Festival Fulan Fehan Jadi Ruang Diplomasi Budaya, Pariwisata, dan Penggerak Ekonomi Perbatasan
![]() |
| Festival Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen kabupaten Belu. Foto: Idin |
Puncak festival yang berlangsung di Padang Savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, itu mengusung tema "Dance for Friendship" dan diikuti ribuan penari yang membawakan Tari Likurai kolosal dengan latar panorama Gunung Lakaan. Kegiatan tersebut turut dihadiri delegasi dari Timor Leste dan Australia sebagai simbol penguatan kerja sama, persahabatan, dan diplomasi budaya di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menilai Festival Fulan Fehan menunjukkan bahwa wilayah perbatasan bukan hanya berfungsi sebagai batas negara, tetapi dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan pariwisata, diplomasi budaya, dan interaksi antarbangsa.
"Festival ini sangat indah. Ada savana, tarian-tarian yang dikoreografi dengan sangat baik, dan lebih menarik lagi tadi kita melihat melibatkan Timor Leste. Mengusung tema Dance for Friendship, festival ini menjadi ajang promosi pariwisata perbatasan sekaligus memperkuat persahabatan dan diplomasi budaya di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste," kata Tito.
Menurut Tito, kehadiran delegasi dari Timor Leste dan Australia memperlihatkan bahwa Festival Fulan Fehan semakin dikenal di tingkat internasional. Potensi bentang alam Savana Fulan Fehan yang berada di kawasan perbatasan, dipadukan dengan atraksi budaya masyarakat Timor, menjadi daya tarik yang mampu memperkuat citra pariwisata NTT di mata dunia.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan Festival Fulan Fehan membuktikan bahwa budaya mampu menjadi media pemersatu sekaligus penggerak pembangunan ekonomi masyarakat.
"Ada tempat di NTT yang bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi juga mampu membuat kita bangga menjadi bagian dari cerita ini. Hari ini saya menyaksikan sendiri bagaimana Savana Fulan Fehan berubah menjadi lautan manusia, budaya, dan persahabatan. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi pesan bahwa budaya mampu menyatukan kita," ujar Melki.
Menurut Melki, penampilan ribuan penari dalam Tari Likurai kolosal membawa pesan tentang sejarah, nilai-nilai persaudaraan, dan identitas masyarakat Pulau Timor kepada masyarakat internasional.
"Di hamparan savana yang luar biasa ini, ribuan penari menghadirkan Tarian Likurai Kolosal. Suara tifa, langkah kaki, dan gerakan penuh makna membawa cerita leluhur Pulau Timor ke mata dunia," katanya.
Ia menambahkan, kehadiran Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, perwakilan Kementerian Pariwisata, Wali Kota Darwin, delegasi Timor Leste, serta berbagai unsur pemerintah menjadi bukti semakin besarnya perhatian pemerintah pusat dan mitra internasional terhadap pengembangan kawasan perbatasan melalui pendekatan budaya.
Melki menegaskan NTT tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki budaya yang hidup dan masyarakat yang mampu menjadikan tradisi sebagai jembatan persahabatan antarbangsa.
"NTT bukan hanya tentang alam yang indah. NTT adalah tentang budaya yang hidup, masyarakat yang ramah, dan tradisi yang mampu menghubungkan dunia," ujarnya.
Selain memperkuat citra pariwisata, festival tersebut juga memberi ruang promosi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Belu. Produk tenun, kuliner, kerajinan tangan, dan berbagai karya masyarakat diperkenalkan kepada ribuan pengunjung sehingga diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Melki menilai Festival Fulan Fehan kini telah berkembang melampaui skala regional maupun nasional.
"Festival ini yang saya lihat bukan kelas NTT dan bukan cuma kelas Indonesia, tetapi sudah kelas dunia. Ada pesan-pesan luar biasa dari tarian dan musik yang mampu menyatukan berbagai perbedaan, baik suku, kabupaten maupun negara," katanya.
Ia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Belu yang konsisten menyelenggarakan Festival Fulan Fehan sebagai agenda tahunan pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata perbatasan.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen terus memperkuat penyelenggaraan festival agar dampaknya semakin besar terhadap kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
"Saya sudah menyampaikan kepada Pak Menteri Dalam Negeri bahwa ke depan acara festival ini kami dukung penuh agar bisa lebih hebat lagi. Melalui tarian, musik, dan budaya, festival ini menggambarkan persaudaraan sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang kuat. Proficiat untuk Pemerintah Kabupaten Belu dan masyarakat Belu. Kami berkomitmen mendukung festival ini terus berjalan setiap tahun," ujar Melki.
Festival Fulan Fehan merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Belu yang diselenggarakan di Padang Savana Fulan Fehan, lembah kaki Gunung Lakaan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen. Festival yang pertama kali digelar pada 28 Oktober 2017 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut telah masuk dalam Calendar of Events nasional Kementerian Pariwisata sebagai bagian dari pengembangan cross border tourism di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Savana Fulan Fehan berada pada ketinggian sekitar 1.273 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan NTT. Lanskap padang rumput yang luas, panorama Gunung Lakaan, serta lokasinya yang berbatasan langsung dengan Timor Leste menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ikon utama festival adalah Tari Likurai, tarian tradisional masyarakat Belu yang pada masa lalu dipentaskan untuk menyambut para pejuang yang kembali dari medan perang. Kini, tarian tersebut berkembang menjadi simbol persaudaraan, perdamaian, dan pelestarian budaya masyarakat Timor sekaligus menjadi identitas utama Festival Fulan Fehan.
Turut hadir pada puncak Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 antara lain Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Ketua Umum TP PKK Pusat, Ketua TP PKK NTT, Bupati Belu, Menteri Muda Timor Leste, Wali Kota Darwin, Wakil Bupati Kupang, Wakil Bupati Rote Ndao, unsur Forkopimda, serta tamu undangan dari dalam dan luar negeri.
Editor: Ocep Purek
