News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Melki Laka Lena Minta Calon Kepsek Jadi Penggerak Perubahan Pendidikan

Melki Laka Lena Minta Calon Kepsek Jadi Penggerak Perubahan Pendidikan

 

Gubernur NTT membuka Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah jenjang SMA, SMK dan SLB Tahun 2026. Foto: Idin
Kupang, NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pembenahan kualitas pendidikan di NTT harus dimulai dari penguatan kepemimpinan kepala sekolah.

Menurut Melki, kepala sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi pengarah utama kualitas guru, budaya akademik, pembentukan karakter hingga pengembangan kewirausahaan peserta didik.

Hal itu disampaikan Melki saat membuka Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah jenjang SMA, SMK dan SLB Tahun 2026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT di Hotel Pelangi, Kota Kupang, Senin (5/10/2026).

“Yang kita bangun bukan hanya sekolah di NTT, tetapi sebenarnya kita sedang membangun masa depan dan cerita yang lebih hebat lagi ke depan melalui perbaikan pendidikan,” kata Melki.

Melki mengatakan kegiatan diklat tersebut menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya pelatihan bakal calon kepala sekolah seperti ini diselenggarakan di tingkat Provinsi NTT.

Ia meminta para calon kepala sekolah tidak melihat jabatan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk melayani guru dan peserta didik.

“Jabatan ini jangan dianggap sebagai sebuah tujuan akhir, tetapi ini adalah alat untuk melayani sesama. Kepala sekolah jangan hanya bertanya apa yang bisa saya perintahkan atau apa yang bisa saya suruh, tetapi juga perlu bertanya apa yang dapat saya lakukan agar para guru dan peserta didik menjadi lebih baik,” ujarnya.

Melki mengakui mutu pendidikan NTT masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah. Ia menyinggung capaian pendidikan NTT yang dalam beberapa tahun terakhir masih berada di kelompok tiga terbawah nasional. Kondisi tersebut, kata dia, harus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Data dan pernyataan pemerintah daerah sebelumnya juga menunjukkan hasil Tes Kemampuan Akademik menempatkan NTT dalam kelompok tiga terbawah dari 38 provinsi.

Melki meminta kepala sekolah SMA, SMK dan SLB tidak menjadikan persoalan kualitas pendidikan pada jenjang sebelumnya sebagai alasan untuk tidak melakukan pembenahan.

“Apapun bahan baku yang masuk di SMA kita, kita tidak peduli. Mau bahan bakunya rusak parah, mau agak bagus, mau baik, yang penting jangan sampai ada argumentasi bahwa karena sudah rusak dari pendidikan dasar, maka SMA tidak bisa memperbaikinya,” kata dia.

Menurut Melki, sekolah menengah harus menjadi bagian dari solusi untuk memperbaiki kualitas peserta didik. Karena itu, kepala sekolah dituntut terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

“Jadilah manusia pembelajar. Belajar terus, belajar terus, belajar terus,” tegasnya.

Melki juga menyoroti pentingnya penguatan kemampuan pedagogi guru dan kepala sekolah. Ia membandingkan pembelajaran masa lalu yang menurutnya mampu mentransfer pengetahuan secara kuat kepada peserta didik dengan kondisi saat ini, ketika gelar akademik semakin banyak tetapi kemampuan pedagogi dinilai masih perlu diperkuat.

Melki yang mengaku berasal dari keluarga guru mengatakan pengalaman tersebut membuat dirinya memahami pentingnya peran guru dan kepala sekolah dalam membentuk kualitas pendidikan.

Ia meminta para calon kepala sekolah mencari kembali metode pembelajaran yang membuat materi lebih mudah dipahami dan menyenangkan bagi siswa.

“Ilmu pedagogi yang dulu sangat hebat di NTT harus kita buat lebih hebat lagi ke depan,” ujarnya.

Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 sendiri menempatkan kepala sekolah sebagai guru yang mendapat penugasan untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan guna meningkatkan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh murid.

Selain kualitas akademik, Melki meminta kepala sekolah membangun budaya akademik melalui diskusi dan dialog di lingkungan sekolah. Ia mengkritik pola pembelajaran yang terlalu bertumpu pada guru berbicara sementara siswa hanya menerima materi.

Menurutnya, ruang kelas harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat dan berpikir kritis.

“Jangan ruang kelas menjadi kuburan, di mana hanya guru yang berbicara terus,” katanya.

Melki bahkan mendorong pola pembelajaran yang memberikan porsi lebih besar bagi diskusi sehingga peserta didik terbiasa menyampaikan gagasan.

Menurut dia, budaya dialog tidak hanya penting bagi siswa jurusan sosial, tetapi juga harus tumbuh pada peserta didik bidang IPA, matematika, teknologi maupun bidang lainnya.

