News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

"Saya Produksi Maka Saya Ada”, Pesan Tegas Gubernur NTT di Forum Ekonomi Flobamorata

"Saya Produksi Maka Saya Ada”, Pesan Tegas Gubernur NTT di Forum Ekonomi Flobamorata

 

Gubernur NTT membuka Flobamorata Business and Economic Forum 2026 dan peresmian Call for Paper “KARSA NUSA” yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT. Foto: Idin
Kupang, NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan kinerja ekonomi daerah menunjukkan tren positif di tengah dinamika nasional dan global, dengan pertumbuhan mencapai 5,14 persen, inflasi terjaga di 2,39 persen, serta penurunan kemiskinan dan pengangguran.

Pernyataan itu disampaikan saat membuka Flobamorata Business and Economic Forum 2026 dan peresmian Call for Paper “KARSA NUSA” yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT di Aula Rote Hotel Harper, Kamis (23/4/2026).

Pertumbuhan ekonomi kita naik, kemiskinan turun dari 19,10 persen menjadi 17,50 persen, pengangguran juga turun. Artinya, capaian ekonomi makro kita menunjukkan tren positif,” kata Melki.

Ia menegaskan, capaian tersebut terjadi di tengah proses transformasi ekonomi nasional yang dinilai bersifat “bukan sekadar evolusi, tetapi sudah menuju perubahan yang revolusioner”. Meski demikian, data menunjukkan NTT tetap mampu mencatatkan pertumbuhan positif.

Data BPS menunjukkan dengan jelas bahwa di tengah berbagai catatan dan keraguan, pertumbuhan ekonomi NTT tetap naik dan signifikan,” ujarnya.

Selain itu, Melki juga menyoroti perbaikan defisit perdagangan NTT yang sebelumnya sekitar Rp51 triliun, kini menurun menjadi sekitar Rp48 triliun.

Berarti ada sekitar Rp3 triliun yang sekarang bisa tertahan di NTT, tidak keluar ke daerah lain. Ini penting karena menunjukkan ekonomi kita mulai bergerak ke arah produksi,” jelasnya.

Menurut dia, tantangan utama ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut inklusif dan dirasakan luas oleh masyarakat.

Ia mencontohkan pengalaman daerah lain dengan pertumbuhan tinggi namun tidak merata, sehingga tidak berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Pertumbuhan tinggi itu tidak otomatis mudah dibagi. Karena itu kita dorong pertumbuhan di NTT harus inklusif, berbasis potensi daerah, dan melibatkan banyak orang,” tegasnya.

Melki menyebut, struktur ekonomi NTT yang ditopang sektor pertanian menjadi keunggulan tersendiri karena melibatkan sekitar 30 persen masyarakat. Kondisi ini dinilai mendukung pemerataan manfaat pertumbuhan.

Untuk memperkuat arah tersebut, Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong transformasi ekonomi berbasis produksi di berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hingga pariwisata.

Selain peningkatan produktivitas, pemerintah juga mendorong hilirisasi atau pengolahan produk agar memiliki nilai tambah dan tidak dijual dalam bentuk mentah.

Kita ingin yang diproduksi di NTT tidak keluar mentah, tapi punya nilai tambah dan bisa memberikan manfaat maksimal bagi daerah,” kata Melki.

Salah satu instrumen yang didorong adalah pengembangan NTT Mart sebagai wadah pemasaran produk lokal berbasis konsep One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).

NTT Mart menjadi salah satu cara kita menahan hasil produksi agar tetap berputar di dalam daerah,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov NTT juga mulai mengembangkan pendekatan pembangunan berbasis klaster wilayah, dengan menghubungkan daerah-daerah yang memiliki kesamaan potensi dan budaya.

Misalnya Manggarai Raya, lalu Flores Timur-Lembata-Alor, hingga kawasan perbatasan dengan Timor Leste. Kalau dikoneksikan dengan baik, kekuatannya akan besar,” jelasnya.

Pada sektor komoditas unggulan, Melki menyebut pengembangan garam di Rote Ndao yang ditargetkan menjadi salah satu pusat suplai garam nasional. Saat ini telah disiapkan lahan sekitar 700 hektar dan ditargetkan mulai produksi pada akhir 2026.

Di sektor perikanan, ia menyinggung pengembangan budidaya udang di Sumba Timur dengan nilai investasi sekitar Rp7,2 triliun yang dinilai mampu menggerakkan ekonomi daerah secara signifikan.

Ini akan menggerakkan ekonomi masyarakat dalam skala besar,” katanya.

Di sisi lain, Melki menyoroti persoalan mendasar ekonomi NTT, yakni minimnya jumlah pelaku usaha di semua level, baik UMKM, menengah, maupun besar.

NTT ini kekurangan pengusaha. Ini persoalan serius. Karena itu kita dorong ekosistem kewirausahaan harus diperkuat,” tegasnya.

Ia bahkan secara khusus mendorong generasi muda, terutama mahasiswa, untuk mengubah orientasi dari mencari pekerjaan sebagai aparatur sipil negara (ASN) menjadi pencipta lapangan kerja.

Jangan semua bermimpi jadi PNS. Kita butuh pengusaha. Tanpa produksi, ekonomi kita tidak akan bergerak,” ujarnya.

Melki juga menekankan pentingnya inovasi, termasuk pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), serta penguatan ekonomi kreatif sebagai bagian dari transformasi ekonomi daerah.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI NTT Adidoyo Prakoso mengatakan perekonomian NTT pada 2025 ditopang oleh sektor perdagangan dan administrasi pemerintahan, serta peningkatan produksi yang berdampak pada kenaikan pendapatan masyarakat.

Untuk tahun 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi NTT berada pada kisaran 4,94 persen hingga 5,54 persen.

Kami optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 dapat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan dukungan program ekonomi kerakyatan, percepatan proyek strategis, dan peningkatan produksi komoditas unggulan,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan sejumlah tantangan yang harus diwaspadai, baik dari sisi global maupun domestik. Di antaranya ketidakpastian akibat konflik internasional, kenaikan harga komoditas seperti minyak, emas, dan gandum, serta gangguan logistik global.

Selain itu, investor juga cenderung lebih berhati-hati dalam menanamkan modal di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di tingkat daerah, tantangan lain meliputi ketergantungan pada cuaca, penurunan kapasitas fiskal, serta meningkatnya impor bahan bangunan untuk mendukung proyek investasi.

Karena itu diperlukan kebijakan fiskal yang responsif dan strategi yang fokus pada sektor-sektor utama ekonomi daerah,” kata Adidoyo.

Ia menyebut sektor pertanian dan administrasi pemerintahan masih menjadi penopang utama ekonomi NTT, sementara sektor industri pengolahan dan perdagangan menjadi sektor potensial yang perlu didorong lebih lanjut.

Selain itu, hilirisasi komoditas unggulan seperti rumput laut, jambu mete, dan kopi dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.

Dalam forum tersebut, BI juga meluncurkan program Call for Paper “KARSA NUSA” sebagai upaya mendorong lahirnya riset kebijakan yang aplikatif dan implementatif.

Kami berharap ide dan gagasan dari akademisi, pelaku usaha, dan ASN dapat menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat struktur ekonomi NTT yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.