News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Tragedi Siswa di Ngada, Gubernur MLL Pecah Tangis dan Ultimatum Manipulator Data Kemiskinan

Tragedi Siswa di Ngada, Gubernur MLL Pecah Tangis dan Ultimatum Manipulator Data Kemiskinan

Gubernur NTT Melki Laka Lena meresmikan NTT Mart By Dekranasda Kabupaten Flores Timur. Foto: Idin
Flores Timur,NTTPride.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menyampaikan pernyataan keras dan emosional terkait kasus kematian seorang siswa di Kabupaten Ngada yang meninggal dunia akibat gantung diri karena tidak mampu membeli buku dan bolpoin. Peristiwa tersebut, yang viral di media sosial dan mendapat atensi nasional, disebut Gubernur sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang tidak boleh terulang.

Pernyataan itu disampaikan Gubernur Melki saat meresmikan NTT Mart by Dekranasda Kabupaten Flores Timur di Taman Kota Feliks Fernandez, Kamis (5/2/2026) sore.

 Di hadapan para kepala daerah, Forkopimda, dan tamu undangan, Gubernur Melki tampak berlinang air mata saat menyampaikan sikap pemerintah provinsi atas tragedi tersebut.

Ini kejahatan kemanusiaan. Cukup sudah kita main-main dengan data orang miskin. Orang miskin ini kita abaikan bertahun-tahun, hanya karena urusan administrasi, urusan KTP, urusan aturan ini dan aturan itu. Nyawa taruhannya,” tegas Melki dengan suara bergetar.

Ia menyoroti praktik pengelolaan data kemiskinan yang dinilainya kerap dipengaruhi kepentingan politik dan birokrasi, sehingga menyebabkan warga miskin kehilangan hak dasar mereka sebagai warga negara, termasuk akses terhadap bantuan sosial.

Yang seharusnya masuk data miskin tidak dimasukkan hanya karena urusan politik. Tidak dukung kepala desa, tidak dukung caleg, tidak dukung bupati, gubernur, bahkan presiden. Ini semua harus dihentikan. Yang miskin, tulis miskin. Sudah,” ujarnya.

Gubernur Melki menyebut kematian siswa di Ngada sebagai peringatan keras bahwa negara dan pemerintah daerah telah gagal menjaga warganya. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi pembiaran terhadap warga miskin hanya karena persoalan administratif.

Jangan lagi kita berpura-pura di republik ini, di NTT ini. Jangan karena kita pegang kuasa, orang miskin yang tidak sejalan secara politik lalu kita abaikan. Korbannya seperti anak ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Melki juga membandingkan penanganan darurat di sektor kesehatan dengan sektor perlindungan sosial. Ia menyinggung regulasi kesehatan yang mewajibkan fasilitas kesehatan menangani pasien gawat darurat tanpa syarat administrasi, yang menurutnya belum diterapkan secara tegas dalam urusan data kemiskinan.

Di sektor kesehatan, orang masuk IGD harus ditangani tanpa tanya uang, tanpa tanya KTP, tanpa tanya BPJS. Kalau tidak diurus, bisa dituntut pidana. Tapi di urusan data kemiskinan, model seperti ini belum kita atur. Ini yang harus kita benahi,” tegasnya.

Gubernur Melki menyatakan akan mengambil tanggung jawab penuh atas pembenahan data kemiskinan di NTT. Ia memastikan akan segera menggelar rapat dan mengambil keputusan tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti mempermainkan data warga miskin.

Saya sudah minta teman-teman di Jakarta. Mau saya dimaki, mau saya disalahkan, saya tidak urus. Ini tanggung jawab saya sebagai gubernur. Besok kita rapat dan saya akan putuskan. Siapa yang bermain dengan data kemiskinan, harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia bahkan menyatakan kesiapan menanggung segala konsekuensi politik dan hukum demi memastikan peristiwa serupa tidak terulang.

Saya siap disalahkan, saya siap menanggung konsekuensi apa pun. Jangan lagi ada orang mati sia-sia seperti ini. Saya pakai kata mati, bukan meninggal, karena ini menggambarkan betul kematian anak itu,” katanya.

Menurut Melki, kematian siswa tersebut sangat ironis karena dipicu oleh persoalan dasar yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, yakni akses terhadap pendidikan.

Hanya karena urusan buku dan bolpoin. Padahal itulah tulang punggung yang membuat kita menjadi manusia yang pintar,” ucapnya.

Gubernur Melki juga mengajak seluruh kepala daerah, Forkopimda, dan pemegang kekuasaan di NTT untuk melakukan pertobatan bersama dan mengembalikan nilai solidaritas serta gotong royong yang menjadi karakter masyarakat NTT.

Kita boleh miskin secara materi, tapi kita tidak boleh miskin kepedulian. Solidaritas dan gotong royong itu tidak boleh hilang,” tegasnya.

Ia meminta agar masyarakat saling menjaga, memperhatikan lingkungan sekitar, tetangga, dan keluarga, agar tidak ada lagi warga yang terabaikan hingga kehilangan nyawa.

Jaga kiri kanan kita, jaga tetangga, jaga keluarga. Kalau tidak, percuma kita bangun banyak hal, kalau ujungnya orang mati seperti ini,” katanya.

Menutup pernyataannya, Gubernur Melki menyebut kritik keras yang diterima pemerintah sebagai tamparan yang harus diterima dengan lapang dada.

Hari ini orang maki gubernur, maki bupati, maki orang NTT. Kita terima itu sebagai tamparan keras. Tapi ke depan, data kemiskinan dan kepedulian kita harus dijaga. Jangan lagi ada korban seperti ini. Cukup ini yang terakhir,” pungkasnya.


Editor: Ocep Purek 



TAGS

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.