Pemprov NTT Bentuk Tim Akselerasi, Kejar PAD dan Tekan Kemiskinan
Plt Kepala Biro APIM NTT, Lery Rubidara, menegaskan tim tersebut merupakan bagian dari strategi percepatan pembangunan daerah periode 2025-2030 yang langsung diarahkan pada program-program berdampak.
“Tim akselerasi ini dibentuk untuk memastikan program prioritas berjalan lebih cepat, terukur, dan memberi hasil nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Lery, tim tidak hanya berfungsi sebagai pengendali program, tetapi juga melakukan evaluasi, memberi masukan, serta merumuskan langkah-langkah baru agar pelaksanaan program lebih efektif di lapangan.
Tim akselerasi dibagi dalam lima kelompok kerja lintas sektor. Kelompok pertama menangani ekonomi, pangan, industri, energi, dan logistik dengan fokus pada penguatan produksi, distribusi, dan konsumsi.
Kelompok kedua fokus pada UMKM, pariwisata, dan penguatan ekonomi generasi muda. Kelompok ketiga menangani infrastruktur, listrik, dan energi baru terbarukan. Kelompok keempat berfokus pada sektor pendidikan dan kesehatan. Sementara kelompok kelima menangani transformasi digital, integrasi program, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
Selain itu, terdapat tim khusus penguatan ekonomi kerakyatan yang menitikberatkan pada rantai produksi hingga pemasaran. Pendekatan ini mencakup peningkatan kapasitas produksi, akses permodalan, distribusi, hingga konsumsi masyarakat terhadap produk lokal.
“Ekonomi NTT harus bertumpu pada ekonomi rakyat dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena itu intervensi kita dimulai dari produksi sampai pemasaran,” kata Lery.
Ia menekankan, permasalahan ekonomi daerah selama ini tidak hanya pada produksi, tetapi juga distribusi dan akses pasar, sehingga seluruh rantai ekonomi harus dibenahi secara simultan.
Kepala Biro Keuangan Setda NTT, Beni Meno, mengatakan tim akselerasi juga diberi mandat khusus untuk mempercepat peningkatan PAD yang dinilai masih memiliki potensi besar.
Ia menjelaskan, PAD bersumber dari empat komponen utama, yakni pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, serta lain-lain pendapatan yang sah.
“Kontributor terbesar masih pajak kendaraan bermotor. Karena itu kita dorong penertiban kendaraan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta ekspansi potensi pajak lainnya,” ujarnya.
Selain pajak, pemerintah juga menargetkan peningkatan retribusi daerah melalui optimalisasi layanan dan identifikasi potensi baru. Di sisi lain, aset daerah yang selama ini belum produktif juga menjadi fokus untuk dioptimalkan.
“Kita punya banyak aset yang belum dimanfaatkan maksimal. Ini akan kita dorong agar bisa memberi kontribusi terhadap PAD,” kata Beni.
Ia menambahkan, Pemprov NTT juga menggandeng aparat penegak hukum untuk memastikan pengelolaan pendapatan dan aset berjalan transparan dan akuntabel.
Dalam aspek penanggulangan kemiskinan, tim akselerasi menekankan pentingnya penggunaan data yang akurat dan terintegrasi sebagai dasar intervensi program.
Yosep, salah satu anggota tim, mengatakan selama ini persoalan kemiskinan sering tidak tertangani optimal karena data yang tidak sinkron antar sektor.
“Penanggulangan kemiskinan harus berbasis data yang valid dan dilakukan secara terpadu. Tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, termasuk dengan pemerintah pusat, kabupaten/kota, hingga pihak swasta dan komunitas.
Di bidang komunikasi publik, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan NTT, Prisilia, menyebutkan tim akselerasi juga membentuk penguatan komunikasi pemerintahan agar informasi program tersampaikan secara luas dan terbuka.
Tim komunikasi dibagi dalam tiga bidang, yakni pemerintahan, perekonomian dan pembangunan, serta administrasi umum. Fokus utamanya meliputi perencanaan komunikasi, pengelolaan informasi publik, serta pemanfaatan media digital.
“Kami menggunakan berbagai kanal seperti YouTube, Instagram, dan Facebook untuk menyampaikan informasi kegiatan pemerintah kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan komunikasi ini penting untuk meningkatkan transparansi dan membangun kepercayaan publik terhadap program pemerintah.
Sejak dibentuk, tim akselerasi disebut telah mulai bekerja dengan melakukan penelaahan terhadap program-program yang sudah berjalan, termasuk mengevaluasi efektivitas dan mengidentifikasi kendala di lapangan.
Tim juga merumuskan rekomendasi perbaikan serta usulan program baru agar pelaksanaan pembangunan lebih berdampak.
“Fokus kami tidak hanya menjalankan program yang ada, tetapi juga memastikan program itu benar-benar efektif dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Lery.
Pemprov NTT menilai pembentukan Tim Akselerasi ini sebagai langkah percepatan yang menekankan kerja terintegrasi lintas sektor, dengan target utama peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi daerah, peningkatan PAD, dan penurunan angka kemiskinan secara berkelanjutan.
Editor: Ocep Purek