Melki juga meminta kepala sekolah membuat program konkret untuk membentuk karakter siswa, terutama kejujuran dan kedisiplinan.

Ia menilai pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus dipraktikkan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan.

Melki mencontohkan berbagai kegiatan sederhana yang dapat dilakukan sekolah untuk menguji dan menanamkan kejujuran peserta didik.

“Karakter anak-anak kita harus dibentuk dengan sengaja sehingga menjadi kebiasaan dari sekolah,” ujarnya.

Ia juga meminta kepala sekolah memastikan lingkungan sekolah bebas dari kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Menurut Melki, kepala sekolah harus bertanggung jawab membangun budaya sekolah yang aman dan sehat bagi peserta didik.

Tidak berhenti pada akademik dan karakter, Melki juga mendorong setiap SMA dan SMK di NTT memiliki sedikitnya satu produk unggulan yang dapat dikembangkan dan dipasarkan. Ia mengatakan sekolah harus menjadi tempat peserta didik belajar memproduksi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

“Setiap sekolah tanpa kecuali minimal punya satu produk unggulan yang dihasilkan dan dijual,” katanya.

Program tersebut, menurut Melki, berkaitan dengan upaya pemerintah membangun ekonomi kerakyatan sekaligus mengurangi ketergantungan NTT terhadap produk dari luar daerah. Ia menilai sekolah memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk sesuai karakteristik masing-masing.

Sekolah kejuruan, misalnya, dapat menghasilkan produk otomotif, permesinan, teknologi, hingga produk berbasis kebutuhan masyarakat.

Melki mengatakan langkah tersebut juga penting untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak bangku sekolah.

“NTT ini kekurangan pengusaha. Kita terus membeli barang dari luar, sementara anak-anak yang sebenarnya bisa berusaha tidak didorong untuk berusaha,” ujarnya.

Di hadapan para peserta, Melki kembali mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik atau jabatan.

Menurut dia, hal terpenting yang harus dimiliki seorang kepala sekolah adalah hati yang melayani.

“Jangan waktu jadi guru hati melayani, kemudian waktu menjadi kepala sekolah hati menjadi bos. Mentalitas dan cara kerja itu jangan berubah,” kata Melki.

Ia pun meminta para calon kepala sekolah membangun komunikasi terbuka dengan guru, tenaga kependidikan dan peserta didik.

“Kalau kita gotong royong, kita bisa membuat pendidikan NTT menjadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih berkarakter, lebih mandiri dan memiliki kualitas akademik yang lebih baik,” ujarnya.

Melki kemudian secara resmi membuka Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah SMA, SMK dan SLB Tahun 2026.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo menjelaskan Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah merupakan bagian dari upaya pemerintah menyiapkan pemimpin satuan pendidikan yang memiliki kompetensi kepemimpinan.

Ambrosius mengatakan kualitas kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan kemampuan sekolah dalam mengelola sumber daya, membangun budaya sekolah, meningkatkan kualitas pembelajaran serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.

Ia merujuk pada Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah sebagai salah satu landasan pelaksanaan diklat. Regulasi tersebut mengatur penugasan guru sebagai kepala sekolah dan kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah.

“Pelatihan bakal calon kepala sekolah diadakan untuk menyiapkan pemimpin di satuan pendidikan agar menjadi pemimpin yang visioner dan memiliki mimpi tentang kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur,” kata Ambrosius.

Diklat tersebut diikuti bakal calon kepala sekolah yang telah lulus seleksi substansi. Untuk tahap pertama, terdapat 159 peserta yang mengikuti pelatihan.

Secara keseluruhan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT menyebut sasaran program pelatihan mencapai 294 guru calon kepala sekolah dalam dua tahap.

Pelatihan dilaksanakan melalui dua tahapan. Tahap pertama berupa orientasi dan pelatihan daring melalui Learning Management System (LMS) pada 26 September hingga 2 Oktober 2026.

Selanjutnya, pelatihan luring berlangsung pada 3-12 Oktober 2026 di Hotel Pelangi, Jalan Veteran, Kota Kupang.

Para peserta mendapatkan materi mengenai kebijakan pemerintah, penguatan kompetensi kepribadian dan sosial, pengelolaan satuan pendidikan, kepemimpinan pembelajaran, kewirausahaan, pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan serta supervisi akademik.

Metode pelatihan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, praktik, penugasan individu dan kelompok, refleksi, presentasi, pembelajaran berbasis pengalaman, kunjungan ke sekolah hingga penyusunan rencana tindak lanjut.


Editor: Ocep Purek 

TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama