Gubernur NTT Siap Dukung Pengembangan RSU Muder Ignacia Soe yang Layani 75 Ribu Pasien
![]() |
| Gubernur NTT meeresmian Gedung Utama Rumah Sakit Umum (RSU) Muder Ignacia Soe. Foto: Idin |
Peresmian gedung utama tersebut menjadi bagian dari perayaan 10 tahun perjalanan RSU Muder Ignacia Soe yang dikelola Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM). Kehadiran gedung baru itu diharapkan meningkatkan kapasitas layanan kesehatan sekaligus mendukung target rumah sakit menjadi fasilitas kesehatan tipe D.
Melki mengatakan keberadaan rumah sakit yang berkualitas merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat NTT, terutama di Kabupaten TTS yang memiliki jumlah penduduk hampir 500 ribu jiwa.
“Saya ingin mengucapkan selamat kepada para suster RVM yang telah menghadirkan Rumah Sakit Muder Ignacia yang kita banggakan ini. Dengan jumlah penduduk yang besar di Kabupaten TTS, kehadiran rumah sakit ini menjadi sumbangan yang luar biasa bagi masyarakat,” kata Melki.
Mantan anggota Komisi IX DPR RI itu mengaku telah mengikuti perkembangan rumah sakit tersebut sejak beberapa tahun lalu ketika masih membidangi sektor kesehatan di parlemen.
“Saya terakhir ke sini masih saat menjadi anggota Komisi IX DPR RI ketika urusan Covid-19. Saat itu belum ada gedung utama seperti sekarang. Dengan hadirnya gedung utama ini, tentu pelayanan dokter, perawat dan seluruh keluarga besar rumah sakit harus semakin hebat lagi,” ujarnya.
Menurut Melki, pembangunan gedung utama merupakan bukti kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kongregasi RVM, tenaga kesehatan, pemerintah daerah hingga para donatur internasional yang selama ini mendukung pengembangan rumah sakit.
Ia memastikan Pemerintah Provinsi NTT akan mencari berbagai solusi untuk membantu kebutuhan rumah sakit agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat terus meningkat.
“Tentu tugas kita bersama, termasuk saya sebagai gubernur dan pernah berada di sektor kesehatan, mencari cara agar ada dukungan konkret yang bisa diberikan. Kalau ada niat baik, selalu ada jalan,” tegasnya.
Melki juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang selama ini mengabdikan diri melayani masyarakat TTS.
“Saya berharap para dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi dan seluruh karyawan rumah sakit selalu diberikan kesehatan dan kemampuan yang baik untuk melayani masyarakat,” katanya.
Dukungan terhadap pengembangan RSU Muder Ignacia Soe juga datang dari mitra internasional. Perwakilan John James Foundation Australia, Dr. David O'Rourke, mengatakan pihaknya telah mendampingi pelayanan kesehatan di wilayah tersebut sejak tahun 2006.
Menurut David, rumah sakit tersebut saat ini telah melayani sekitar 75 ribu pasien serta menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 60 tenaga kesehatan dan tenaga pendukung.
“Rumah sakit ini melayani sekitar 75 ribu pasien dan menyediakan pekerjaan bagi sekitar 60 orang. Kami juga mendukung berbagai pelatihan tenaga kesehatan dan secara rutin melaksanakan operasi katarak setiap tahun,” ujarnya.
David menjelaskan keterlibatan yayasannya bermula dari kerja sama pelayanan kesehatan bersama Kongregasi RVM yang kemudian berkembang menjadi dukungan pembangunan fasilitas rumah sakit.
Ia menilai perkembangan RSU Muder Ignacia Soe selama satu dekade terakhir merupakan hasil kerja sama jangka panjang yang melibatkan banyak pihak.
“Kami hidup di dunia yang berbeda tetapi sesungguhnya menjalani kehidupan yang sama. Kami bangga melihat komitmen luar biasa dari para suster, tenaga kesehatan dan seluruh pihak yang bekerja untuk masyarakat di sini,” katanya.
David juga mengenang peran mendiang Suster Yasinta War yang menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan pelayanan kesehatan hingga berdirinya rumah sakit tersebut.
Menurutnya, target peningkatan status rumah sakit menjadi tipe D saat ini telah mencapai sekitar 75 persen.
Direktur RSU Muder Ignacia Soe, dr. Hironimus Fernandez, menjelaskan rumah sakit yang dipimpinnya saat ini berawal dari sebuah balai pengobatan sederhana yang kemudian berkembang menjadi klinik sebelum akhirnya menjadi rumah sakit.
“Sesungguhnya perjalanan rumah sakit ini berawal dari mimpi seorang misionaris RVM yang datang ke Indonesia untuk melayani masyarakat di bidang kesehatan,” katanya.
Dari kerja sama tersebut, para suster kemudian bertemu Dr. David O'Rourke yang selanjutnya membantu mengembangkan klinik menjadi rumah sakit melalui dukungan pembiayaan.
Pada 11 Juni 2016, gedung pertama rumah sakit yang dikenal sebagai “Gedung Salib” diresmikan. Gedung itu dibangun melalui dukungan John James Foundation dan menjadi tonggak awal pengembangan pelayanan kesehatan di RSU Muder Ignacia Soe.
Sepuluh tahun kemudian, yayasan yang sama kembali mendukung pembangunan Gedung Utama yang kini resmi digunakan untuk memperluas layanan kesehatan masyarakat.
Hironimus mengatakan pembangunan gedung utama merupakan bagian dari strategi peningkatan kelas rumah sakit menuju tipe D.
“Kami harus memenuhi berbagai persyaratan layanan, mulai dari pelayanan penyakit dalam, bedah, kesehatan anak, radiologi, patologi klinik hingga mikrobiologi. Saat ini capaian kami sudah sekitar 75 persen,” jelasnya.
Selain melengkapi fasilitas medis, rumah sakit juga akan menambah kapasitas tempat tidur dari 30 unit menjadi sedikitnya 50 unit sesuai standar rumah sakit tipe D.
“Kami berharap seluruh kebutuhan sarana, prasarana dan tenaga kesehatan yang masih kurang dapat terpenuhi sehingga target menjadi rumah sakit tipe D dapat tercapai dalam waktu dekat,” ujarnya.
Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni yang turut hadir dalam peresmian tersebut mengatakan gedung utama yang baru diberkati bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol harapan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Hari ini bukan hanya peresmian sebuah gedung, tetapi ungkapan syukur atas karya kasih Tuhan yang terus berkembang melalui pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Menurutnya, rumah sakit harus menjadi tempat masyarakat memperoleh kesembuhan, penghiburan dan pelayanan yang menghargai martabat manusia.
Ia mengingatkan bahwa tantangan pelayanan kesehatan ke depan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas dan teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia serta komitmen pelayanan.
“Gedung yang megah dan fasilitas yang lengkap hanya akan memiliki makna apabila di dalamnya terus hidup semangat kasih, pengorbanan, profesionalitas, integritas dan penghormatan terhadap martabat manusia,” tegasnya.
Uskup Hironimus juga memberikan apresiasi kepada Kongregasi RVM, para tenaga kesehatan, pemerintah daerah, para donatur dan seluruh pihak yang selama satu dekade terakhir mendukung perjalanan RSU Muder Ignacia Soe.
Peresmian Gedung Utama RSU Muder Ignacia Soe menandai babak baru pengembangan layanan kesehatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dengan dukungan Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah daerah, gereja, tenaga kesehatan dan mitra internasional, rumah sakit tersebut diharapkan mampu memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat di wilayah selatan Pulau Timor.
Editor: Ocep Purek
