News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Gertam Padi Serentak Dimulai, Gubernur NTT Gaspol Swasembada Pangan 2026

Gertam Padi Serentak Dimulai, Gubernur NTT Gaspol Swasembada Pangan 2026

Gubernur NTT Melki Laka Lena bersama tamu undangan menanam padi di desa Manusak, Kabupaten Kupang. Foto: Idin 
Kupang,NTTPride.com - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus memperkuat langkah menuju swasembada pangan berkelanjutan tahun 2026 melalui Gerakan Tanam (Gertam) Padi Serentak se-Provinsi NTT. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Manusak, Kabupaten Kupang, Senin (16/2/2026), dan dihadiri langsung oleh Emanuel Melkiades Laka Lena.

Gubernur Melki menegaskan bahwa petani memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Menurutnya, kebutuhan pangan masyarakat hanya dapat terpenuhi apabila petani terus didukung dan dilibatkan sebagai aktor utama pembangunan.

Petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dari tangan petani, pangan masyarakat tersedia dan kehidupan bisa berjalan,” kata Melki.

Ia menyatakan bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan, khususnya beras, bukan pekerjaan satu pihak, melainkan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, petani, pemerintah desa, perguruan tinggi, serta dukungan TNI dan Polri.

Melki menyampaikan apresiasi kepada Kabupaten Kupang yang menargetkan produksi padi hingga di atas 100 ribu ton. Ia menilai sektor pertanian, terutama padi, menjadi salah satu pengungkit utama ekonomi daerah serta solusi untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting di NTT.

Data produksi menunjukkan peningkatan signifikan. Produksi gabah kering panen NTT pada 2024 tercatat sekitar 968 ribu ton, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 707 ribu ton. Kenaikan tersebut mencapai lebih dari sepertiga dari total produksi tahun sebelumnya, dengan Kabupaten Kupang menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Sementara itu, produksi beras pada 2025 tercatat mencapai 567.178 ton atau meningkat sekitar 35,8 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 414.576 ton. Peningkatan ini juga berdampak pada meningkatnya penyerapan beras di daerah.

Gubernur Melki menekankan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian. Ia menyebut hampir seluruh usulan pemerintah daerah, mulai dari alat dan mesin pertanian, traktor, roller, hingga pestisida, mendapatkan respons positif.

Dengan dukungan ini, petani bisa menanam bukan hanya di musim hujan, tetapi juga di musim kering,” ujarnya.

Selain pemerintah pusat, Melki juga mengapresiasi keterlibatan aktif TNI dan Polri dalam mendukung sektor pertanian, baik pada komoditas padi maupun jagung. Ia turut menyoroti peran perguruan tinggi yang menurunkan mahasiswa untuk mendampingi petani di desa-desa.

Gubernur Melki mengajak seluruh masyarakat menjadikan kegiatan menanam sebagai budaya, bukan sekadar program pemerintah. Menurutnya, menanam berarti menjaga kehidupan sekaligus mengamankan masa depan pangan daerah.

Ia meminta seluruh keluarga di NTT menanam padi, jagung, tanaman pangan, tanaman perkebunan, serta tanaman obat keluarga sesuai dengan potensi wilayah masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan air, benih, serta pengelolaan pertanian yang baik.

Kepala daerah hingga pemerintah desa harus memastikan gerakan tanam berjalan serentak dan berkelanjutan,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Melki menegaskan bahwa membangun Indonesia yang kuat harus dimulai dari daerah dengan memperkuat swasembada pangan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak berhenti pada proses menanam, tetapi juga mengolah hasil panen, mengemas, dan meningkatkan nilai tambah produk sebelum dipasarkan.

Sementara itu, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan bahwa Kabupaten Kupang memiliki potensi lahan pertanian yang besar. Berdasarkan data, potensi lahan pertanian mencapai 64.739 hektare, dengan lahan pangan berkelanjutan (LP2B) seluas sekitar 23.900 hektare. Lahan baku sawah tercatat sekitar 15.000 hektare, terdiri dari 4.000 hektare sawah irigasi dan 11.000 hektare sawah tadah hujan.

Dengan kondisi tersebut, Yosef menilai dukungan infrastruktur air, mekanisasi pertanian, dan penguatan kelembagaan menjadi kunci untuk mengoptimalkan seluruh potensi lahan. Ia melaporkan bahwa produksi padi Kabupaten Kupang mengalami lonjakan signifikan, dari sekitar 21 ribu ton pada 2024 menjadi 87 ribu ton pada 2025.

Kami bersyukur karena kerja keras petani dan penyuluh membuahkan hasil. Tahun ini kami berupaya menembus produksi di atas 100 ribu ton,” ujar Yosef.

Ia mengakui bahwa kemampuan fiskal daerah masih terbatas, namun Pemerintah Kabupaten Kupang tetap menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menopang perekonomian daerah. Keberhasilan swasembada beras, menurutnya, juga mendukung program nasional seperti makan bergizi gratis.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan bahwa pada 2025 pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian membantu optimalisasi lahan non-rawa sekitar 28 ribu hektare dengan realisasi 25 ribu hektare, serta pencetakan sawah baru seluas hampir 400 hektare, sebagian besar berada di Kabupaten Kupang.

Produksi padi NTT pada 2025 tercatat sekitar 960 ribu ton gabah kering panen, meningkat sekitar 260 ribu ton atau 36 persen dibandingkan 2024. Capaian tersebut mengantarkan NTT menjadi salah satu dari lima provinsi penerima penghargaan swasembada pangan dari pemerintah pusat.

Untuk 2026, pemerintah provinsi menargetkan luas tanam 273.800 hektare atau meningkat 7,9 persen dibandingkan 2025. Dengan target tersebut, produksi padi ditetapkan mencapai 1.156.456 ton gabah kering panen atau setara sekitar 694 ribu ton beras, di atas kebutuhan konsumsi beras NTT yang berkisar 620-650 ribu ton per tahun.

Target ini untuk mempertahankan dan memperkuat swasembada pangan di NTT,” ujar Joaz.

Ia juga menyoroti tantangan alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian di sejumlah daerah. Namun, dengan potensi lahan kering NTT yang mencapai sekitar 1,8 juta hektare, pemerintah mendorong pemanfaatan lahan kering sebagai bagian dari strategi jangka panjang swasembada pangan.

Kegiatan Gerakan Tanam Padi Serentak ini dilanjutkan dengan penyerahan bantuan pemerintah kepada kelompok tani, pemberian penghargaan kepada tiga kabupaten dengan kontribusi produksi padi tertinggi pada 2025, yakni Manggarai Barat, Kabupaten Kupang, dan Sumba Timur, serta penandatanganan komitmen pencapaian swasembada pangan berkelanjutan oleh sejumlah kepala daerah.

Selain itu, digelar dialog interaktif secara daring dan luring dengan perwakilan petani, penyuluh, dan dinas pertanian dari berbagai wilayah di NTT, serta peninjauan Brigade Alsintan sebagai bagian dari penguatan mekanisasi pertanian di daerah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD Provinsi NTT Emi Nomleni, Bupati Kupang Yosef Lede, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, unsur Forkopimda Provinsi NTT, pimpinan perangkat daerah lingkup Pemprov NTT, pimpinan instansi vertikal, pimpinan BUMD, Rektor Universitas Nusa Cendana, serta Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.