Gubernur: "Harta Karun Gereja Adalah Orang Miskin dan Terpinggirkan"
Penulis: Sam Harly Babys
NTTPride.com-Bicara tentang harta Karun maka pikiran kita akan tertuju pada barang-barang antik, emas, benda kuno ataupun harta berharga lainnya yang yang ada di tempat tersembunyi, sehingga untuk menemukannya membutuhkan waktu dan perjuangan luar biasa dari orang yang mencarinya. Harta Karun tentunya menjadi perburuan yang paling diinginkan karena memiliki nilai sejarah serta nilai ekonomi yang sangat tinggi, dan ketika harta ini dijual, maka akan membuat seseorang menjadi kaya dalam sekejap mata. Oleh karena itu, sekalipun nyawa menjadi taruhan, tetapi banyak orang rela untuk mencari dan menemukannya.
Tetapi apa jadinya jika ada yang mendefinisikan harta Karun sebagai sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan yang telah dijelaskan di atas? waktu, tenaga, pikiran bahkan harta sekalipun harus dikeluarkan untuk "menghidupkan" harta Karun yang ditemui? Masihkah kita memiliki niat untuk mencarinya?
Adalah Gubernur Nusa Tenggara Timur, bapak Emanuel Melkiades Laka Lena, yang memiliki pandangan serta mendefinisikan harta Karun sebagai sesuatu yang sangat berbeda dari kebanyakan orang. Hari itu, Rabu 11 Februari 2026, dihadapan ribuan umat Katolik yang memadati halaman Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka untuk mengikuti syukuran Pentahbisan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dengan suara lantang, Gubernur menggaungkan sebuah pernyataan reflektif yang cukup menghanyutkan.
"Tahbisan ini mengingatkan kita bahwa Harta Karun Gereja adalah orang - orang kecil, miskin dan terpinggirkan."
Kata - kata ini sangat sederhana, tetapi jika kita mau memaknainya menggunakan hati, maka pernyataan diatas merupakan sebuah "pukulan mematikan" bagi setiap orang yang mendengarnya. Harta Karun menurut Gubernur bukanlah suatu benda mati yang bernilai tinggi dan sulit untuk ditemukan, melainkan sesuatu yang hidup dan tentunya akan dengan mudah ditemui di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Lantas, apa yang mendasari sehingga pernyataan singkat ini disuarakan oleh seorang Gubernur?
Sebagai seorang Kristen, saya menduga bahwa apa yang dikatakan Gubernur merupakan ringkasan dari pernyataan seorang "Tokoh" yang tetap hidup hingga saat ini; Yesus Kristus. Pernyataan Yesus dua ribu tahun silam ini ditulis secara baik dalam Injil Matius 25 : 31-46 tentang "Penghakiman Terakhir," dimana terdapat
lima kata sifat yang menjadi kunci utama seseorang dapat menemukan harta Karun yang tiada ternilai, yakni : Lapar dan Haus, Orang Asing, Telanjang, Sakit dan Terpenjara.
Jika kita mau melayani orang - orang yang mengalami kata sifat diatas, maka dipastikan Surga yang adalah harta paling bernilai akan menjadi milik kita. Begitupun sebaliknya, jika mereka ini tidak kita layani, maka dapat dipastikan nerakalah yang akan kita jumpai.
Seperti yang telah diurai sebelumnya bahwa Provinsi NTT merupakan salah satu daerah penghasil "Harta Karun" yang sangat banyak. Orang miskin, orang yang lapar dan haus, orang yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak, mereka yang terpenjara infrastruktur dan pendidikan, mereka yang sakit bahkan mereka yang selalu diasingkan karena status sosialnya. Semuanya ini dapat dengan mudah ditemui di Provinsi NTT.
Lantas, metode seperti apa yang dilakukan agar harta Karun yang paling berharga yakni SURGA dapat dihadirkan dan menjadi milik kita? Pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur sejatinya merupakan ajakan reflektif yang diwujudnyatakan melalui "Panggilan Kolaborasi" yang memiliki kekuatan besar dalam upaya menemukan harta Karun. Sebagai leader, Pemerintah tidak bisa bertindak bak "Superman," melainkan sebagai motor penggerak dalam membentuk sebuah "Supertim" yang direkrut dari Lembaga Keagamaan, Lembaga Masyarakat, Akademisi maupun Dunia Usaha.
Saat ini, ketika Nusa Tenggara Timur "bermasalah" dengan data terkait mereka yang mengalami lima kata sifat diatas, maka lembaga keagamaan diharapkan berperan aktif dalam menghadirkan sebuah data yang akurat, karena Lembaga Agamalah yang paling tahu dan paling sering berinteraksi dengan masyarakat. Para Akademisi dapat berperan melalui sumbangan pemikiran yang tentunya dapat dijadikan landasan dalam melahirkan berbagai program, begitu pula dengan Dunia Usaha yang dengan kemampuannya dapat melahirkan kesempatan kerja yang luas bagi seluruh masyarakat.
Supertim yang dibentuk ini, jika semuanya terlibat secara aktif dan bekerja dalam satu kesatuan gerak yang terkoordinir secara baik, dipastikan dapat menghadirkan Surga yang sejatinya adalah harta Karun yang tak ternilai harganya. Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes; ya, Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan membangun NTT baru.
