News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Gubernur NTT Gaungkan “TAPA OKE JU”, Petani Didesak Tambah Nilai Hasil Tani di Tengah Tekanan Global | NTT Pride

Gubernur NTT Gaungkan “TAPA OKE JU”, Petani Didesak Tambah Nilai Hasil Tani di Tengah Tekanan Global | NTT Pride

Gubernur Melk menghadiri panen jagung bersama Kelompok Tani Nonotasi di Desa Teres, Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan. Foto: Ibo
Amarasi, NTTPride.com – Ketahanan pangan menjadi isu krusial di tengah ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda mereda. Pemerintah Provinsi NTT mendorong peningkatan produksi sekaligus hilirisasi hasil pertanian, agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi lebih.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa pangan merupakan kebutuhan paling mendasar dibanding sektor lainnya.

Orang bisa tidak punya listrik atau BBM, tapi kalau tidak punya makanan, itu persoalan besar. Karena itu tugas pemerintah memastikan masyarakat bisa produksi dan makan dari hasil sendiri,” tegasnya.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri panen jagung bersama Kelompok Tani Nonotasi di Desa Teres, Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Kamis (26/3/2026).

Dalam kegiatan tersebut, ia didampingi Bupati Kupang Yosef Lede, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Kepala Dinas Perhubungan, pimpinan OPD Kabupaten Kupang, serta unsur TNI-Polri.

Gubernur menegaskan, pemerintah daerah merupakan perpanjangan tangan Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan program strategis nasional, termasuk swasembada pangan.

Ia mengungkapkan, Kabupaten Kupang menunjukkan tren positif dengan luas lahan jagung mencapai sekitar 13.000 hektare dan ditargetkan meningkat menjadi 19.000 hektare.

Menurutnya, jika seluruh elemen bergerak bersama mulai dari pemerintah, petani, TNI-Polri hingga tokoh masyarakat maka daerah ini berpotensi menjadi salah satu lumbung pangan utama di NTT.

Tak hanya produksi, Gubernur juga menyoroti pengelolaan sumber daya air yang dinilai belum optimal. Padahal, Kabupaten Kupang memiliki bendungan besar seperti Raknamo dan Manikin yang dapat menopang pertanian sepanjang musim.

Jangan sampai ada bendungan besar tapi tidak dimanfaatkan. Air harus sampai ke lahan-lahan pertanian,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya perubahan pola ekonomi petani. Selama ini, praktik yang dominan masih sebatas “tanam–panen–jual”, tanpa nilai tambah.

Ke depan, pemerintah mendorong transformasi ke pola “tanam–panen–olah–kemas–jual” agar produk memiliki daya saing lebih tinggi.

Kalau kita olah dan kemas, harga bisa naik. Ini yang sedang kita dorong bersama perbankan dan berbagai pihak,” kata Melki.

Ia mencontohkan, beras maupun jagung yang dikemas dapat dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk mentah.

Dari sisi harga, kebijakan pemerintah pusat dinilai mulai memberi dampak positif. Harga jagung kini ditetapkan Rp6.400 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp5.500.

Selain itu, pemerintah menjamin penyerapan hasil melalui Bulog, serta membuka akses pasar lewat NTT Mart dan jaringan toko lokal.

Apapun yang dihasilkan rakyat, wajib kita beli. Itu pesan Presiden,” tegasnya.

Gubernur juga menyinggung dukungan konkret pemerintah melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pendampingan penyuluh, hingga kehadiran Balai Pengujian dan Balai Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian di Kabupaten Kupang.

Ia pun mengajak petani untuk terus meningkatkan produksi.

Sekarang kita tidak hanya tanam, panen, jual. Tapi harus mulai olah dan kemas. Itu yang bikin nilai tambah,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kupang Yosef Lede menilai, keberhasilan panen jagung menjadi bukti bahwa masyarakat siap mendukung program ketahanan pangan nasional.

Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk bibit, alat, maupun akses pasar.

Kalau ada hasil seperti ini, besok minta bantuan apa saja pasti kita dukung,” katanya.

Bupati Yosef juga menyoroti potensi besar sektor peternakan yang dapat dikombinasikan dengan pertanian, terutama pemanfaatan lamtoro sebagai pakan ternak.

Menurutnya, integrasi pertanian dan peternakan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya kepastian pasar sebagai faktor utama yang mendorong petani untuk meningkatkan produksi.

Dulu orang malas tanam karena tidak tahu mau jual ke mana. Sekarang sudah jelas, hasil pasti dibeli dengan harga pemerintah,” tegasnya.

Ia juga meminta Bulog memastikan seluruh hasil panen terserap dengan standar kadar air sekitar 14 persen sesuai ketentuan.

Lebih jauh, Bupati mengingatkan bahwa kondisi global, termasuk potensi konflik dan krisis, dapat berdampak langsung pada ketersediaan pangan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus menanam dan memanfaatkan potensi lahan secara optimal.

Terus menanam, karena kita tidak tahu sampai kapan kondisi global ini. Ketahanan pangan adalah kunci,” pungkasnya.


Editor: Ocep Purek 


TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.