Survei Poltracking: Golkar Masuk Tiga Besar Elektabilitas Parpol, Raih 10,4 Persen
Jakarta, NTTPride.com - Partai Golkar menempati posisi tiga besar dalam survei elektabilitas partai politik yang dirilis Poltracking Indonesia periode Agustus 2026. Dalam survei tersebut, Golkar mencatat tingkat keterpilihan sebesar 10,4 persen, berada di bawah Partai Gerindra dan PDI Perjuangan.
Capaian tersebut menempatkan Partai Golkar sebagai salah satu dari tiga partai politik dengan elektabilitas tertinggi berdasarkan pengukuran Poltracking Indonesia. Partai Gerindra berada di posisi pertama dengan elektabilitas 23,2 persen, disusul PDI-P sebesar 11,6 persen, dan Partai Golkar sebesar 10,4 persen.
“Ini merupakan tiga partai politik teratas pada pengukuran periode survei kita, Gerindra 23,2 persen, PDI-P 11,6 persen, dan Golkar 10,4 persen,” kata Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro dalam paparan yang disiarkan secara daring melalui Poltracking TV, Rabu (23/9/2026).
Menurut Yoki, Partai Gerindra masih menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi dalam survei tersebut.
“Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen masih unggul dibandingkan partai-partai lainnya,” ujarnya.
Setelah Gerindra, posisi kedua dan ketiga ditempati PDI-P dan Partai Golkar dengan elektabilitas masing-masing 11,6 persen dan 10,4 persen.
“Ini merupakan tiga partai politik teratas pada pengukuran periode survei kita, Gerindra, PDI-P, dan Golkar,” kata Yoki.
Survei Poltracking Indonesia tersebut dilakukan pada periode 14-20 Agustus 2026 melalui metode wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia secara proporsional berdasarkan data jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024, dengan stratifikasi berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih. Survei ini memiliki margin of error sebesar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Selain Golkar, dua partai lainnya mencatat elektabilitas di atas enam persen, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebesar 6,2 persen dan Partai Demokrat sebesar 6,1 persen.
Selanjutnya, Partai NasDem memperoleh elektabilitas 4,4 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) sebesar 3,4 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebesar 3,3 persen, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebesar 2,3 persen, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebesar 1,9 persen.
Sementara itu, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) memperoleh 0,6 persen, Partai Buruh 0,5 persen, dan Partai Hanura 0,3 persen. Adapun enam partai politik lainnya berada pada angka 0,1 persen, yaitu Partai Ummat, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Garuda, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), dan Partai Gelora.
Dalam tren elektabilitas selama periode Oktober 2025 hingga Agustus 2026, Partai Golkar menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dibandingkan sejumlah partai lainnya.
Berdasarkan data Poltracking Indonesia, elektabilitas Golkar berada di angka 9,5 persen pada Oktober 2025, kemudian turun menjadi 9,0 persen pada Maret 2026. Setelah itu, elektabilitas Golkar meningkat menjadi 9,2 persen pada Mei 2026, kembali naik menjadi 11,4 persen pada Juli 2026, sebelum berada di angka 10,4 persen pada Agustus 2026.
Sementara itu, Partai Gerindra yang berada di posisi pertama mengalami tren penurunan dalam satu tahun terakhir. Elektabilitas Gerindra tercatat sebesar 24,1 persen pada Oktober 2025, naik menjadi 26,1 persen pada Maret 2026, kemudian turun menjadi 25,9 persen pada Mei 2026, turun kembali menjadi 23,5 persen pada Juli 2026, dan berada di angka 23,2 persen pada Agustus 2026.
PDI-P juga mengalami penurunan tren elektabilitas. Pada Oktober 2025, elektabilitas PDI-P tercatat sebesar 15,7 persen, kemudian turun menjadi 15,4 persen pada Maret 2026, 14,4 persen pada Mei 2026, 12,3 persen pada Juli 2026, dan 11,6 persen pada Agustus 2026.
Adapun PKB tercatat berada di angka 8,4 persen pada Oktober 2025, turun menjadi 8,1 persen pada Maret 2026, meningkat menjadi 8,5 persen pada Mei 2026, naik kembali menjadi 9,8 persen pada Juli 2026, kemudian turun menjadi 6,2 persen pada Agustus 2026.
“Tren elektabilitas partai politik, Gerindra, PDI-P, dan PKB cenderung mengalami sedikit penurunan,” ujar Yoki.
Selain Golkar, Partai Demokrat juga menunjukkan tren yang relatif stabil. Elektabilitas Demokrat berada pada angka 5,4 persen pada Oktober 2025, meningkat menjadi 5,6 persen pada Maret 2026, naik menjadi 6,1 persen pada Mei 2026, meningkat kembali menjadi 6,9 persen pada Juli 2026, sebelum berada di angka 6,1 persen pada Agustus 2026.
Dalam simulasi apabila ambang batas parlemen atau parliamentary threshold ditetapkan sebesar 5 persen, hasil survei Poltracking menunjukkan terdapat tiga partai politik yang berada pada posisi aman untuk memenuhi ambang batas tersebut.
Ketiga partai tersebut adalah Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen, PDI-P sebesar 11,6 persen, dan Partai Golkar sebesar 10,4 persen.
Poltracking menjelaskan, perhitungan tersebut mempertimbangkan margin of error survei sebesar ±2,9 persen. Dengan rentang tersebut, elektabilitas ketiga partai masih berada di atas ambang batas parlemen 5 persen.
Sementara itu, terdapat enam partai politik yang masih berada dalam rentang kemungkinan lolos atau tidak lolos apabila memperhitungkan margin of error survei. Partai tersebut adalah PKB, Partai Demokrat, Partai NasDem, PAN, PKS, dan PSI.
PKB dengan elektabilitas 6,2 persen dan Partai Demokrat sebesar 6,1 persen berpotensi berada di bawah ambang batas apabila dikurangi margin of error sebesar 2,9 persen.
Sedangkan Partai NasDem (4,4 persen), PAN (3,4 persen), PKS (3,3 persen), dan PSI (2,3 persen) masih memiliki peluang memenuhi ambang batas apabila mengalami peningkatan sesuai margin of error survei.
Adapun sembilan partai politik lainnya belum mencapai ambang batas parlemen meskipun elektabilitasnya ditambah margin of error sebesar 2,9 persen. Partai tersebut yakni PPP (1,9 persen), Perindo (0,6 persen), Partai Buruh (0,5 persen), Hanura (0,3 persen), Partai Ummat (0,1 persen), PBB (0,1 persen), Partai Garuda (0,1 persen), PKN (0,1 persen), dan Partai Gelora (0,1 persen).
Editor: Ocep Purek
