Hardiknas 2026, Gubernur NTT: Pendidikan Harus Lahirkan Wirausaha
![]() |
| Arahan Gubernur NTT di hari pendidikan Nasional 2026. Foto: Ocep Purek |
Dalam upacara yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT tersebut, Melki membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, yang menekankan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
“Pendidikan di NTT harus betul-betul memberikan kemampuan akademik yang baik bagi siswa-siswi, mahasiswa di semua jenjang dan bidang studi,” kata Melki.
Ia menegaskan, pendidikan tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga wajib memastikan terbentuknya karakter peserta didik.
“Kita harus memastikan setiap anak memiliki karakter yang baik. Pendidikan karakter tidak boleh dilupakan,” ujarnya.
Selain itu, Melki menyoroti pentingnya kewirausahaan sebagai kebutuhan strategis daerah. Ia meminta agar proses pendidikan sejak SD hingga perguruan tinggi mulai menanamkan kemampuan berwirausaha.
“NTT butuh banyak wirausaha. Anak-anak kita jangan hanya berpikir mencari kerja atau menjadi PNS, tetapi harus mampu menjadi pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Dalam sambutan Menteri yang dibacakan, peringatan Hardiknas disebut sebagai momentum refleksi untuk meneguhkan kembali semangat pendidikan nasional. Pendidikan dipandang sebagai proses memanusiakan manusia yang dilakukan secara tulus, penuh kasih sayang, dan berorientasi pada pengembangan potensi manusia.
Konsep pendidikan tersebut merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan sistem among: asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan). Pendidikan juga ditegaskan sebagai amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun watak, serta membentuk manusia yang beriman, berakhlak, cerdas, terampil, dan bertanggung jawab.
Sejalan dengan visi pembangunan nasional dan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pendidikan diarahkan untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, kuat, dan tangguh.
Untuk itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (deep learning) sebagai program prioritas peningkatan mutu pendidikan. Pendekatan ini diyakini menjadi kunci untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pelaksanaan pembelajaran mendalam didukung lima kebijakan strategis.
Pertama, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan serta digitalisasi pembelajaran. Program ini menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan sarana yang memadai. Pada 2025, sebanyak 16.167 satuan pendidikan telah direvitalisasi, sementara digitalisasi melalui papan interaktif digital telah menjangkau lebih dari 288.000 satuan pendidikan.
Kedua, peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru. Pemerintah memberikan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester bagi guru yang belum berkualifikasi Diploma IV atau S1 melalui program rekognisi pembelajaran lampau. Pada 2025, program ini menyasar 12.500 guru dan meningkat menjadi 150.000 guru pada 2026.
Guru juga mendapat pelatihan dalam berbagai bidang, seperti pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, kepemimpinan sekolah, serta bahasa Inggris. Selain itu, kesejahteraan guru ditingkatkan melalui sertifikasi dengan tunjangan yang kini ditransfer langsung setiap bulan, serta insentif bagi guru honorer.
Ketiga, penguatan karakter melalui penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, baik secara fisik, sosial, maupun spiritual. Program ini sejalan dengan budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diarahkan Presiden.
Penguatan karakter juga dilakukan melalui berbagai program seperti Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Makan Bergizi Gratis (MBG), kegiatan Pagi Ceria, upacara bendera, pramuka, hingga pembelajaran berbasis pengalaman. Kementerian juga meluncurkan lagu-lagu anak untuk menanamkan nilai toleransi dan kebersamaan.
Keempat, peningkatan kualitas pembelajaran melalui penguatan literasi, numerasi, serta pengembangan STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika). Selain itu, diterapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai alat evaluasi capaian pendidikan sekaligus dasar intervensi peningkatan mutu.
Kelima, perluasan akses pendidikan yang inklusif, mudah, dan fleksibel. Pemerintah membuka akses melalui sekolah satu atap, pendidikan jarak jauh, sekolah terbuka, serta layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui penguatan sekolah inklusi dan pendidikan berbasis masyarakat.
Dalam 18 bulan terakhir, kementerian disebut telah meletakkan fondasi pendidikan bermutu untuk semua melalui integrasi empat pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.
Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan pendidikan tidak hanya bergantung pada program, tetapi juga pada perubahan pola pikir, mental, dan arah kebijakan.
“Tanpa mindset yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus, semua kebijakan hanya akan berhenti sebagai program formalitas,” demikian kutipan sambutan Menteri yang dibacakan.
Melki menegaskan, arah kebijakan nasional tersebut harus diterjemahkan secara konkret di NTT, terutama dalam menjawab tantangan daerah yang masih membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kalau pendidikan kita kuat di akademik, karakter, dan kewirausahaan, maka kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membangun masa depan NTT,” ujarnya.
Upacara Hardiknas di Kupang diikuti pelajar, guru, dan jajaran pemerintah daerah, menjadi momentum penegasan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor pendidikan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Editor: Ocep Purek
