News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Melki Laka Lena Dinobatkan Anggota Kehormatan Menwa, Tegaskan NTT Garda Terdepan Bela Negara

Melki Laka Lena Dinobatkan Anggota Kehormatan Menwa, Tegaskan NTT Garda Terdepan Bela Negara

Penyematan baret anggota kehormatan Menwa kepada Gubernur NTT Melki Laka Lena. Foto: Ibo
Kupang,NTTPride.com - Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) RI sekaligus Komandan Komando Nasional Resimen Mahasiswa (Dankonas Menwa) RI Ahmad Riza Patria dan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan penguatan Resimen Mahasiswa (Menwa) sebagai bagian penting dalam strategi bela negara, pembangunan desa, dan pembinaan karakter generasi muda di wilayah perbatasan.

Penegasan itu disampaikan saat menghadiri pelantikan Komandan Resimen Mahasiswa Mahadana NTT di Aula Rektorat Lantai 3 Universitas Nusa Cendana, Kamis (19/2/2026). 

Acara tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) RI sekaligus Komandan Komando Nasional Resimen Mahasiswa (Dankonas Menwa) RI Ahmad Riza Patria, Wali Kota Kupang Christian Widodo, jajaran Forkopimda, serta civitas akademika.

Pada acara tersebut, Gubernur Melki Laka Lena dinobatkan sebagai Anggota Kehormatan Resimen Mahasiswa Mahadana NTT. Penobatan tersebut ditandai dengan pemasangan baret kehormatan sebagai simbol penghargaan dan pengakuan atas komitmen serta dukungannya terhadap penguatan bela negara dan pembinaan karakter generasi muda di NTT.

Wamendes PDT RI sekaligus Dankonas Menwa RI, Ahmad Riza Patria, menegaskan pelantikan komandan Menwa bukan agenda seremonial, melainkan momentum tanggung jawab kebangsaan.

Menwa adalah garda terdepan bela negara di kampus. Ini bukan sekadar jabatan, tetapi amanah dan pengabdian,” tegas Riza.

Ia merujuk Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara yang menegaskan pertahanan negara menjadi tanggung jawab seluruh warga.

Menwa adalah wujud nyata keterlibatan generasi intelektual dalam sistem pertahanan semesta. Mahasiswa harus tangguh secara mental, disiplin, dan kokoh dalam komitmen kebangsaan,” ujarnya.

Riza mengulas sejarah pembentukan Menwa sejak era Presiden Soekarno atas gagasan Jenderal AH Nasution dalam konsep pertahanan rakyat semesta. Ia mengakui, pasca reformasi eksistensi Menwa sempat menurun di sejumlah kampus.

Saya ingin Menwa kembali jaya, kuat dalam karakter, integritas, dan moral,” katanya.

Dalam kapasitasnya sebagai Wamendes, Riza menekankan bahwa kekuatan Indonesia bertumpu pada desa. Ia menyebut tiga persoalan utama desa: rendahnya kualitas SDM, keterbatasan infrastruktur, dan pembiayaan.

Desa adalah jantung pertahanan nasional. Jika desa kuat, Indonesia kuat,” tegasnya.

Ia mengungkapkan anggaran Kemendes sekitar Rp1,8 triliun, dengan porsi terbesar untuk pendamping desa. Dana desa yang diterima tiap desa berkisar Rp400 juta hingga Rp1 miliar per tahun untuk ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Untuk mempercepat pembangunan desa, pemerintah mendorong pendekatan kolaboratif melibatkan kampus, mahasiswa, pengusaha, dan masyarakat.

Setiap institusi bisa memilih satu desa untuk dibina. Jangan bangun desa dengan pola copy paste. Lihat potensi riil dan berbasis riset,” ujarnya.

Riza meminta anggota Menwa ikut hadir di tengah masyarakat, membantu desa saat bencana, mendukung ketahanan pangan, serta menjaga persatuan dan toleransi.

Sementara itu, Gubernur NTT Melki Laka Lena menilai tantangan kebangsaan saat ini tidak lagi bersifat fisik semata, tetapi merambah ruang digital dan pola pikir generasi muda.

Ancaman hari ini menyusup melalui media sosial, hoaks, intoleransi, radikalisme, dan melemahnya nilai kebangsaan. Karena itu penguatan karakter dan bela negara di kalangan mahasiswa menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.

Ia menekankan, posisi NTT sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia menuntut kesiapsiagaan ideologi dan kedewasaan berbangsa.

NTT adalah wilayah terdepan. Mahasiswa NTT harus tampil sebagai benteng nilai kebangsaan dan jembatan persaudaraan. Di sinilah peran Menwa menjadi sangat strategis,” katanya.

Menurut Melki, Menwa bukan sekadar organisasi semi-militer di kampus, melainkan wadah pembinaan disiplin, kepemimpinan, dan integritas. Dengan semboyan Widya Castrena Dharma Siddha, Menwa memadukan kecerdasan intelektual dengan ketangguhan mental dan fisik.

Dalam sambutannya, Melki juga menyinggung meningkatnya kasus bunuh diri di sejumlah daerah, termasuk di NTT. Ia meminta generasi muda tidak mudah menyerah menghadapi tekanan hidup.

Jangan menjadi generasi yang mudah rapuh. Masalah sedikit jangan langsung putus asa. Kita harus membangun mental yang tangguh dan disiplin,” ujarnya.

Ia berharap anggota Menwa menjadi contoh ketahanan mental di kampus dan tetap mengutamakan prestasi akademik.

Akademik tetap prioritas. Orang tua kirim kita ke kampus untuk menyelesaikan studi. Setelah itu, karakter dan keprajuritan dibentuk dengan baik,” katanya.

Melki juga mengapresiasi kehadiran Dankonas Menwa RI sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap pembinaan generasi muda di daerah perbatasan.

Kehadiran pemerintah pusat memperkuat sinergi dalam membangun Indonesia dari desa dan wilayah terdepan,” ujarnya.

Komandan Menwa Mahadana NTT yang dilantik, Fami Haji Abdullah, menyatakan jabatan yang diembannya adalah tanggung jawab moral dan sejarah.

Menwa bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ini bagian dari komponen pendukung pertahanan negara dan laboratorium kepemimpinan,” katanya.

Ia menegaskan komitmen menjadikan Menwa Mahadana NTT sebagai organisasi profesional, adaptif, dan tetap berakar pada nilai patriotisme.

Kehormatan seorang Menwa bukan pada seragamnya, tetapi pada integritas dan pengabdiannya,” ujarnya.

Fami meminta dukungan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk memperkuat pembinaan, kolaborasi program, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pelantikan tersebut menjadi penegasan sikap pemerintah pusat dan daerah bahwa penguatan karakter generasi muda, khususnya di wilayah perbatasan, menjadi bagian dari strategi menjaga persatuan dan ketahanan nasional di tengah dinamika zaman.


Editor: Ocep Purek 


TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.