News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Lembata Diburu Arkeolog Indonesia-Tiongkok, Jejak Permukiman 3.000 Tahun Siap Diungkap

Lembata Diburu Arkeolog Indonesia-Tiongkok, Jejak Permukiman 3.000 Tahun Siap Diungkap

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat menerima audiensi tim peneliti yang dipimpin Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak di Rumah Jabatan Gubernur, Sabtu pagi, (25/7). Foto: Ocep Purek 
Kupang, NTTPride.com - Pulau Lembata kembali menjadi sorotan lewat penelitian arkeologi internasional yang akan menelusuri jejak permukiman pesisir berusia 2.800-3.000 tahun. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memberi dukungan penuh atas riset kolaboratif Indonesia-Tiongkok yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juli-25 Agustus 2026 ini.

Dukungan itu disampaikan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat menerima audiensi tim peneliti yang dipimpin Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak di Rumah Jabatan Gubernur, Sabtu pagi, (25/7).

 Ia menyebut riset ini penting untuk memperkaya pemahaman tentang asal-usul Nusantara dan menegaskan bahwa Lembata memiliki nilai unik dalam sejarah awal kawasan timur Indonesia.

Penelitian bertajuk "Archaeological Excavation and Multidisciplinary Investigation of Neolithic Coastal Settlement on Lembata Island, Indonesia" melibatkan Pusat Penelitian Prasejarah dan Austronesia, Universitas Kristen Satya Wacana, Peking University, dan Fujian Provincial Institute of Archaeology. Lokasi utama riset berada di Situs Lewoleba I, sementara survei lanjutan juga akan dilakukan di Lewoleba II dan Wai Pukang.

Tim peneliti menargetkan pengungkapan tata ruang permukiman, pola konsumsi, teknologi tembikar, hubungan antarpulau, hingga kronologi hunian melalui metode penanggalan ilmiah. Temuan awal di kawasan itu disebut telah memberi petunjuk bahwa masyarakat pesisir pernah hidup di Lembata pada masa 2.800-3.000 tahun lalu.

Prof. Harry Truman Simanjuntak mengatakan riset ini bukan hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga relevan untuk kajian migrasi manusia di Asia. Keterlibatan peneliti Tiongkok disebut berkaitan dengan upaya memahami jalur perpindahan manusia dari daratan Asia ke kepulauan Nusantara.

Ia juga menyampaikan rencana membangun "workstation" atau pusat penyimpanan temuan arkeologi di Kota Kupang apabila riset menghasilkan temuan penting. Seluruh rangkaian penelitian akan berlangsung sesuai ketentuan pelestarian cagar budaya Indonesia.

Pemerintah provinsi menilai penelitian ini sejalan dengan semangat Dasa Cita Ayo Bangun NTT, terutama dalam penguatan riset, sumber daya manusia, dan kolaborasi akademik internasional. Gubernur Melki Laka Lena berharap kajian ilmiah ini dapat melengkapi tradisi lisan, mitos, dan legenda yang hidup di masyarakat NTT dengan bukti-bukti arkeologis 

Lebih jauh, riset tersebut dipandang berpotensi memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus memperdalam pemahaman tentang sejarah masyarakat pelaut awal di Indonesia dan Pasifik. Bagi NTT, Lembata bukan hanya lokasi penggalian artefak, melainkan pintu masuk untuk membaca kembali jejak panjang peradaban di timur Nusantara.


Editor: Ocep Purek 


TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.