Di Rumah Nono, Bocah Juara Dunia, Gubernur NTT Disuguhi Realita: Warga Buraen Masih Beli Air Rp100 Ribu | NTT Pride
![]() |
| Gubernur NTT Melki Laka Lena duduk santai bersama adik Nono di kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan. Foto: Ibo |
Di tengah apresiasi atas prestasi internasional Nono, berbagai persoalan mendasar masyarakat justru mengemuka mulai dari krisis air bersih, akses jalan rusak, hingga kebutuhan fasilitas keamanan.
Nono, siswa kelas 5 SD Inpres Buaraen 2, menyambut kedatangan gubernur dengan mengalungkan selendang khas Amarasi Selatan. Suasana hangat terasa saat Melki duduk berdampingan dengan Nono, berbincang santai, dan melontarkan sejumlah pertanyaan yang dijawab cepat dan tepat oleh bocah tersebut.
“Ini anak hebat,” ujar Melki, sambil mengelus kepala Nono.
Prestasi Nono memang tidak biasa. Ia tercatat tiga kali berturut-turut menjuarai kompetisi matematika internasional “Abacus Brain Gym”. Pada salah satu ajang tahun 2022, Nono bahkan mampu mengungguli sekitar 7.000 peserta dari berbagai negara.
Namun di balik capaian mendunia itu, keluarga dan warga Buraen justru masih bergulat dengan persoalan dasar.
Orang tua Nono, dengan suara bergetar, menyampaikan rasa bangga sekaligus harapan besar kepada pemerintah. Mereka mengaku ini adalah pertama kalinya seorang gubernur datang langsung ke rumah mereka.
“Kami bangga dan terharu. Terima kasih karena Bapak Gubernur mau datang ke rumah kami,” ungkapnya.
Ia kemudian menyampaikan sejumlah keluhan yang selama ini dirasakan masyarakat. Salah satu yang paling mendesak adalah krisis air bersih. Warga bahkan harus membeli air tangki dengan harga mencapai Rp100 ribu.
“Kami di sini kekurangan air. Padahal banyak orang besar datang ke sini karena Nono, tapi kami masih beli air,” ujarnya.
Selain itu, warga juga meminta perbaikan jalan di Kali Teeres yang dinilai menyulitkan akses transportasi. Di sektor pertanian, mereka berharap adanya bantuan, mengingat banyak warga memiliki lahan sawah, termasuk keluarga Nono yang memiliki sekitar satu hektare.
“Kami mohon bantuan pertanian. Banyak yang punya sawah di sini,” katanya.
Permintaan lain yang disampaikan adalah penambahan embung untuk meningkatkan kapasitas tampungan air, sehingga lahan pertanian baru bisa dibuka. Warga juga meminta kehadiran kantor kepolisian sektor (Polsek) di wilayah Buraen karena saat ini masih bergabung dengan Oekabiti dan dinilai rawan.
Menanggapi hal itu, Gubernur Melki menegaskan pemerintah provinsi akan segera menindaklanjuti berbagai aspirasi tersebut dengan melibatkan pihak terkait.
“Terkait catatan tadi, kami akan segera follow up bersama kepolisian. Dari provinsi juga akan turun untuk melihat langsung dan menindaklanjuti,” tegasnya.
Untuk sektor pertanian, Melki memastikan bantuan pupuk dan benih bisa diberikan. Namun untuk alat seperti traktor, ia menjelaskan saat ini menggunakan sistem brigade agar dapat dimanfaatkan secara bergantian oleh masyarakat.
“Kalau pupuk dan benih bisa kita bantu. Tapi untuk alat seperti traktor sekarang sistemnya brigade, jadi dipakai bersama,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan air sebagai kunci utama pengembangan pertanian di wilayah tersebut. Tanpa ketersediaan air yang memadai, potensi lahan yang ada sulit dimaksimalkan.
Di sisi lain, Melki menegaskan kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk apresiasi sekaligus dorongan agar prestasi seperti yang diraih Nono terus berkembang.
Menurutnya, keberhasilan Nono menjadi bukti bahwa anak-anak NTT mampu bersaing di tingkat dunia jika mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan.
“Dari Buraen ini lahir juara dunia. Ini menunjukkan anak-anak NTT bisa berprestasi di mana saja,” katanya.
Ia pun berpesan kepada Nono agar tetap rendah hati, rajin belajar, dan terus mengembangkan kemampuannya.
“Belajar yang rajin, terus berprestasi. Jangan macam-macam. Kalau ada yang ajak berkelahi, tolak saja,” pesannya.
Melki juga berharap ke depan Nono bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi hingga ke luar negeri, bahkan kembali mengabdi untuk NTT dan Indonesia.
Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan dua wajah Buraen: lahirnya talenta kelas dunia dari pelosok daerah, di tengah keterbatasan infrastruktur dan layanan dasar yang masih perlu perhatian serius pemerintah.
Editor: Ocep Purek
