan bahwa dirinya dan Wali Kota Kupang merupakan alumni SDK Don Bosco.
“Gubernur yang hari ini berdiri di sini adalah produk SDK Don Bosco. Wali Kota Kupang juga produk Don Bosco. Jadi anak-anakku, milikilah cita-cita setinggi langit,” pesannya.
Gubernur Melki menutup sambutannya dengan mengucapkan selamat merayakan Pesta Pelindung Santo Yohanes Bosco dan berharap semangat Don Bosco terus menginspirasi dunia pendidikan, khususnya SDK Don Bosco, dalam melayani anak-anak dan membangun masa depan Nusa Tenggara Timur.
Syukuran Pesta Pelindung SDK Don Bosco tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Kurikulum Yayasan Swastisari Romo Conrad, para kepala sekolah SDK Don Bosco, para ketua komite sekolah, Kepala SMP Katolik Geofani, serta pimpinan komunitas biarawati Suster Ida.
Editor: Ocep Purek
